LOGIN王都アルヴェリアで噂される、夜の水辺に現れる怪異。血を失い、笑みを浮かべた死体。不自然に残された足跡。 そして黒髪の女を思わせる手がかり。王国の治安を担う第三王子ルシアンは、婚約者である侯爵令嬢セレネと共に調査へ乗り出す。誰もが怯える怪異を前にしても、感情を表に出さないセレネは取り乱さない。事件を追うほど、ルシアンは怪異の名を借りた人の悪意と、人の理では説明できない存在に近づいていく。感情を閉ざした令嬢と、彼女を理解したい王子が真実を暴く、異世界ミステリー×怪異ホラー×不器用な溺愛ストーリー。
View More“Kau harus jaga adik-adikmu,” ucap Pangeran Zhao Kong. “Sepertinya Ayah tak bisa menemanimu lagi.”
“Kenapa, Ayah?” tanya Zhao Shing.
“Ingat! Kau harus kuat dan tetap hidup. Apapun yang terjadi,” Pangeran Zhao Kong sengaja tidak menjawab pertanyaan anaknya. “Turuti perintah paman Empat Pendekar Wangi dan jaga adik-adikmu.” Mata Pangeran Zhao Kong mulai berbinar.
“Kenapa, Ayah? Apa karena Paman Pangeran Zhao You akan mencelakai Ayah?” kejarnya.
“Kau hanya perlu tetap hidup! Itu saja,” kata Pangeran Zhao Kong sembari memeluk anaknya. “Dan jaga adik-adikmu,” ucapnya dengan suara berat. Air mata mulai mengalir dari matanya.
Zhao Shing pun menangis kecil. “Aku mengerti, Ayah,” ujarnya di sela-sela tangisannya.
“Pengawal! Bawa pangeran ke kamarnya!” seru Pangeran Zhao Kong. Dia berbalik badan melepaskan pelukannya dan berjalan menjauh tanpa melihat Zhao Shing. Air matanya mengalir deras di pipinya. Hatinya tersayat sedih, tapi apalah daya, inilah yang terbaik bagi mereka.
Zhao Shing melihat punggung ayahnya dengan tangis tanpa suara. Meski baru berusia empat belas tahun, Zhao Shing memiliki kedewasaan di atas rata-rata.
Dia tahu betul kesulitan ayahnya, juga kasih sayangnya. Dia menangis tersedu-sedan memandang tubuh ayahnya yang perlahan menghilang. Dengan sisa tenaganya dia berteriak: “Ayaaah!!!”
****
Setelah Dinasti Tang jatuh pada tahun 907 M, terjadi pepercahan politik yang mematikan. Di era ini terdapat Lima Dinasti dan Sepuluh Kerajaan yang secara bergantian menguasai pusat pemerintahan di Daratan Tengah China.
Peperangan terus berkobar tiada henti, rakyat menjadi sengsara. Kekuasaan ibarat pisau, semakin diasah akan semakin tajam hingga menimbulkan kebanggaan dan kesombongan.
Orang-orang yang berkuasa sejak zaman dulu selalu terkubang dalam dua watak; baik menghasilkan kemakmuran, jahat menambah penderitaan.
Alhasil, dalam kurun waktu 53-54 tahun (907-960 M) rakyat tidak mengenal kesejahteraan. Tapi langit memang baik hati, para dewa mendengar keluh kesah rakyat.
Pada tahun 960 berdirilah Dinasti Song, sekaligus mengakhiri zaman Lima Dinasti dan Sepuluh Kerajaan. Orang yang terbit menjadi pahlawan adalah Zhao Kuangyin, anak seorang pejabat militer, Zhao Hongyin.
Namun, kisah kali ini tidak sedang menceritakan kegemilangan Kaisar Song Taizu (Zhao Kuangyin) mendirikan Kekaisaran Song.
Kisah ini bercerita tentang seorang pemuda yang baru terlahir enam puluh tahunan setelah masa hidup Kaisar Song Taizu. Ya, sudah bisa ditebak, dialah Zhao Shing, salah satu pangeran Dinasti Song.
****
Di pinggiran Ibukota Kekaisaran Song, Bianjing (Kaifeng). Rumah megah berpintu merah berdiri jumawa. Ukir-ukiran naga menambah angker kemegahan rumah itu.
Di depan pintu gerbang, ada beberapa puluh pengawal berjaga-jaga. Tubuh mereka tegap dan kuat. Sepertinya mereka adalah prajurit-prajurit pilihan yang memiliki kepandaian tidak sedikit.
Setiap hari rumah besar itu selalu dijaga ketat, apalagi letaknya jauh dari pusat kota. Dilihat dari struktur bangunannya yang kokoh; tembok beton, atap buatan dan gerbang utama yang besar, tampaknya rumah itu bukan kediaman orang sembarangan.
Keyakinan itu semakin kuat saat mengetahui di dalam rumah itu ada Empat Pendekar Wangi sedang duduk santai menikmati arak. Empat Pendekar Wangi dikenal di kalangan dunia persilatan karena kelihaian mereka memainkan pedang.
Jika dilihat dari gerakannya yang kadang cepat dan seketika lambat, jurus pedang mereka berasal dari luar perbatasan. Jurus pedang mereka terbilang unik, sangat berbeda dengan jurus pedang yang berasal dari Wuling, Mufu, Liangzi, ataupun Jingshan.
Empat Pendekar Wangi semakin tersohor saat berhasil mengalahkan Lima Pendekar Utara yang terkenal bengis. Pertarungan di Xingyuan yang berlangsung ketat itu telah menjadi buah bibir rakyat Xi Xia, bahkan dipentaskan dalam opera-opera mini di sana.
Tapi yang jadi persoalan, kenapa mereka berada di rumah besar itu? Empat Pendekar Wangi terkenal tidak pernah mau turut campur masalah kerajaan, apalagi yang bukan berasal dari wilayanya. Maka, itu sungguh mengherankan.
Pria berpakaian paling kelimis dengan wajah tampan tersenyum. Dia adalah kakak pertama dari empat bersaudara itu. Namanya adalah Bu Peng. Katanya: “Selama ini kita mengasingkan diri dari urusan kekaisaran, tapi kali ini tidak mungkin lagi mengelak.”
“Benar, mau tidak mau kita mesti terlibat,” kata Bu Liak, adik terakhir dari Empat Pendekar Wangi. Dia dikenal paling cerdas dalam bersikap.
“Ya, memanglah demikian adanya, mau tidak mau,” sambung saudara kedua, Bu Sengku.
“Aku kira inilah yang patut kita lakukan, Pangeran Ketiga adalah saudara angkat kita. Dia pun orang yang berbudi. Kita harus membantunya,” giliran Bu Huang, saudara ketiga dari Empat Pendekar Wangi.
Keempat jago persilatan yang sangat tersohor ini terlihat gugup. Mereka datang atas permintaan Pangeran Ketiga dari Kekaisaran Song, Zhao Kong. Empat Pendekar Wangi dan Pangeran Zhao Kong merupakan saudara angkat.
Pangeran Zhao Kong adalah putra Kaisar Song Renzong dari Selir Cao. Meskipun Zhao Kong seorang putra raja, dia lebih senang hidup mengembara di luar istana.
Sejak kecil dia sudah menyukai seni bela diri. Kegemaran itulah yang membuatnya gemar berkeliling mencari ahli silat dan belajar darinya.
Di usia yang terbilang muda, Pangeran Zhao Kong telah mencapai tingkat luar biasa dalam ilmu silat, meski belum setara dengan Delapan Raja Dunia Persilatan.
Di dunia persilatan dikenal istilah Delapan Raja Dunia Persilatan karena kemampuan mereka cenderung seimbang.
Mereka adalah Ketua Agung Sekte Istana Air, Xiao Bojing; Ketua Perguruan Wuling, Kong Kuanyin; Ketua Perguruan Mufu, He Jinhai; Ketua Perguruan Danau Liangzi, Jia Lihua; Ketua Lembah Naga Biru, Mu Long Bui; Kepala Kuil Qishi, Biksu Liu Sing Ming; Ketua Lembah Ular, Da Bolin, dan Ketua Sekte Hutan Batu yang telah lama menghilang, Fu Gang.
Di antara mereka, hanya Jia Lihua yang seorang perempuan, dan berusia paling muda.
Saat ini entah bagaimana Pangeran Zhao Kong harus bersikap, bahagia atau khawatir? Beberapa hari yang lalu, Kaisar Renzong, ayahnya, mengangkatnya sebagai Putra Mahkota. Dia yakin kakaknya, Zhao You tidak senang dan akan melakukan tindakan gila.
Pangeran Zhao Kong tahu betul watak keras saudara tuanya. Apalagi dia hanya anak seorang selir, sementara kakaknya putra permaesuri. Karena itulah, kemarin sore dia bersama tiga anaknya memilih meninggalkan istana dan pindah ke pinggiran kota.
Pangeran Zhao Kong sudah mencium bau tidak sedap. Bisa dikatakan dia sudah meyakini tindakan yang akan dilakukan kakaknya. Untuk memastikan takhta raja, kakaknya akan melakukan apapun, bahkan membunuh seluruh keluarga adiknya.
Hal yang paling mengganggu pikiran Pangeran Zhao Kong adalah keselamatan ketiga anaknya; Zhao Shing, Zhao Rong dan Zhao Ming.
Pangeran Zhao Sing sudah berusia empat belas tahun, sementara kedua adiknya masih berusia lima tahun. Mereka adalah kembar dengan kelamin berbeda, Zhao Rong perempuan dan Zhao Ming laki-laki.
Sementara ibu mereka, Putri Li Ming telah meninggal satu tahun yang lalu sebab penyakit misterius. Banyak yang percaya bahwa Putri Li Ming diracun oleh Permaesuri Yi Thing, ibu Pangeran Zhao You.
Pintu tergebrak, seorang pria tua berpakaian pelayan lari ke arah Empat Pendekar Wangi. Disusul tujuh pengawal yang berjaga di luar. Empat Pendekar Wangi dan para pelayan berdiri. Wajah mereka pias karena cemas. Mereka telah mengerti apa yang terjadi di luar.
Pelayan tua itu menjura dengan nafas tersengal-sengal, “Gawat, Tuan, orang-orang suruhan Pangeran Zhao You telah menggempur di depan!”
「……お会いしたかったのです、セレネ様」 その声は、水面へ落ちる雫みたいに静かだった。 ルシアンは小さく目を細める。初対面の相手へ向ける声にしては、あまりに深い。まるで長い間、胸の奥で大切にしていた名前を、ようやく口にしたみたいだった。「私に、ですか?」 セレネが少し戸惑ったように尋ねる。その瞬間、エレノアの瞳がぱっと明るくなった。「はい……!」 思わず熱が零れたような声だった。「ずっと、お会いしてみたかったんです。学院でのお話も少しだけ聞いていましたし、その……」 エレノアはそこで言葉を詰まらせる。頬が薄く赤い。細い指が落ち着かなさそうに杖を握り直した。「とても、お綺麗な方だと……」 セレネが少し困ったように瞬きをする。「ありがとうございます」「い、いえ。こちらこそありがとうございます」 何に対して礼を言っているのか分からない。フェリクスが堪えきれないように小さく笑った。 ルシアンは黙ってエレノアを見る。先ほどまでの儚げな雰囲気が、セレネを前にした途端に崩れている。分かりやすすぎた。「本当は……」 エレノアは小さく息を吸った。「お姉さまとお呼びしたいくらいで……」 部屋の空気が止まった。 セレネが固まる。フェリクスが吹き出しそうになるのを堪えるように口元を押さえた。ルシアンは無言でエレノアを見る。 エレノアは、自分が口にした言葉に遅れて気づいたらしい。みるみる顔を赤くした。「あ、いえ、その……申し訳ありません。初対面でこんなことを」「いえ……驚きましたが」 セレネが少しだけ柔らかく笑う。「嫌ではありません」 エレノアの瞳が、またぱっと明るくなった。「本当ですか?」「はい」「では、いつか本当に――」 そこまで言って、エレノアははっと口を閉じた。 ルシアンは眉を寄せる。この令嬢は、思っていたよりずっと感情が顔へ出る。少なくとも、セレネに対してだけは。 エレノアはようやくルシアンへ視線を向け、姿勢を正した。「失礼いたしました、ルシアン殿下。フェリクス殿下も、ようこそお越しくださいました」 今度の声は落ち着いていた。先ほどまでの熱は綺麗に消えている。「足の具合は?」 フェリクスが穏やかに尋ねる。「だいぶ良くなりました。まだ長く歩くのは難しいのですが」 エレノアは儚げに微笑んだ。さっきまでセレネへ向
ローディア公爵家へ向かう馬車には、ルシアン、セレネ、フェリクスの三人だけが乗っていた。 エドガーは王城へ残してある。レイモンド・グラディス伯爵の交友関係、学院事件当日の記録、ローディア家主催の夜会名簿。調べるべき資料は、まだ山ほどあった。 馬車が石畳を踏むたび、小さく揺れる。向かい側では、セレネが静かに窓の外を見ていた。 今日は珍しく髪を上げている。後ろで編み込まれた黒髪の隙間から、白い首筋が覗いていた。窓から差し込む昼の光が、淡い青銀色のドレスへ落ちるたび、水面みたいに柔らかく光る。 ルシアンは無意識に視線を止めた。 その瞬間、昨夜、指先へ触れた黒髪の感触が不意に蘇る。柔らかかった。思い出した瞬間、自分で少し眉を寄せる。「……顔が怖いよ、ルシアン」 隣でフェリクスが笑った。「別に」「いや絶対、今セレネ嬢見てたでしょ」「兄上」 フェリクスは楽しそうに肩を竦める。セレネは聞こえていないふりをして窓の外を見続けていたが、耳が少しだけ赤い。 ルシアンは気づいていない。「そういえば」 フェリクスがふと思い出したように口を開いた。「ローディア家が、昔から学院へ深く関わっているのは知ってるかな?」 セレネが静かに視線を向ける。「図書塔を管理するための支援も、代々ローディア家が行っていますね」「そうそう」 フェリクスは軽く頷いた。「僕も研究者として図書塔はよく使うからね。王城にはない古い写本や地方記録も、学院側には残ってたりする」「王城にないものが?」 ルシアンが眉を寄せる。「王城は、残すべきものを管理する場所だからね。でも学院は少し違う」 フェリクスは窓の外を眺めながら笑った。「捨てきれなかったものまで抱えてる」 ルシアンは小さく目を細める。 地下礼拝堂。削られた壁画。顔を壊された女神像。黒き髪は、ノクシアの器。あれもまた、誰かが捨てきれなかったものなのかもしれない。「ローディア家は、古い知識に近い家だ」 フェリクスが続ける。「歴史、宗教、禁書、地方信仰……そういうものを代々集めてきた」「だからアルバート教師とも繋がりがあった可能性があるのか」「十分あり得るね」 セレネが静かに呟く。「知識を集める家、ですか」 ローディア公爵家は、五大公爵家の中でも特別な立場にある。 一方で、北方防衛を担うヴァルフォード
昼を少し過ぎた頃。王族区画の執務室には、紙をめくる音だけが静かに響いていた。 ルシアンは机へ肘をつきながら、エドガーが整理した資料へ視線を落としている。向かい側では、フェリクスが紅茶を片手に書類を眺めていた。そしてエドガーはというと、几帳面な性格そのままに、机の端で資料を分類している。「アストレア公爵家の令嬢が足を怪我したのは三日前です」 エドガーが静かに口を開いた。「階段から落ちたと記録されています」「偶然にしては出来すぎてるな」 ルシアンは眉を寄せる。 地下礼拝堂。杖の跡。そして公爵家の紋章入りのハンカチ。疑うには十分すぎた。だが同時に、どこか噛み合わない感覚も残っている。「本人へ直接確認するしかないだろ」「今日、公爵家へ行くの?」 フェリクスが紅茶を置きながら尋ねた。「ああ。話を聞く」「王族特務隊として?」「表向きはな」 ルシアンがそう答えた時だった。コンコン、と扉がノックされる。「失礼します。遅くなりました」 静かな声と共に扉が開いた。 セレネだった。淡い青銀色のドレス。昼の光を受けると柔らかく色が変わる、落ち着いた明るい色合いだ。装飾は控えめだが、上質な生地なのがすぐ分かる。 そして何より目を引いたのは髪だった。いつもは下ろしている長い黒髪を、今日は後ろで丁寧に編み込み、すっきりとまとめている。白い首筋が見えていた。 入室したセレネが軽く一礼する。その姿を見た瞬間、昨夜、指先へ滑った黒髪の感触が不意に蘇る。柔らかくて、驚くほど軽かった。ルシアンの視線が自然と止まった。「……髪」 ぽつりと漏れた声に、セレネがきょとんと目を瞬く。「え?」「今日は上げてるんだな」 セレネが明らかに驚いた顔をする。まさかそこを指摘されると思っていなかったのだろう。「……よく気づきましたね」「いや、普通に分かるだろ」「ルシアンが女性の髪型に気づくなんて珍しいねぇ」 フェリクスが面白そうに笑う。ルシアンは露骨に眉を寄せた。「うるせぇ」「いやだって、本当に興味ないタイプじゃん?」「兄上」「昨日何かあった?」「何もねぇよ」 即答だった。だが、少しだけ返答が早すぎた。 フェリクスが楽しそうに目を細める。セレネはというと、ほんの少しだけ視線を逸らしている。白い頬が、僅かに赤い。 だがルシアンは気づいていない。「そ
地下水路を出た頃には、空が白み始めていた。 夜明け前の王城は静かだった。昼間の喧騒が嘘みたいに、人の気配が少ない。地下の湿った空気から戻ってきたせいか、石造りの回廊を流れる朝の冷気が妙に心地よく感じた。ルシアンは軽く息を吐く。 身体が重い。 王都の噴水で遺体が見つかってから、まともに眠れていない。学院での事件。王城で倒れた女官。禁書区域で見つけた古い記録。そして地下水路。気づけば、夜は明けかけていた。 隣を歩くセレネも、さすがに疲れているらしい。濡れた黒髪がまだ完全には乾いていない。地下水路の湿気をまとったまま、静かな顔で歩いている。フェリクスが小さく肩を竦めた。「今日はここまでにしようか。さすがに頭が働かない」「兄上でもそんなこと言うんだな」「失礼だなぁ。僕だって疲れるよ」そう言いながらも、フェリクスの表情はどこか楽しそうだった。「地下礼拝堂、面白かったしね」「面白いで済ませるな」「でも久々だろ? ルシアンがこんなに夢中になってるの」 ルシアンは小さく眉を寄せる。否定しようとしたが、言葉が出なかった。確かに気になっていた。王城の地下に、あんな場所が残っていたことも。誰かが今も使っている形跡があることも。全部が妙に引っかかっていた。「じゃ、僕は一度部屋へ戻るよ。また昼頃に」フェリクスは軽く手を振ると、そのまま別の回廊へ消えていった。 静けさが残る。ルシアンは隣のセレネを見る。「お前も休め」「殿下こそ」「俺はまだ執務が残ってる」セレネは少しだけ呆れたような顔をした。「少しはお休みください」「努力はする」 絶対休まない返答だった。セレネも分かっているのか、小さく息を吐いた。「……無理はなさらないでください」「お前もな」 短いやり取りの後、二人はそれぞれ別の回廊へ向かう。 婚約者であるセレネには、王城内に専用の居室が与えられていた。正式な婚姻前とはいえ、王族教育や公務補佐のため、半ば王族扱いに近い立場なのだ。ルシアンはそのまま執務室へ戻った。部屋へ入った瞬間、ようやく肩の力が抜ける。 机の上には、エドガーが整理したらしい資料が既に積み上がっていた。几帳面すぎるほど整っている。「……仕事早ぇな」ルシアンは適当に一枚手に取る。だが文字が頭へ入ってこない。視界が霞む。 限界だった。 ルシアンは低く息を吐くと、
王城を出た頃には、空が薄く白み始めていた。 雨は完全に上がっていた。けれど王都の石畳には、まだ昨夜の雨を吸ったままの水溜まりがあちこちに残り、灰色がかった空をぼんやりと映している。馬車の車輪が、その上を通るたびに低く軋み、轍が浅く水を弾いて、また背後に小さな水紋を作っていった。 ルシアンは窓の外を見つめながら、小さく息を吐いた。眠気はない。だが、頭の奥には、昨夜の噴水が、まだ濃く焼き付いて離れなかった。 笑う死体。血のない身体。そして、揺れる水面に一瞬だけ映った、長い黒髪の女。 目を閉じれば、すぐに浮かぶ。瞼を上げれば、向かいの窓硝子に、湿った朝の街が、ぼんやりと映って流れていた。
一瞬、部屋が静まり返った。 暖炉の薪がぱちりと爆ぜる音だけが、やけに大きく耳に残る。窓の外はまだ夜の名残を引きずる薄青で、雨上がりの湿った匂いが、開け放たれた扉の隙間から忍び込んでいた。「……は」 ルシアンの手が、握りかけていた書類の上で止まる。「もう次が出たのか」 声に、抑えきれない苛立ちが滲んでいた。「は、はい」 報告に来た騎士の顔は、ランプの光の下でも分かるほど青ざめていた。雨に濡れた外套の裾から、絨毯に小さな滴が落ちる。「最初の被害者と同じです。血液がほとんど──失われています」 言葉の最後が、掠れた。 誰かが、息を呑む音。空気が、ぴんと張り詰める。 ルシアン
王城へ戻った頃には、空が白み始めていた。 夜明け前の薄青い光が、長い廊下の窓から差し込んでいる。雨は王城に着く頃にはほとんど止んでいて、回廊の硝子窓の外では、最後の細かい霧雨が、灰色がかった青の空気の中を、まだゆっくりと落ちていた。廊下の燭台はほとんど落とされ、残った一つだけが、回廊の角で低く揺れていた。蝋の溶けた匂いが、湿気を含んだ空気の中にかすかに残っている。ルシアンは外套を脱ぎながら、小さく息を吐いた。眠気はない。だが、胸の奥に嫌な感覚だけが残っていた。 雨に濡れた噴水の縁で、不自然に笑ったまま動かなかった死体。そして、水面に一瞬だけ映った、長い黒髪の女。どちらも、目を閉じれば瞼
「何かを起こそうとしているのですね……」 雨音に紛れるほど、小さな呟きだった。けれど、ルシアンの耳には確かに届いていた。 セレネはまだ水面を見つめている。揺れる水鏡。雨粒が次々と落ち、波紋が幾重にも重なって、新しい紋様が古い紋様を押し潰し、また別の雨粒が落ちて、ひと時も平らに戻らない。先ほど、確かにそこに映って見えた女の姿は──もう、どこにもなかった。 錯覚だったのか。 そう思おうとしても、背筋に残る寒気が消えない。外套の襟元から、いつのまにか冷たい水が一筋、首筋を伝って背中へ落ちていた。皮膚を伝う雨の温度よりも、もっと内側、肋骨の奥のあたりが、ひとり冷えていた。「何が起ころうとし