Masuk藤崎麗奈は広告業界のエースだった。 しかし婚約者の裏切り、上司の陰謀――濡れ衣を着せられ、冷たい雨の中、会社を追われた。すべてを失った彼女に、奇跡的な転機が訪れる。外資系コンサルティング会社でのキャリア。そして、驚異的な成功。 二年後、業界の伝説となった麗奈に、運命的な依頼が舞い込む。 経営危機に陥った元の会社、東邦広告の再建プロジェクト。プロジェクトリーダーとして派遣された彼女は、かつて自分を陥れた上司と元婚約者の前に立つ。 完璧な復讐のチャンス。しかし、調査を進める中で明らかになる、裏切りの真実。元婚約者もまた、脅迫の被害者だった―― 復讐か、赦しか。麗奈が選ぶ答えは、誰も予想しなかった形で訪れる。
Lihat lebih banyakRahma gelisah, sebentar-sebentar melihat jam dinding. Sudah jam 4 sore waktunya Alif putra semata wayangnya pulang dari sekolah full day. Dia benar-benar tidak fokus lagi bekerja, alat masak masih berantakan di tempat cuci piring, rumah belum disapu dan dipel, baju di jemuran belum diangkat dan digosok.
'Ah ... bodo amat dengan kerjaan ini, mending jemput alif dulu,' pikirnya.
Dia segera meraih kunci motor di atas meja makan.
Baru mau pergi tiba-tiba pintu dibuka. Muncul dari luar sesosok pria mengenakan pakaian kantor, dasinya masih terpasang rapi. Rahma segera menghentikan langkahnya. Lelaki itu menatapnya tajam.
"Mau ke mana?" tanya lelaki itu.
"Walaikumsalam, Pak Bos," jawab Rahma.
Dia terus melangkah dengan santai ke arah pintu.
"Ditanya mau ke mana kok gak jawab!" hardik pria itu dengan nada kesal.
"Pak Bos, kalau baru masuk rumah itu, ucapkan Assalamualaikum dulu," kata Rahma acuh tak acuh.
"Ya suka-suka saya, rumah juga rumah saya!" dengusnya kesal.
"Dibilangin baik-baik kok malah marah," ujar Rahma sambil berlalu.
"Hei, tadi saya tanya mau ke mana? Main pergi saja, lihat ini rumah masih berantakan, beresin dulu!" teriak lelaki itu memerintah.
"Sebentar saya ke luar dulu, mau jemput anak saya di sekolah. Nanti balik lagi ke sini. Oh ya Bos, itu saya sudah masak, Pak Bos makan dulu sepulang jemput Alif, saya lanjutin lagi kerjanya," ucap Rahma.
"Beresin dulu, risih aku. Setelah beres baru jemput anakmu!" Pria itu menatap nanar ke setiap sudut rumah.
"Cuma sebentar, kok. Gak nyampai lima belas menit. Kalau Bos gak suka aku pergi, ya gampang tinggal pecat aja!" dengus Rahma sewot.
Rahma segera berjalan ke arah motornya yang diparkir di halaman, distarter dan tancap gas meninggalkan rumah tipe 90 itu.
Pria itu, Bastian Wibisono mendengus kesal. Tas kerjanya dilemparkan ke atas sofa, dengan kasar dilepaskan dasi yang melilit lehernya dan dibuka semua baju yang melekat di tubuhnya, gerah. Dia segera mengganti bajunya dengan kaos oblong yang bahannya lebih adem.
Baru tiga hari perempuan itu bekerja di rumahnya jadi ART, rumah ini bukannya semakin rapih, malah setiap dia pulang kerja rumah selalu berantakan. Kalau ditegur ancamannya selalu saja minta dipecat.
Bastian merasa menyesal, kenapa kemarin membuat surat perjanjiannya tidak terlalu mengikat. Sejak insiden seminggu yang lalu saat itu dia tengah meninjau lokasi pembangunan mall, mobilnya diparkir di tepi jalan. Tiba-tiba dari arah belakang mendadak mobilnya ditabrak sebuah sepeda motor hingga mobil itu penyok, lampu belakang dan lampu sennya pecah. Pengendara sepeda motor itu adalah Rahma, alasan wanita itu menabrak mobilnya karena sedang terburu-buru menjemput putranya yang sakit di sekolahan. Dia berjanji mau membayar ganti rugi dengan meninggalkan nomor telepon dan KTP.
Selesai memperbaiki mobilnya di bengkel Bastian meminta kwitansi kosong kepada pemilik bengkel dan menyerahkan kuitansi pembayaran itu pada Rahma.
"Masyaallah … benar sebanyak ini?" Wanita itu memekik melihat nominal yang ada di kwitansi.
"Masak cuma penyot sedikit saja ngabisin dana 30 juta?" tanya Rahma tak percaya dengan yang dilihatnya
"Hei, dengar ya mobilku itu mobil mahal, biaya servisnya juga mahal, biar sedikit yang penyok, mobilku harus diketok, dicat ulang, mobil gak sama dengan rumah kalau bagian yang sedikit itu dicat seluruh tubuh mobil juga harus dicat." Bastian menahan emosi melihat tanggapan wanita itu
"Yah sudah, beri saya tempo sebulan ya, buat cari dananya." Rahma lemas tak bersemangat mendengar penuturan lelaki itu.
"Nggak bisa sebulan, saya kasih waktu sampai besok siang." Bastian mengibaskan tangannya bersikap tidak peduli.
"Ya Allah ... masak besok? Mau cari uang di mana saya sebanyak itu kalau besok?" keluh Rahma.
Dia heran melihat tingkah pria di depannya, tidak menyangka pria itu tidak memiliki empati sama sekali.
"Ya itu bukan urusan saya, besok bayar kalau nggak saya laporin polisi."
"Kejam banget sih! Saya minta tempo sebulan, saya mau ngajukan kredit di bank dulu. Lagian, mobil anda itukan bagus, kenapa tidak dicover asuransi?" tanya Rahma mendelik sebal.
Bastian mengernyitkan dahi, sebenarnya memang biaya servis mobilnya dicover sama asuransi, tapi ya....
"Aku tidak punya asuransi, kalau gak kamu tabrak ya gak mungkin aku ngeluarin duit yang gak sedikit seperti ini. Saya tunggu besok ya?"
Bastian bangkit dari duduknya segera berlalu, namun Rahma menahannya, rasanya kok ya gak adil aja menurutnya. Kalau besok ya ... dia gak mungkin bisa mendapatkan uang itu.
"Tolonglah, Pak ... jangan besok, sebulan lagi ya?" Rahma memohon, wajahnya dibuat sememelas mungkin.
"Sebenarnya ada cara kamu tidak perlu membayar dengan uang, cukup bayar pakai tenaga kamu.” Bastian menyunggingkan senyum tipis penuh kemenangan.
"Caranya?" tanya Rahma cepat.
Wajahnya yang memelas berubah menjadi ceria dan berseri mendengar perkataan lelaki itu.
"Jadi pembantuku selama dua tahun."
*****
Bukan tanpa alasan Bastian menjebak Rahma untuk jadi pembantunya, dia sudah dua minggu mencari pembantu yang part time, namun tidak juga ada. Dia sudah memesan ke biro penyalur pembantu, ada pembantu yang bersedia bekerja di rumahnya. Namun dari luar daerah sehingga harus menginap, dia risih jika ada orang yang menginap di rumahnya apalagi perempuan.
Dua minggu di kota ini membuatnya tersiksa, penyakit pencernaannya sering kambuh karena seringnya makan di restoran, padahal dokter sudah menyuruhnya memakan masakan rumahan tanpa MSG dan bahan kimia lainnya. Namun siapa yang memasak? Dia bisa sih memasak masakan sederhana, tapi kesibukannya membuatnya tidak sempat berkutat di dapur. Ingin dia membawa serta Bik Inah pembantunya sejak dia remaja. Namun Bik Ina sudah mengajukan pensiun dan ingin tinggal di panti jompo, yah ... dia juga harus mengerti, Bik Ina sudah sepuh, usianya sudah 65 tahun.
Lima tahun lalu Bastian baik-baik saja, hidupnya bahagia, badannya sehat tanpa kekurangan apapun. Namun semenjak perusahaan yang diwarisi Ayahnya terkena pailit dan bangkrut, hidupnya mulai goyah apalagi semenjak wanita yang dicintai meninggalkannya dalam kondisi terpuruk, hidupnya berantakan berbagai penyakit hinggap di tubuhnya, yang paling akut penyakit pencernaannya, dokter bilang itu akibat stress dan depresi.
Yah ... sakit hati dan luka di jiwanya lebih dalam dibandingkan sekedar penyakit pencernaannya. Jika mengingat wanita itu perutnya mendadak mules, dia pun terkena diare. Ah, ternyata wanita itu hanya mencintai hartanya saja padahal apapun dilakukannya untuk wanita itu, mungkin perusahaannya bangkrut juga karena ulahnya yang menuruti gaya hidup hedon istrinya itu. Ah, sudahlah ... kini Bastian sudah bangkit. Dia mulai merintis lagi usaha konstruksinya dari nol, sekarang proyeknya membangun mall di kota ini.
****
Rahma memacu motornya dengan kecepatan tinggi, dia tidak mau Alif putranya menunggu terlalu lama. Sesampainya di Sekolah Islam Terpadu tempat anaknya belajar, situasi sudah agak sepi, tinggal beberapa orang tua yang menjemput anak mereka. Dilihatnya Alif sedang menunggunya di pos satpam. Melihat Bundanya datang, anak itu segera menyongsongnya dan duduk di boncengan motor.
"Maafin Bunda, ya. Alif lama nunggunya?" tanya Rahma.
"Iya, Bunda. Sekarang Bunda sering terlambat jemput Alif," kata bocah laki-laki yang baru berumur sembilan tahun itu.
"Iya, Bunda sekarang kerja sore di rumah orang,” kata Rahma menjelaskan.
"Memangnya gaji jadi guru kurang ya, Bunda? Kok Bunda kerja sore lagi? Nanti kecapekan."
Ah, anaknya ini selalu perhatian. Itu yang membuat Rahma selalu bersemangat mencari uang tanpa menghiraukan masa mudanya yang tersia-sia. Yah ... kalau dipikir dia memang capek tiga hari ini. Pagi-pagi setelah mengantar Alif ke sekolah dia harus mampir dulu ke rumah lelaki itu mengantar sarapan dan bekal makan siang bos barunya itu. Setelah itu dia pergi mengajar ke sekolah menengah kejuruan yang jaraknya 15 KM, pulang sekolah dia berbenah di rumah lelaki itu lagi, menjemput Alif sekolah dan mengurus rumahnya sendiri, sebuah rumah kredit BTN tipe 36 yang baru dicicilnya tiga kali.
"Ikut yuk, ke rumah majikan Bunda," ajak Rahma pada putranya itu.
Alif anak yang penurut, dia tidak pernah menolak permintaannya. Ah, kalau mengingat Alif dulu, Rahma tak kuasa menahan tangis, anak itu tidak dilahirkan dari rahimnya. Namun dengan adanya anak itu dia merasa memiliki keluarga, memiliki orang yang dia cintai. Alif alasannya hidup dan menghidupi kini.
Entah sampai kapan Rahma akan merahasiakan semua ini dari putranya itu, jika dia bukanlah wanita yang melahirkannya. Kejadiannya sudah bertahun-tahun yang lalu, namun seperti baru terjadi kemarin. Persahabatan yang dijalinnya dari rumah yang sama akan berakhir seperti ini.
それから六ヶ月が経った。 麗奈は、GSC日本代表としての最初の年を、目覚ましい成功で締めくくろうとしていた。新規クライアントは三十社を超え、チームは二倍の規模に拡大した。業界誌は彼女を「日本コンサルティング業界の新時代を切り開く女性リーダー」と評した。 しかし、麗奈にとって最も大きな変化は、仕事ではなく、心の中にあった。 高瀬亮介との関係は、静かに、しかし確実に深まっていった。週末のディナー、時折の旅行、そして何より、互いの仕事を尊重し合いながら過ごす穏やかな時間。 麗奈は、初めて「愛」というものを、恐れずに受け入れられるようになっていた。 五月のある週末、高瀬が麗奈を箱根に誘った。「少し、ゆっくり話したいことがあるんです」 彼の言葉には、いつもと違う真剣さがあった。 二人は、芦ノ湖を見下ろす高台のホテルに宿泊した。 夕暮れ時、高瀬が麗奈をテラスに誘った。 眼下には、夕陽に照らされた芦ノ湖が広がっていた。湖面は、オレンジとピンクの光を反射して、まるで溶けた宝石のように輝いていた。遠くには富士山のシルエットが、空に浮かび上がっていた。「きれいですね」 麗奈は、湖を見つめながら呟いた。「ええ、本当に」 高瀬は答えたが、彼の視線は麗奈に注がれていた。 しばらくの沈黙の後、高瀬が口を開いた。「藤崎さん……いえ、麗奈さん」 彼が名前で呼ぶのは珍しかった。麗奈は、高瀬を見た。「私は、あなたに初めて会った時から、特別な何かを感じていました」 高瀬の声は、穏やかだが、確固たる意志を秘めていた。「それが何なのか、最初は分かりませんでした。尊敬なのか、憧れなのか、それとも……」 彼は、麗奈の手を取った。「でも、時間が経つにつれて、はっきりと分かりました。これは、愛だと」 麗奈の心臓が、激しく鳴り始めた。「あなたは、私が出会った中で最も強く、最も美
三ヶ月後。 麗奈は、GSCの日本代表に正式に就任した。 三十五歳での抜擢は、業界でも大きな話題となった。 彼女のオフィスからは、東京の街が一望できた。 あの日、雨の中で去った東邦広告のビルも、遠くに見えた。「藤崎代表、次の会議の準備ができました」 秘書が、資料を持ってきた。「ありがとう。すぐに行きます」 麗奈は立ち上がった。 デスクの上には、一枚の写真が飾られていた。 高瀬との写真。先月、二人で訪れた鎌倉での一枚。 二人の関係は、ゆっくりと深まっていた。 恋人と呼ぶには、まだ早い。しかし、確かに特別な関係。 麗奈は、もう焦っていなかった。 会議室に向かう途中、窓の外を見た。 青い空。白い雲。穏やかな風。 あの雨の日から、二年半が経っていた。 その間に、彼女は多くのものを失い、多くのものを得た。 そして、最も大切なものを見つけた。 それは、自分自身だった。 夜、麗奈は高瀬と食事をした。「今日、東邦広告から報告がありました」 高瀬が言った。「再建計画は順調で、今期は黒字化の見込みだそうです」「それは良かった」 麗奈は、微笑んだ。「園田社長、頑張っているようですね」「田所さんも、新しい部署で活躍しているそうです」「そう……みんな、前を向いているのね」 麗奈は、ワインを口に含んだ。「高瀬さん、私、最近考えるんです」「何を?」「復讐について」 麗奈は、グラスを見つめた。「私は、復讐を果たしたのでしょうか? それとも、諦めたのでしょうか?」「どちらでもないと思います」 高瀬は答えた。「あなたは、復讐を超えたんです」「超えた?」
プロジェクトの最終報告会が、一週間後に控えていた。 業界関係者、メディア、そして東邦広告の全社員が集まる、公の場での発表。 麗奈は、その報告書の最終稿を書き上げていた。 しかし、最後のページで、彼女の手が止まった。 狩野の不正を公にすることで、東邦広告のイメージは大きく傷つく。それは、無関係の社員たちにも影響を及ぼす。 そして、田所も、その余波を受けることになる。「これでいいのだろうか……」 麗奈は、自問した。 その夜、麗奈は高瀬と食事をした。「報告書、完成しましたか?」「はい……でも、迷っています」 麗奈は、グラスを見つめた。「狩野の不正を完全に公にすれば、会社は大きなダメージを受けます。でも、隠蔽すれば、また同じことが繰り返される」「難しい判断ですね」「高瀬さんなら、どうしますか?」 高瀬は、しばらく考えた。「藤崎さん、あなたは何のためにこのプロジェクトを受けたんですか?」「それは……」「復讐のためですか? それとも、会社を救うためですか?」 麗奈は、答えられなかった。「両方だと思います」「では、どちらを優先しますか?」 麗奈は、深く息を吸った。「私、分かりました」 彼女は、高瀬を見た。「私は、復讐を選びません」「本当にいいんですか?」「はい。狩野の不正は明らかにしますが、それを復讐の道具にはしません」 麗奈は、決意を固めた。「会社を救うこと。それが、私の本当の目的です」 最終報告会の日。 会場には、三百人以上の関係者が集まっていた。 麗奈は、壇上に立った。「皆様、本日は東邦広告の経営再建プロジェクトの最終報告をさせていただきます」 彼女
臨時取締役会の日。 東邦広告の本社会議室には、すべての取締役と、主要株主、そして監査法人の代表が集まっていた。 麗奈は、プロジェクトチームと共に、最終報告を行う準備をしていた。「藤崎さん、準備はいいですか?」 ロバートが確認した。「はい。すべて整っています」 麗奈は、資料を確認した。狩野の不正の証拠、田所の脅迫の記録、そして過去五年間の組織的問題の分析。 会議室に入ると、狩野達也が既に席に着いていた。 彼は、麗奈を睨みつけていたが、その目には明らかな恐怖が宿っていた。「それでは、GSCからの最終報告を始めます」 園田社長が議事を開始した。 麗奈は、壇上に立った。「皆様、本日は東邦広告の経営再建プロジェクトの調査結果を報告させていただきます」 スクリーンに、最初のスライドが映し出された。「当社の調査により、営業本部において重大な不正行為が発覚しました」 会議室がざわついた。 麗奈は、一つずつ証拠を提示していった。 架空の経費報告。不正な契約。クライアントへの虚偽報告。そして、横領。 すべての証拠が、狩野達也を指し示していた。「さらに、これらの不正行為を隠蔽するため、部下への脅迫と責任転嫁が行われていました」 麗奈は、田所に関する資料を提示した。「田所次長は、家族を人質に取られ、不正行為への加担を強要されていました」 会議室は、静まり返っていた。「そして……」 麗奈は、深く息を吸った。「二年前のミラノプロジェクトの失敗についても、同様の構図がありました」 スクリーンに、当時のプロジェクト資料が映し出された。「当初の戦略は、綿密な市場分析に基づいた優れたものでした。しかし、最終段階で大幅な変更が加えられ、その結果、プロジェクトは失敗しました」 麗奈は、狩野を見た。「その責任は、当時
麗奈は、すべての証拠を園田社長に提出した。 社長室で、ロバートと高瀬も同席する中、麗奈は冷静に報告を行った。「狩野本部長による横領の総額は、三千二百万円に上ります」 麗奈は、証拠書類を一つずつ提示した。「さらに、複数のプロジェクトで意図的な情報操作と、部下への責任転嫁が確認されました」 園田社長の顔は、蒼白だった。「そんな……狩野が……」「そして、もう一つ」 麗奈は、田所に関する資料を取り出した。
狩野達也との面談は、午後三時に予定されていた。 麗奈は、会議室で資料を広げながら、深呼吸を繰り返していた。二年間待ち続けたこの瞬間。しかし、彼女は自分に言い聞かせた。 これは復讐ではない。これは仕事だ。 ドアがノックされた。「失礼します」 狩野達也が入ってきた。 五十歳。灰色の髪を綺麗に整え、高級スーツを着こなした男。表面的には、成功したビジネスマンの雰囲気を漂わせていた。「GSCの藤崎さんですか」 狩野は、麗奈の顔を見て、一瞬動きを止めた。しかし、すぐに笑顔
プロジェクトが本格的に始まった。 麗奈とチームは、東邦広告の全部署へのヒアリングを開始した。財務部、人事部、クリエイティブ部、そして営業部。 麗奈の手法は、徹底的だった。単なる表面的なインタビューではなく、社員一人ひとりの本音を引き出すための質問を重ねた。「あなたは、この会社の最大の問題は何だと思いますか?」「もし、あなたが社長なら、最初に何を変えますか?」「この会社で、最も尊敬している人は誰ですか? そして、最も信頼できない人は?」 最後の質問に、多くの社員が同じ名前を挙げた。
東邦広告のエントランスに足を踏み入れたとき、麗奈は不思議な感覚に襲われた。 すべてが記憶の通りだった。受付の位置、壁の色、待合ソファーの配置。しかし、同時にすべてが違って見えた。 二年前、彼女はここを段ボール箱を抱えて出て行った。今、彼女は三人のチームメンバーを従えて、プロジェクトリーダーとして戻ってきた。「GSCの藤崎です。社長との面談をお願いしています」 受付嬢は、麗奈の名刺を見て目を見開いた。「ふじさき……様?」 彼女は麗奈の顔を二度見した。明らかに、記憶の