เข้าสู่ระบบ藤崎麗奈は広告業界のエースだった。 しかし婚約者の裏切り、上司の陰謀――濡れ衣を着せられ、冷たい雨の中、会社を追われた。すべてを失った彼女に、奇跡的な転機が訪れる。外資系コンサルティング会社でのキャリア。そして、驚異的な成功。 二年後、業界の伝説となった麗奈に、運命的な依頼が舞い込む。 経営危機に陥った元の会社、東邦広告の再建プロジェクト。プロジェクトリーダーとして派遣された彼女は、かつて自分を陥れた上司と元婚約者の前に立つ。 完璧な復讐のチャンス。しかし、調査を進める中で明らかになる、裏切りの真実。元婚約者もまた、脅迫の被害者だった―― 復讐か、赦しか。麗奈が選ぶ答えは、誰も予想しなかった形で訪れる。
ดูเพิ่มเติมBab 1
Langkahnya tertatih menyusuri lorong rumah sakit. Sesekali ia berhenti saat perut bagian bawahnya terasa perih. Namun ia harus kuat demi menyusul suami dan ibu mertuanya yang sudah berjalan jauh, bahkan mungkin sudah keluar dari pelataran rumah sakit ini.Sembari menggendong bayinya, Zakia terus melangkah. Sebelah tangannya menyeret tas berisi perlengkapannya dan bayinya. Seorang lelaki muda berpakaian putih-putih berlari kecil menyusul dan meraih tas besar itu, lalu menyuruh Zakia duduk di kursi roda yang dibawanya.Lelaki muda itu mendorong kursi roda, hingga akhirnya keluar dari pelataran rumah sakit, menyusuri halaman dan berhenti di sisi mobil yang akan membawa Zakia pulang ke rumah. Suami dan ibu mertuanya berdiri di samping mobil dengan wajah cemberut."Kenapa lama sekali, Zakia? Kemana aja sih kamu?! Jalan kok lelet amat. Mama sudah tidak sabar ingin segera pulang. Kamu ini ya, dua hari di rumah sakit merepotkan saja," sembur wanita paruh baya itu. Marina tak perduli dengan kehadiran seorang laki-laki berpakaian putih yang tegak berdiri di belakang kursi roda yang ditumpangi oleh Zakia."Maaf, Bu, tolong jangan bersikap kasar dengan ibu ini. Kasihan. Beliau baru saja melahirkan...." Lelaki berseragam putih itu angkat bicara. Dia menatap Zakia dengan iba."Apalagi beliau melahirkan secara caesar. Saya lihat tadi beliau membawa tas besar. Bu, lain kali tolong jangan dibiarkan Ibu ini membawa sendiri barang-barang yang berat. Beliau belum boleh membawa beban yang berat, takut akan membahayakan jahitan di perutnya," ujar lelaki itu panjang lebar dengan intonasi suara yang tetap sopan."Kamu ini siapa, hah? Sadar diri dong! Apa hak kamu turut campur dengan urusan keluarga saya?! Tugas kamu hanya melayani pasien, karena kamu hanya petugas di rumah sakit ini!" omel Marina yang langsung tersulut emosinya."Saya hanya mengingatkan, Bu. Sudah kewajiban kami untuk mengingatkan keluarga pasien agar merawat pasien dengan baik pasca perawatan di rumah sakit, apalagi kondisi ibu ini belum sepenuhnya pulih...." Dia membela diri."Sudahlah, Ma. Sebaiknya kita segera pulang," tegur Yudha, suami Zakia menengahi."Dan kamu, Zakia, segera masuk ke mobil!" perintahnya seraya menatap tajam istrinya.Zakia menurut. Dia bangkit dari kursi roda itu, kemudian masuk ke mobil dengan gerakan perlahan. Sesekali ia meringis. Benar, kondisinya memang belum pulih. Rasa nyeri akibat operasi caesar yang dijalaninya dua hari yang lalu masih terasa. Namanya juga operasi. Tidak mungkin sim salabim langsung sembuh total walau metode dan obat secanggih apapun.Masih dengan wajah masam, Yudha membawa masuk tas besar berisi perlengkapan istri dan bayinya ke dalam mobil, sementara Marina sudah lebih dulu masuk ke dalam mobil. Mobil meluncur meninggalkan area rumah sakit."Makanya itu. Jangan sok-sokan jadi perempuan manja. Kodratnya wanita itu ya, melahirkan. Sakit emang sakit, tapi harus bisa ditahan." Marina terus saja mengomel sepanjang perjalanan."Aku bukannya nggak bisa menahan sakit, Ma. Aku pun juga ingin melahirkan secara normal, tapi dokter sudah memvonis aku untuk melahirkan secara caesar, karena kalau dipaksakan melahirkan secara normal, akan membahayakan nyawaku dan bayiku. Aku bisa apa?" Zakia berusaha memberi pengertian kepada ibu mertuanya meski ia tak yakin perempuan itu bisa mengerti. Ini sudah kesekian kalinya ia menjelaskan perihal itu."Tapi kalau kamu nggak setuju, dokter juga nggak akan melakukan operasi caesar. Kamu aja yang memang nggak bisa menahan sakit," tuduh Marina, lantas mulutnya mengerucut."Sungguh, Ma. Aku berani sumpah. Kalau Mama nggak percaya, tanya aja sama dokter yang kemarin melakukan tindakan operasi caesar kepadaku. Mama akan mendapatkan penjelasannya," tantang Zakia."Halah.... Dokter-dokter itu yang ada di otaknya hanya uang. Pastilah mereka akan menyarankan operasi caesar kepada pasiennya. Biaya operasi caesar kan jauh lebih mahal ketimbang biaya melahirkan secara normal. Kamu aja yang bodoh dan Yudha sudah bodoh memilih istri seperti kamu. Dasar wanita tidak berguna!" Marina mendengus. Dia benar-benar kesal karena Zakia selalu saja punya alasan untuk membantahnya."Ma, dokter-dokter juga tidak asal membuat keputusan. Mereka sangat profesional dan bekerja sesuai prosedur, karena jika mereka menyalahi prosedur, mereka juga akan kena sanksi. Mereka tidak bisa seenaknya mengambil tindakan," ujar Zakia tak mau kalah. Wanita itu memilih memejamkan mata demi menetralisir emosinya.Selalu saja itu yang diomongkan oleh ibu mertuanya sejak masih berada di rumah sakit. Jujur ia merasa risih. Takut omongan ibu mertuanya terdengar oleh para petugas medis. Mereka pasti tersinggung dengan ucapan seperti itu."Sok pintar kamu. Sadar diri dong! Kamu itu siapa, hah?! Kamu itu hanya gadis yatim piatu yang dibesarkan di panti asuhan, yang kemudian dijadikan Yudha sebagai istrinya. Kamu itu sebenarnya beruntung banget, karena mendapatkan suami seperti Yudha yang bekerja di perusahaan.""Makanya jadi orang jangan belagu. Ini sok-sokan melahirkan pakai operasi, kayak artis saja. Kamu itu sudah membuang-buang uang anakku. Ngerti nggak sih?!" Marina terus mengomel.Namun Zakia masih tetap memejamkan mata. Dia tidak hendak memberikan komentar apapun. Percuma. Semua tak ada gunanya. Meskipun mulutnya terasa gatal, apalagi dengan ucapan terakhir ibu mertuanya.Apa?! Dia membuang-buang uang suaminya?!Ingin rasanya Zakia tertawa sekeras-kerasnya. Orang awam juga mengerti, jika biaya persalinannya ditanggung oleh pihak perusahaan tempat Yudha bekerja melalui jaminan sosial tenaga kerja. Yudha tidak keluar uang sepeser pun, bahkan justru terberkati dengan kelahiran bayinya, karena pihak perusahaan akan memberikan bonus atau tunjangan bagi setiap karyawan wanita yang melahirkan atau karyawan pria yang memiliki istri yang melahirkan. Besaran bonus itu pun diketahui oleh Zakia. Untuk soal itu dia tidak bodoh-bodoh amat.Lalu, atas dasar apa ibu mertua menuduhnya membuang-buang uang suaminya?Selama ini yang menikmati sebagian besar gaji Yudha justru adalah Marina dan Risa, kakak perempuan Yudha. Zakia hanya kebagian sisa, itu pun masih sering diomeli oleh Marina. Masih segar di ingatannya Marina mengomel setiap kali ia minta uang untuk ongkos taksi saat ia akan pergi kontrol ke dokter kandungan, padahal Marina jelas-jelas mengetahui jika biaya USG yang sebanyak tiga kali itu di tanggung oleh pihak perusahaan melalui Jamsostek.Zakia menghembuskan nafas, lantas membuka mata. Mobil sudah berhenti. Ah, ternyata mereka sudah sampai di halaman rumah. Rumah peninggalan bapak mertua Zakia itu cukup besar dan itulah yang menjadi alasan Marina untuk tidak mengizinkan Yudha dan Zakia memiliki rumah sendiri.Sembari mendekap erat bayi di dalam gendongannya, Zakia turun perlahan dari mobil lalu meraih tasnya. Lagi-lagi ia harus membawa sendiri tas besar itu ke rumah. Zakia menyeretnya, karena dia tidak mungkin mengangkat tas besar itu. Perut bagian bawahnya akan semakin terasa sakit, belum lagi kondisi tubuhnya yang masih lemah.Suami dan ibu mertuanya sudah melenggang masuk ke dalam rumah, tak peduli dengan kesusahan Zakia. Kali ini tidak ada yang menolong. Zakia harus membawa sendiri tas itu ke dalam rumah.Baru saja ia menginjakkan kaki di teras, bayi perempuan di dalam gendongannya menggeliat, lalu mulai menangis. Zakia memaksakan diri menyeret tas itu masuk ke dalam kamarnya, kemudian segera menutup pintu."Cup cup cup.... Sayang, kamu haus ya?" Zakia membuka kancing bajunya di bagian atas dan mencoba menyusui bayinya. Namun sampai wajah bayi itu memerah, hanya beberapa tetes ASI saja yang keluar dari pucuk payudaranya. Tangis bayi pun semakin kencang terdengar.Brak!Zakia terlonjak dari tempat duduknya saat pintu dibuka dengan kasar. Yudha berdiri di depan pintu dengan wajah merah padam.それから六ヶ月が経った。 麗奈は、GSC日本代表としての最初の年を、目覚ましい成功で締めくくろうとしていた。新規クライアントは三十社を超え、チームは二倍の規模に拡大した。業界誌は彼女を「日本コンサルティング業界の新時代を切り開く女性リーダー」と評した。 しかし、麗奈にとって最も大きな変化は、仕事ではなく、心の中にあった。 高瀬亮介との関係は、静かに、しかし確実に深まっていった。週末のディナー、時折の旅行、そして何より、互いの仕事を尊重し合いながら過ごす穏やかな時間。 麗奈は、初めて「愛」というものを、恐れずに受け入れられるようになっていた。 五月のある週末、高瀬が麗奈を箱根に誘った。「少し、ゆっくり話したいことがあるんです」 彼の言葉には、いつもと違う真剣さがあった。 二人は、芦ノ湖を見下ろす高台のホテルに宿泊した。 夕暮れ時、高瀬が麗奈をテラスに誘った。 眼下には、夕陽に照らされた芦ノ湖が広がっていた。湖面は、オレンジとピンクの光を反射して、まるで溶けた宝石のように輝いていた。遠くには富士山のシルエットが、空に浮かび上がっていた。「きれいですね」 麗奈は、湖を見つめながら呟いた。「ええ、本当に」 高瀬は答えたが、彼の視線は麗奈に注がれていた。 しばらくの沈黙の後、高瀬が口を開いた。「藤崎さん……いえ、麗奈さん」 彼が名前で呼ぶのは珍しかった。麗奈は、高瀬を見た。「私は、あなたに初めて会った時から、特別な何かを感じていました」 高瀬の声は、穏やかだが、確固たる意志を秘めていた。「それが何なのか、最初は分かりませんでした。尊敬なのか、憧れなのか、それとも……」 彼は、麗奈の手を取った。「でも、時間が経つにつれて、はっきりと分かりました。これは、愛だと」 麗奈の心臓が、激しく鳴り始めた。「あなたは、私が出会った中で最も強く、最も美
三ヶ月後。 麗奈は、GSCの日本代表に正式に就任した。 三十五歳での抜擢は、業界でも大きな話題となった。 彼女のオフィスからは、東京の街が一望できた。 あの日、雨の中で去った東邦広告のビルも、遠くに見えた。「藤崎代表、次の会議の準備ができました」 秘書が、資料を持ってきた。「ありがとう。すぐに行きます」 麗奈は立ち上がった。 デスクの上には、一枚の写真が飾られていた。 高瀬との写真。先月、二人で訪れた鎌倉での一枚。 二人の関係は、ゆっくりと深まっていた。 恋人と呼ぶには、まだ早い。しかし、確かに特別な関係。 麗奈は、もう焦っていなかった。 会議室に向かう途中、窓の外を見た。 青い空。白い雲。穏やかな風。 あの雨の日から、二年半が経っていた。 その間に、彼女は多くのものを失い、多くのものを得た。 そして、最も大切なものを見つけた。 それは、自分自身だった。 夜、麗奈は高瀬と食事をした。「今日、東邦広告から報告がありました」 高瀬が言った。「再建計画は順調で、今期は黒字化の見込みだそうです」「それは良かった」 麗奈は、微笑んだ。「園田社長、頑張っているようですね」「田所さんも、新しい部署で活躍しているそうです」「そう……みんな、前を向いているのね」 麗奈は、ワインを口に含んだ。「高瀬さん、私、最近考えるんです」「何を?」「復讐について」 麗奈は、グラスを見つめた。「私は、復讐を果たしたのでしょうか? それとも、諦めたのでしょうか?」「どちらでもないと思います」 高瀬は答えた。「あなたは、復讐を超えたんです」「超えた?」
プロジェクトの最終報告会が、一週間後に控えていた。 業界関係者、メディア、そして東邦広告の全社員が集まる、公の場での発表。 麗奈は、その報告書の最終稿を書き上げていた。 しかし、最後のページで、彼女の手が止まった。 狩野の不正を公にすることで、東邦広告のイメージは大きく傷つく。それは、無関係の社員たちにも影響を及ぼす。 そして、田所も、その余波を受けることになる。「これでいいのだろうか……」 麗奈は、自問した。 その夜、麗奈は高瀬と食事をした。「報告書、完成しましたか?」「はい……でも、迷っています」 麗奈は、グラスを見つめた。「狩野の不正を完全に公にすれば、会社は大きなダメージを受けます。でも、隠蔽すれば、また同じことが繰り返される」「難しい判断ですね」「高瀬さんなら、どうしますか?」 高瀬は、しばらく考えた。「藤崎さん、あなたは何のためにこのプロジェクトを受けたんですか?」「それは……」「復讐のためですか? それとも、会社を救うためですか?」 麗奈は、答えられなかった。「両方だと思います」「では、どちらを優先しますか?」 麗奈は、深く息を吸った。「私、分かりました」 彼女は、高瀬を見た。「私は、復讐を選びません」「本当にいいんですか?」「はい。狩野の不正は明らかにしますが、それを復讐の道具にはしません」 麗奈は、決意を固めた。「会社を救うこと。それが、私の本当の目的です」 最終報告会の日。 会場には、三百人以上の関係者が集まっていた。 麗奈は、壇上に立った。「皆様、本日は東邦広告の経営再建プロジェクトの最終報告をさせていただきます」 彼女
臨時取締役会の日。 東邦広告の本社会議室には、すべての取締役と、主要株主、そして監査法人の代表が集まっていた。 麗奈は、プロジェクトチームと共に、最終報告を行う準備をしていた。「藤崎さん、準備はいいですか?」 ロバートが確認した。「はい。すべて整っています」 麗奈は、資料を確認した。狩野の不正の証拠、田所の脅迫の記録、そして過去五年間の組織的問題の分析。 会議室に入ると、狩野達也が既に席に着いていた。 彼は、麗奈を睨みつけていたが、その目には明らかな恐怖が宿っていた。「それでは、GSCからの最終報告を始めます」 園田社長が議事を開始した。 麗奈は、壇上に立った。「皆様、本日は東邦広告の経営再建プロジェクトの調査結果を報告させていただきます」 スクリーンに、最初のスライドが映し出された。「当社の調査により、営業本部において重大な不正行為が発覚しました」 会議室がざわついた。 麗奈は、一つずつ証拠を提示していった。 架空の経費報告。不正な契約。クライアントへの虚偽報告。そして、横領。 すべての証拠が、狩野達也を指し示していた。「さらに、これらの不正行為を隠蔽するため、部下への脅迫と責任転嫁が行われていました」 麗奈は、田所に関する資料を提示した。「田所次長は、家族を人質に取られ、不正行為への加担を強要されていました」 会議室は、静まり返っていた。「そして……」 麗奈は、深く息を吸った。「二年前のミラノプロジェクトの失敗についても、同様の構図がありました」 スクリーンに、当時のプロジェクト資料が映し出された。「当初の戦略は、綿密な市場分析に基づいた優れたものでした。しかし、最終段階で大幅な変更が加えられ、その結果、プロジェクトは失敗しました」 麗奈は、狩野を見た。「その責任は、当時
銀座の高級イタリアンレストラン。柔らかな照明とジャズの調べが、落ち着いた雰囲気を作り出していた。 麗奈は、高瀬亮介という男性と初めて対面した。 三十八歳。ロバート・チェンの義理の弟――ロバートの妹と結婚していたが、三年前に妻を病気で亡くしていた。現在はGSCの欧州統括を務めている。「藤崎さんの評判は、ロンドンまで届いていますよ」 高瀬は、穏やかな笑みを浮かべた。長身で知的な雰囲気を持つ男性だった。眼鏡の奥の瞳には、温かさと同時に鋭い観察力が宿っていた。「大げさです」「いえ、本当です。あなたの手がけた製薬会社のケーススタディは、既にハーバードのビジネススクールで教材として使われて
グローバル・ストラテジー・コンサルティング社――通称GSC――のオフィスは、東邦広告とは全く異なる空気を持っていた。 六本木ヒルズの最上階フロア。床から天井までの窓ガラスから見える東京の夜景。洗練されたモダンデザインのインテリア。そして何より、働く人々の目つきが違っていた。 麗奈は、ロバート・チェンの前に座っていた。五十代半ばの彼は、ハーバード・ビジネス・スクールで教鞭を取っていた経歴を持つ伝説的なコンサルタントだった。「藤崎さん、あなたのことは三年前から注目していました」 ロバートは、分厚いファイルを麗奈の前に置いた。「あなたが手がけた化粧品ブランドのリポジショニング戦略。従来
十一月の冷たい雨が、オフィスビルの窓ガラスを叩いていた。 藤崎麗奈は、会議室のテーブルに置かれた一枚の書類を見つめていた。解雇通知書。彼女の名前が印字された、冷たく事務的な文書。八年間働いた東邦広告の、彼女のキャリアの終わりを告げる紙切れ。「藤崎さん、あなたには本当に残念ですが」 人事部長の声は、申し訳なさそうではあったが、決して覆らない決定の重みを帯びていた。「ミラノプロジェクトの失敗により、クライアントから三億円規模の損害賠償請求が来ています。プロジェクトリーダーとして、責任を取っていただくしかありません」 麗奈は静かに息を吸った。指先が微かに震えていたが、声は驚くほど落ち着
麗奈は、すべての証拠を園田社長に提出した。 社長室で、ロバートと高瀬も同席する中、麗奈は冷静に報告を行った。「狩野本部長による横領の総額は、三千二百万円に上ります」 麗奈は、証拠書類を一つずつ提示した。「さらに、複数のプロジェクトで意図的な情報操作と、部下への責任転嫁が確認されました」 園田社長の顔は、蒼白だった。「そんな……狩野が……」「そして、もう一つ」 麗奈は、田所に関する資料を取り出した。