ANMELDENNindy berdiri terpaku di ujung selasar yang gelap, sepasang matanya yang dilapisi riasan tebal membelalak sempurna menyaksikan kedekatan fisik antara calon suaminya dan wanita yang paling ia benci di rumah ini. Sudut pandangnya yang terhalang oleh pilar beton besar membuat ia tidak bisa melihat dengan jelas adegan tamparan keras yang dilayangkan oleh Zara beberapa saat yang lalu di awal konfrontasi. Di dalam kepala Nindy yang sudah dipenuhi oleh prasangka buruk, posisi tubuh Anji yang condong ke depan dan gerakan tangan Zara yang naik ke atas justru terlihat seperti sebuah adegan rayuan intim yang sengaja dilakukan untuk menggoda kekasih hatinya di tengah malam buta."Dasar perempuan murahan tidak tahu diri, sudah kuduga kamu tidak akan pernah melepaskan milikku begitu saja," desis Nindy dalam hati, seluruh tubuhnya bergetar hebat akibat luapan rasa cemburu dan amarah yang seketika membakar habis logika berpikir sehatnya.Nindy mencengkeram ujung gaun tidurnya dengan kencang, menah
Sentuhan ujung jemari Anji yang mulai meraba kain tipis di area pinggul mengirimkan gelombang kejutan yang teramat menjijikkan ke seluruh saraf tubuh Zara. Rasa mual yang hebat mendadak bergolak di dalam ulu hatinya, memicu reaksi penolakan mutlak dari alam bawah sadarnya yang menolak keras keintiman kotor dari pria asing ini. Segenap otot lengannya menegang sempurna dalam hitungan milidetik, menghimpun seluruh tenaga emosional yang meluap akibat pelecehan fisik yang baru saja diterimanya di sudut lorong remang tersebut. Zara menarik tangan kanannya sedikit ke belakang, lalu melayangkan sebuah ayunan cepat yang membelah udara kosong di antara wajah mereka berdua dengan akurasi yang sangat tinggi.Plak!Suara hantaman telapak tangan yang beradu keras dengan kulit pipi kiri Anji bergema nyaring, memecah kesunyian malam di sepanjang koridor sepi gedung utama mansion keluarga Tawfeeq. Kekuatan tamparan itu begitu masif hingga membuat kepala Anji terhentak kasar ke samping kiri, memaksa
Dekapan hangat yang begitu murni dan tanpa pamrih itu perlahan-lahan mulai meruntuhkan sisa-sisa pemberontakan fisik dari tubuh Ibu Lusi yang kian melemah akibat kehabisan energi setelah meluapkan amarah histerisnya. Kepalan tangannya yang semula memukul bahu Zara kini perlahan mengendur, beralih mencengkeram erat kain piyama katun yang dikenakan oleh wanita muda itu seolah dirinya sedang berpegangan pada selembar tali penyelamat di tengah amukan badai laut yang ganas. Isak tangis wanita tua itu kian meredup, menyisakan helaan napas yang panjang dan berat yang membasahi permukaan bahu Zara dengan air mata penyesalan yang mendalam."Kenapa kamu berubah menjadi sebaik ini padaku, Gina? Bukankah dulu kamu selalu mengejekku sebagai wanita tua penyakitan yang merepotkan agenda belanjamu?" tanya Ibu Lusi dengan suara yang terputus-putus, menatap wajah Zara dari jarak dekat dengan sepasang mata yang kini mulai kehilangan sebagian besar kabut kemarahannya."Manusia selalu bisa belajar dari
"Lama sekali kamu membawakan minumanku, Gina, kepalaku rasanya mau pecah sejak bangun tidur tadi pagi," keluh Lusi sembari berusaha mendudukkan tubuhnya yang tampak lemas, bersandar pada tumpukan bantal kepala."Aku harus memastikan suhunya pas agar bisa meredakan ketegangan di leher Mama setelah seharian terkurung di dalam kamar ini," kata Zara lembut, meletakkan baki perak di atas meja nakas tepat di samping ranjang besar tersebut.Lusi langsung meraih gelas kristal itu dengan tangan yang tampak sedikit gemetar, mengarahkannya ke bibir dengan tergesa-gesa seolah cairan di dalamnya adalah satu-satunya obat penawar bagi penderitaan fisiknya yang tak kasat mata. Begitu cairan jingga kecokelatan itu menyentuh permukaan lidahnya, dahi wanita tua itu langsung berkerut dalam, matanya membelalak menatap isi gelas dengan pandangan mata yang dipenuhi oleh rasa tidak puas yang teramat sangat. Ia menurunkan gelas itu dengan sentakan yang sedikit kasar ke atas meja nakas hingga sebagian isiny
Aroma pekat cairan pembersih lantai pinus beradu tajam dengan bau apak alkohol yang menguar dari sudut paviliun belakang. Zara berdiri tegak di depan wastafel dapur bersih milik Lusi, memegang sebotol wiski setengah kosong dengan label premium yang langsung ia balikkan posisinya hingga isinya tandas mengalir ke dalam lubang pembuangan air. Cairan amber itu bergolak membentuk pusaran kecil, menyebarkan bau fermentasi menyengat yang membuat hidung Zara mengkerut menahan rasa mual yang mendadak menyerang rongga dadanya. Tangan rampingnya bergerak cepat, meraih botol kaca berikutnya dari dalam lemari penyimpanan rahasia di bawah kompor yang berhasil ia temukan setelah mengamati gerak-gerik pelayan paviliun selama dua hari terakhir."Nyonya Besar bisa mengamuk hebat jika tahu semua simpanannya habis, Non Gina," bisik Bi Minah, pelayan khusus paviliun, dengan wajah pucat pasi dan tangan yang gemetar hebat di ambang pintu dapur."Biar saya yang menanggung semua amarahnya, Bi Minah, sekara
"Tenanglah, aku ada di sini, kamu tidak akan pernah sendirian lagi di dalam kegelapan malam ini," bisik Arham tepat di depan wajah Zara, suaranya rendah dan dalam, memancarkan otoritas perlindungan seorang pria sejati.Ajaibnya, guncangan hebat pada tubuh Zara perlahan mulai mereda begitu merasakan kehangatan kecupan dan bisukan menenangkan yang dilayangkan oleh Arham di keningnya. Cengkeraman jemari tangannya pada bantal bulu angsa perlahan mengendur, menyisakan helaan napas yang kian teratur, panjang, dan tenang khas seorang manusia yang telah berhasil meloloskan diri dari kejaran monster mimpi buruk. Alisnya yang bertaut rapat kini kembali rileks, menampilkan raut wajah polos yang begitu memesona di bawah siraman cahaya kuning redup dari lampu tidur di sudut ruangan yang luas tersebut.Arham menarik kembali tubuhnya, menegakkan punggungnya dengan sepasang mata yang masih tidak bisa dialihkan dari setiap jengkal keindahan wajah tidur Zara malam ini. Hati pria itu yang selama bert
Sinar matahari pagi menembus celah gorden tipis di ruang makan utama mansion keluarga Tawfeeq, memantulkan kilau keperakan di atas meja marmer panjang yang dipenuhi berbagai hidangan barat. Zara duduk dengan anggun di salah satu kursi bersandaran tinggi, mengenakan gaun rumahan sederhana berwarna
Arham melepaskan cengkeramannya dari lingkar kemudi, membiarkan keheningan malam kembali menguasai kabin mobil yang pengap. Sisa uap wiski di dalam darahnya seolah menguap begitu saja, digantikan oleh ketajaman berlogika yang menuntut penjelasan logis dari wanita di sampingnya. Sepasang matanya ya
Sentuhan bibir Arham bergerak makin menuntut, membelenggu seluruh kesadaran Zara di dalam ruang kabin yang sempit dan remang. Pria matang itu tahu benar bagaimana cara mendominasi setiap jengkal pertahanan wanita melalui ritme ciuman yang sarat pengalaman hidup selama empat dekade. Zara merasakan
Deru mesin sedan mewah itu menggeram rendah, membelah keheningan aspal jalanan sekunder yang merayap di bawah naungan pohon-pohon peneduh kota yang rimbun. Arham menginjak pedal gas dengan sentakan yang tidak beraturan, membiarkan jarum spidometer melonjak melewati batas kewajaran berkendara di te







