ログインJam dinding besar di sudut kamar utama paviliun barat sudah menunjuk ke angka tiga pagi lewat lima belas menit. Udara malam terasa sangat dingin menyengat kulit, tetapi suasana di dalam ruangan besar itu justru terasa sangat panas dan menyesakkan dada. Zara terbangun dari tidurnya karena tidak merasakan kehangatan pelukan Arham di samping badannya seperti biasa. Wanita muda itu membalikkan badan, menatap sisi kasur yang sudah kosong dan menyisakan seprai sutra yang agak berantakan. Ia mendesah pelan, menatap ke arah celah bawah pintu penghubung ruang kerja pribadi Arham yang masih memancarkan cahaya lampu putih benderang sejak semalam.Zara menyibak selimut tebalnya, turun dari tempat tidur dengan langkah kaki yang teramat pelan tanpa menimbulkan suara sedikit pun di atas lantai. Ia berjalan mendekati meja rias, mengambil sebuah kardigan rajut berwarna cokelat susu untuk menutupi baju tidur tipisnya sebelum melangkah keluar kamar. Wanita muda itu memutar knop pintu ruang kerja Arham
Langkah kaki Zara terhenti tepat di ambang pintu kamar tidur utama paviliun barat saat sepasang matanya menangkap sesosok pria bertubuh tegap yang tengah berdiri memunggungi ranjang king size mereka. Arham telah melepaskan kemeja kasualnya, menyisakan selembar kaus dalam berwarna hitam ketat yang mencetak dengan sempurna lekukan otot punggungnya yang kokoh dan bidang. Di atas permukaan kasur sutra putih yang beberapa jam lalu menjadi saksi bisu pergulatan berahi mereka, kini tergelar sebuah kotak penyimpanan besar berbahan beludru hitam dengan logo desainer haute couture ternama asal Paris yang dicetak menggunakan tinta emas timbul."Kamu sudah selesai menemani Mama melakukan terapi berjalan di taman belakang, Gina?" tanya Arham tanpa membalikkan tubuhnya, seolah ia memiliki indra keenam yang sanggup mendeteksi kehadiran aroma wangi melati milik Zara dari jarak beberapa meter."Sudah, Arham. Mama bahkan bisa melangkah sebanyak dua puluh kali tanpa perlu bertumpu terlalu berat pada
Lampu gantung kristal di atas meja makan panjang berbahan kayu mahoni itu memancarkan pendaran cahaya kekuningan yang lembut, menciptakan atmosfer yang teramat teduh di dalam ruang makan utama mansion Tawfeeq. Harum aroma sup buntut sapi berempah yang kaya akan kapulaga dan cengkih berpadu sempurna dengan wangi gurih ayam goreng serundeng yang baru saja diangkat dari wajan dapur. Zara berdiri di sisi meja, merapikan letak mangkuk porselen putih berlis emas berisi tumis daun dewa bawang putih yang masih ngebul mengepulkan uap panas. Sepasang matanya sesekali melirik ke arah pintu penghubung lorong, memastikan tidak ada lagi sisa ketegangan siang tadi yang terbawa ke dalam ruang makan yang sakral ini."Baunya enak sekali, Ma. Perut Sean langsung berbunyi dari waktu berjalan masuk ke ruangan ini tadi," celetuk Sean sembari mendudukkan pantat kecilnya di atas kursi kayu berukir, matanya berbinar menatap deretan lauk pauk di atas meja."Tentu saja enak, pahlawan kecil. Semua ini dimasak
Pandangan mata indahnya seketika terpaku pada barisan teks yang tertera di atas permukaan kartu plastik biru muda yang ternyata merupakan kartu asuransi kesehatan kuno milik Gina Susanti yang asli. Di sudut kanan bawah kartu tersebut, tepat di bawah kolom nama lengkap dan tanggal lahir, tertera sebuah keterangan golongan darah yang dicetak dengan tinta hitam tebal: AB Rhesus Negatif.Zara merasakan seluruh aliran darah di tubuh rampingnya mendadak berhenti berdetak sesaat, wajah cantiknya seketika berubah memucat pasi seperti kehilangan seluruh pasokan energi kehidupannya dalam sekejap mata. Sepasang tangannya mulai bergetar hebat, meremas pinggiran kertas dokumen medis lama milik Gina asli yang melampirkan hasil uji laboratorium kecelakaan beberapa tahun silam yang mengonfirmasi kepemilikan jenis darah yang teramat langka tersebut."AB rhesus negatif? Bagaimana mungkin ... bagaimana mungkin jalang itu memiliki golongan darah yang persis sama dengan jenis darahku?" batin Zara menje
Waktu bergulir cepat menuju tengah hari, suasana di dalam ruang makan utama mansion Tawfeeq tampak jauh lebih tenang setelah menu makan siang rendah garam yang dimasak langsung oleh Zara ludes tak bersisa. Arham yang telah mengenakan kemeja kasual berwarna biru dongker tampak menyeka bibirnya dengan serbet kain sebelum akhirnya bangkit berdiri dari kursi kebesarannya."Aku harus pergi ke kantor cabang di kawasan pusat sebentar untuk menemui klien penting dari Singapura, Ibu. Mungkin aku akan kembali sebelum jam makan malam tiba," ucap Arham sembari mengecup takzim kening Ibu Lusi yang duduk di kursi roda dengan kondisi fisik yang kian segar."Pergilah, selesaikan urusan bisnismu dengan benar. Jangan biarkan menantuku ini menunggumu terlalu lama di rumah," balas Ibu Lusi dengan senyuman hangat yang teramat tulus, sepasang matanya melirik ke arah Zara yang tengah sibuk merapikan piring kotor Sean."Aku pergi dulu, Gina. Jaga dirimu dan Sean di rumah," pamit Arham sembari melangkah m
Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui celah gorden sutra kelabu, membentuk garis-garis emas di atas permukaan seprai putih yang berantakan. Zara melenguh pelan, merasakan kelopak matanya yang berat perlahan terbuka saat rasa hangat menyelimuti seluruh permukaan kulit punggungnya. Sepasang lengan kekar Arham masih melingkar kokoh di sekeliling pinggang rampingnya, mengunci tubuh wanita itu tanpa celah sedikit pun dalam dekapan dada bidang sang pria yang telanjang. Zara mencoba menggeser tubuhnya secara perlahan, berniat untuk segera turun dari ranjang demi menyiapkan air mandi hangat dan ramuan herbal untuk Ibu Lusi."Mau ke mana sepagi ini, Gina?" gumam Arham dengan suara bariton yang teramat serak khas orang baru terbangun dari tidur, mempererat kuncian lengannya pada perut Zara."Lepaskan dulu, Arham. Aku harus mandi dan turun ke dapur, pelayan pasti sudah mulai membersihkan area paviliun timur," bisik Zara sembari memegang pergelangan tangan besar Arham yang menempel erat
Aroma gurih sisa kaldu ayam masih tertinggal samar di udara, bercampur dengan kehangatan uap mentol dari minyak telon yang biasa digunakan untuk meredakan kembung pada perut anak-anak. Arham mendekati meja nakas, jemarinya menyentuh pinggiran mangkuk porselen yang masih menyisakan beberapa sendok
Zara mematung dengan mulut sedikit terbuka, matanya melebar sempurna menatap garis wajah wanita di depannya. Hal yang sama juga terjadi pada wanita glamour tersebut; ia menghentikan aktivitas mengibas gaunnya, tangannya membeku di udara dengan pandangan mata yang terkunci rapat pada wajah Zara. Mer
Suara tamparan yang teramat keras bergema di lorong sempit itu. Wajah pria gempal itu terlempar ke samping, meninggalkan bekas kemerahan yang sangat jelas di pipi tembamnya. Cengkeraman tangannya pada pergelangan tangan Zara terlepas seketika karena rasa syok yang luar biasa. Pria itu memegangi pip
"Satu lagu lagi, Zara. Tolonglah, malam ini pengunjung kafe sedang ramai-ramainya. Sisa tips dari meja depan bakal aku bagi dua buat kamu," ucap Hendra, pemilik kafe remang-remang di sudut jalanan kota itu, sembari menyodorkan segelas air putih hangat ke arah Zara.Zara menghela napas panjang, men







