“Ibu, sebentar... Aku pergi dulu,” ucap Kheland panik, melangkah tergesa-gesa hendak menyusul Nyonya Lidya yang dibawa oleh para petugas keamanan.“Berhenti, Kheland! Mau ke mana kau, hah?!” bentak Nyonya Bella tajam, menghentikan langkah putra tunggalnya itu secara instan. Nyonya Bella maju satu langkah, menatap putranya dengan sorot mata penuh amarah. “Katakan pada Ibu, apa yang sebenarnya kau lakukan di rumah sakit ini?!”Kheland tertegun. Ia mengusap tengkuknya dengan gugup sebelum akhirnya menjawab, “Aku... Aleandra dirawat di rumah sakit ini, Bu.”“Jadi ini urusan mendesak yang kau maksud?! Ini urusan yang kau anggap jauh lebih penting daripada kehamilan calon istrimu?!” cecar Nyonya Bella dengan nada bersiap meledak.“Aleandra memang penting bagiku, Bu! Dia ditemukan pingsan di kamarnya dan harus segera dirawat, jadi—”PLAK!Belum sempat Kheland menyelesaikan kalimatnya, sebuah tamparan keras mendarat telak di pipi kirinya. Kepalanya terlempar ke samping. Suara tamparan itu ber
Zuletzt aktualisiert : 2026-09-08 Mehr lesen