INICIAR SESIÓNNyonya Bella dengan penuh perhatian merapikan kembali riasan wajah dan gaun pengantin Cleara yang sempat sedikit berantakan setelah pingsan tadi.Akibat ulah histeris Aleandra, pesta pernikahan megah yang diadakan di area ballroom samping gereja itu menjadi kacau balau. Nyonya Bella dan suaminya benar-benar kehabisan cara untuk melacak keberadaan Kheland, sebab ponsel pria itu sama sekali tidak bisa dihubungi sejak tadi.Nyonya Bella dengan gerakan kesal menurunkan ponsel dari telinganya. Entah sudah berapa kali ia mencobanya, namun putranya tak kunjung mengangkat panggilan darinya. Begitu pula dengan Tuan Louis dan Kakek Davies—upaya mereka menghubungi Kheland berakhir nihil. Kemurkaan membakar keluarga besar Davies karena Kheland secara terang-terangan lebih memilih pergi mengejar Aleandra ketimbang mendampingi Cleara dan menghormati pesta pernikahannya sendiri.Darren, sekretaris pribadi Kheland, bergegas melangkah menghampiri rombongan keluarga.“Bagaimana, Darren?! Apa kau berhas
Cleara perlahan mengerjapkan matanya yang berat. Ketika kesadarannya berangsur pulih, ia mendapati dirinya tengah berbaring di sebuah sofa empuk dalam ruang istirahat yang ada di dalam gereja. Di sekelilingnya, seluruh anggota keluarga Davies berdiri memencar dengan raut wajah yang tampak begitu mencemaskannya. Mereka semua berebut pertanyaan akan keadaan Cleara. “Kau sudah sadar, Sayang?” tanya Nyonya Bella lembut seraya mengusapkan telapak tangannya yang hangat ke dahi Cleara. “Ibu... aku kenapa?” bisik Cleara serak.“Kau tadi mendadak pingsan, Nak. Kau kenapa, Sayang? Apa kau baik-baik saja?”“Kepalaku … kepalaku rasanya sangat pusing, Ibu.” Cleara memegangi kepalanya yang masih terasa pening dan berdenyut. Ia mengedarkan pandangannya menyapu seisi ruangan. Ia melihat Kakek Davies, Tuan Louis, Nyonya Bella, dan bahkan Ethan yang berdiri diam memenanginya di sudut ruangan. Namun, ia tidak menemukan batang hidung pria yang baru saja resmi menjadi suaminya di sana.Melihat keraguan
Cleara hendak membuka mulut untuk membalas ucapan itu, tetapi—“Kheland!”Suara panggilan Nyonya Bella mendadak bergema di ambang pintu. Kheland seketika menghentikan ancamannya dan menjauhkan tubuhnya dari Cleara. Sebelum membalikkan badan, pria itu sempat melempar tatapan tajam yang sarat akan peringatan ke arah Cleara.“Cleara... kau cantik sekali, Nak!” puji Nyonya Bella takjub begitu melangkah mendekati calon menantunya. Senyum haru mengembang di wajahnya. “Sangat cantik... Ibu sampai pangling melihat menantu Ibu ini.”“Menggelikan!” gerutu Kheland pelan dengan raut muak.Namun, bisikan itu rupanya tertangkap oleh pendengaran Nyonya Bella. Sang ibu seketika menoleh dan mendelik tajam. “Kau bicara apa baru saja, Kheland?!”“Tidak, Bu,” sahut Kheland malas seraya memalingkan wajah.“Ya sudah, ayo kita segera berangkat ke gereja. Pendeta dan para tamu sudah menunggu di sana. Menantu Ibu benar-benar cantik sekali hari ini,” puji Nyonya Bella berulang kali seraya merangkul hangat leng
Masa depan Cleara di mansion keluarga Davies terasa makin rumit. Cleara tidak hanya harus berbagi atap dengan Kheland yang membencinya, tetapi juga dengan Ethan.Saat jam makan malam tiba, seorang pelayan mengetuk pintu kamar Cleara untuk memanggilnya. Begitu Cleara melangkah sampai di ambang pintu ruang makan, seluruh anggota keluarga ternyata sudah berkumpul lengkap. Detik itu juga, pandangan mata Ethan dan Kheland seketika tertuju padanya. Ethan langsung memalingkan wajahnya acuh tak acuh, sementara Kheland menatapnya dengan pijar kebencian yang terang-terangan. Namun, Cleara memilih untuk bersikap masa bodoh.“Selamat malam, semuanya,” sapa Cleara sopan seraya melangkah mendekat dan menduduki kursinya.“Selamat malam, Sayang,” sahut Nyonya Bella hangat.Kakek Davies dan Tuan Louis—ayah Kheland—turut menyapa Cleara dengan ramah dan tersenyum, berbanding terbalik dengan Kheland yang duduk bersedekap dengan wajah ditekuk masam.Sepanjang makan malam berlangsung, suasana diisi oleh K
“Kheland!” seru Nyonya Bella seraya memelototi putranya tajam, berusaha menahan amarah yang mulai membakar dadanya.Nyonya Bella rasanya ingin memaki habis-habisan sikap arogan putranya saat itu juga. Namun, ia berusaha keras menahan diri karena mereka berada di tempat umum dan dikelilingi banyak staf. Nyonya Bella paham betul, jika ia sampai memicu keributan sedikit saja, berita miring tentang keharmonisan keluarga Davies dipastikan akan langsung dimuat di berbagai media masssa—hal yang bisa membahayakan reputasi dan membuat saham perusahaan mereka anjlok seketika. Itu sebabnya Nyonya Bella berusaha menahan diri.“Ibu, jangan membuang-buang waktuku hanya untuk hal yang sama sekali tidak penting seperti ini!” keluh Kheland dingin tanpa rasa bersalah. Pria itu berdiri dari duduknya, merapikan jasnya dengan acuh tak acuh seolah gaun pengantin dan keberadaan Cleara adalah pengalih perhatian yang menyebalkan.Cleara yang berdiri menegang di depan cermin raksasa hanya bisa menunduk bukan k
Belum sempat Cleara berteriak, telapak tangan Kheland yang besar dan kokoh bergerak cepat membungkam mulut wanita itu.“Diam!” seru Kheland penuh ancaman tepat di samping telinga Cleara. Matanya berkilat berbahaya. “Jika kau berani berteriak atau mencoba macam-macam, aku tidak akan segan-segan menghabisimu detik ini juga!”Tubuh Cleara makin kaku. Napasnya tertahan di balik bungkaman erat Kheland.Cklek...Gagang pintu kamar mendadak bergerak. Mendengar suara pintu yang hendak terbuka, Kheland seketika menarik tangannya dari mulut Cleara. Dengan gerakan cepat dan sigap, ia menyembunyikan pisau lipat itu ke dalam saku celananya, lalu berdiri tegak dan menarik tubuh Cleara agar beranjak berdiri.Daun pintu terdorong pelan. Ternyata Nyonya Bella yang masuk.Langkah Nyonya Bella terhenti di ambang pintu. Tatapannya menyapu seisi ruangan, menangkap raut wajah Cleara yang pucat ketakutan dan bernapas memburu, serta posisi Kheland yang tampak serba salah.Sial! Hampir saja ketahuan oleh Ibun







