Pagi datang dengan suasana yang lebih sunyi dari biasanya. Setelah pertengkaran besar semalam, rumah itu terasa seperti kehilangan napas. Tidak ada suara televisi menyala keras, tidak ada ocehan Nita dari dapur, bahkan langkah kaki Arman pun nyaris tak terdengar. Kedua pasangan itu akhirnya benar-benar pergi dini hari tadi setelah Bram, dengan wajah penuh malu, meminta mereka mencari tempat lain.Namun anehnya, meski rumah kembali lengang, dada Bram justru terasa semakin sesak.Ia berdiri di dapur sambil menatap dua cangkir teh yang mengepulkan uap tipis. Tangannya bergerak lambat ketika menuangkan gula, pikirannya masih dipenuhi ucapan Julia semalam.'Aku masih bertahan karena Hana.'Kalimat itu terus berputar di kepalanya seperti hukuman yang tak selesai-selesai.Suara langkah kecil membuat Bram menoleh. Hana berjalan keluar kamar dengan rambut berantakan dan mata setengah mengantuk sambil memeluk boneka Upin.“Papa,” panggilnya lirih.Bram memaksakan senyum. “Bangun, Putri kecil?”
Last Updated : 2026-05-16 Read more