Mendengar pertanyaan Lily, Audrey tak menjawab sepatah kata pun. Anak perempuan itu menundukkan kepala. Perlahan, bibir bawahnya menekuk ke depan, melengkung ke bawah dengan mata yang mulai berkaca-kaca, persis seperti anak yang siap menumpahkan tangisnya kapan saja.Melihat perubahan raut wajah putrinya, Lily segera melangkah maju. Ia menekuk kedua lututnya hingga tingginya sejajar dengan Audrey. Tangan Lily terulur, mengusap lembut kedua lengan kecil itu."Ya sudah," ucap Lily pelan, menatap langsung ke dalam mata Audrey yang sudah basah. "Kalau Audrey memang tidak suka dengan sekolah yang ini, tidak apa-apa. Nanti kita lihat sekolah yang lain lagi, ya?"Audrey mengerjapkan matanya, lalu mengangguk-angguk pelan. Genggaman tangannya pada ujung baju Lily sedikit mengendur. Setelah memastikan Audrey lebih tenang, Lily segera bangkit berdiri. Ia menoleh ke arah kepala sekolah dan guru yang sejak tadi menemani mereka, lalu menganggukkan kepala seraya pamit undur diri dari tempat itu.**
Mehr lesen