Setelah kembali ke kamar, Akiyama duduk di atas tatami untuk berkultivasi. Namun setelah sekian lama, pikirannya tetap tidak bisa tenang. Di kepalanya terus terbayang pemandangan di Mata Air Penenang Jiwa tadi.Semakin dipikirkan, wajahnya semakin memerah."Dasar bajingan itu, berani-beraninya melepas pakaian di depanku." Akiyama mendengus pelan. "Entah kenapa, sejak bertemu dengannya, pikiranku nggak pernah setenang dulu lagi. Kalau terus begini, aku khawatir akan muncul gangguan batin.""Pria menyebalkan itu benar-benar membawa masalah."Ketika teringat bahwa Ewan akan meninggalkan Negara Jaban besok, hatinya kembali dipenuhi rasa enggan berpisah. "Setelah perpisahan kali ini, entah kapan kita bisa bertemu lagi?"Memikirkan hal itu, Akiyama akhirnya berhenti berkultivasi. Dia keluar dari kamar dan langsung menuju Mata Air Penenang Jiwa, berniat mengobrol dengan Ewan.Namun ketika masih berjarak sekitar 100 meter dari mata air, dia mendengar suara aneh dari arah pemandian air panas.'
Read more