Pagi berikutnya tidak memberi jeda panjang untuk merenung. Realitas bergerak lebih cepat dari perasaan, dan Raina tahu ia tidak bisa berlama-lama berada di dalam pikirannya sendiri.Namun kali ini, ia tidak langsung berlari mengejar ritme itu.Ia bangun lebih awal dari biasanya. Bukan karena gelisah, tetapi karena ada sesuatu yang perlu ia siapkan—bukan di luar, melainkan di dalam dirinya.Di meja makan, secangkir teh hangat dibiarkan hampir tak tersentuh. Raina duduk diam, menatap uap yang perlahan menghilang.Ia tidak sedang mencari ketenangan seperti hari-hari sebelumnya.Ia sedang menyiapkan keberanian.Di kantor, atmosfer berubah drastis.Bukan lagi hanya rasa ingin tahu atau bisikan-bisikan kecil.Kini, semua orang tahu.Atau setidaknya… merasa tahu.Percakapan berhenti ketika Raina lewat. Tatapan mengikuti, tidak dengan prasangka, tetapi dengan harapan—dan sedikit ketakutan.Bagaimana ini akan ditangani?Apa yang akan berubah?
Read more