Yuni merasa heran. "Suaramu masih parah sekali, kenapa nggak rawat inap saja?""Nggak perlu ...." Nikki menjawab datar. "Cuma flu biasa."Rawat inap .... Sekarang dia memang tidak punya kemampuan finansial untuk itu.Yuni juga tahu kondisi sahabatnya, sehingga dia tidak menyinggung lebih jauh, lalu mengganti topik. "Pak Ralph masih ada di sana? Semalam aku juga nggak menyangka Jovan akan ikut campur. Pagi ini aku sudah memarahi dia lagi. Itu ... kalian berdua ... nggak apa-apa, 'kan? Nggak menyulitkanmu?"Nikki hanya tersenyum getir. "Nggak apa-apa, suamimu juga berniat baik, aku nggak salahkan dia .... Itu, Yuni, aku mau pulang dulu, ponselku hampir habis baterai. Nanti kita bicara lagi.""Baiklah." Yuni mengiakan, lalu teringat sesuatu dan buru-buru berkata, "Biar aku ke apartemen menemanimu, kamu begini seharusnya ada yang merawat.""Nggak usah, jangan datang. Aku takut menularimu, kalau nanti kamu menularkan Sasha malah repot."Mendengar itu, Yuni langsung terkejut. Semua orang tah
続きを読む