Tangis Archie hanya meledak sesaat ketika jarum menembus pahanya. Jeritan kecil, cepat, seperti protes singkat pada dunia. Lalu seketika mereda begitu Alex mengangkatnya, menempelkan dada bayi itu ke dadanya sendiri.“Good boy,” bisik Alex, goyang lembut.Suara isap pelan Archie masih terdengar, pipinya menempel pada leher ayahnya, jari mungilnya mencengkeram kerah kaos Alex. Tak butuh waktu lama, bocah itu tenang kembali.“Nanti jangan dimandikan dulu, ya. Kalau demam, beri paracetamol yang saya tulis tadi,” ucap sang dokter yang baru saja menyuntikkan vaksin ke tubuh Archie.Naira mengangguk, menyimpan resep.“Terima kasih, Dok.”Mereka keluar dari poli anak. Alex berjalan beberapa langkah di depan, Archie tertidur pulas di gendongannya.Cahaya lorong rumah sakit jatuh tepat di wajah Alex, menonjolkan warna kulitnya yang lebih terang, kontras dengan sekitar. Tubuh tingginya mencolok, sorot matanya tenang, langkahnya mantap.Dan seperti biasa, perhatian menyusul.Dua perawat yang sed
ปรับปรุงล่าสุด : 2025-12-09 อ่านเพิ่มเติม