Udara perbukitan di pinggiran kota sore itu terasa sejuk, sangat kontras dengan hawa panas yang menyelimuti Jakarta. Aku dan Sabrina duduk di sebuah bangku kayu panjang yang menghadap langsung ke arah lembah.Di kejauhan, matahari mulai tergelincir, meninggalkan semburat warna jingga, ungu, dan emas yang memukau di cakrawala. Untuk sejenak, deru mesin motor dan hiruk pikuk pelarian kami terlupakan.Sabrina menyandarkan kepalanya di bahuku. Ia masih mengenakan jaket bomber kebesaran, meski rambut palsunya sudah ia lepas agar kulit kepalanya bisa bernapas. "Kak, kalau saja waktu bisa berhenti di sini," bisiknya pelan. "Aku tidak ingin memikirkan besok. Aku tidak ingin memikirkan Papa, atau kuliah di luar negeri, atau semua rahasia ini."Aku membelai jemarinya yang halus, merasakan kehangatan yang menjalar dari telapak tangannya. "Waktu tidak pernah berhenti, Sab. Kita hanya bisa memilih bagaimana cara menjalaninya. Tapi aku janji, aku akan selalu ada di sampingmu, apa pun yang terjadi."
최신 업데이트 : 2026-01-16 더 보기