Aku berusaha mengatur napas, mencoba sekuat tenaga agar suaraku tidak bergetar. "Mungkin... mungkin kaget Kakek pulang, Kek. Tadi dia lagi bantu saya pakai ramuan."Kakek menatapku dengan tatapan menyelidik. Matanya yang tajam seolah bisa mencium aroma gairah yang masih tertinggal di udara. Dia berjalan mendekat, menatap bekas luluran di pundakku yang masih basah."Kamu sudah lebih kuat ya, Nak," ucap Kakek pelan, nadanya mengandung peringatan. "Tapi ingat pesan Kakek. Jangan biarkan api di dalam tubuhmu membakar rumah yang sudah memberimu tempat berteduh. Hawa panas itu... kalau tidak disalurkan dengan benar, bisa merusak segalanya."Aku tertunduk, merapatkan lilitan sarungku. "Maafkan saya, Kek.""Sudah, sana bersihkan badanmu. Sebentar lagi Nenek pulang, kita makan siang sama-sama," kata Kakek sambil menepuk pundakku.Sentuhan tangannya kali ini terasa sangat berat, seolah memberikan tekanan mental agar aku tetap sadar pada batasan.Sepanjang siang itu, Sari tidak keluar dari kamar
최신 업데이트 : 2026-02-03 더 보기