Sari tersenyum begitu lebar saat menyambutku di depan pintu, tapi di balik binar matanya, aku menangkap sesuatu yang tersembunyi, sebuah kegelisahan yang ia coba tekan dalam-dalam.Aku duduk di bale-bale bambu, sementara Nenek membawakan nampan berisi nasi liwet hangat, ikan asin, dan sambal terasi yang aromanya begitu menggugah selera.Di sampingku, Kakek duduk dengan tenang, sesekali melirikku dengan tatapan yang sulit diartikan."Makan yang banyak, Mas. Biar Mas Bima cepat pulih," ujar Sari lembut sembari menyendokkan nasi ke piringku."Iya Sar, terima kasih." jawabku merasa canggung.Aku makan dalam diam, meski pikiranku sedang berteriak. Di balik lipatan kain sarungku, peta dari Pak Darmo terasa seolah membakar kulit pahaku.Bunga Wijaya Sukma.Penawar kabut pikiran.Aku harus mendapatkan itu."Kek, badanku masih terasa panas. Rasanya seperti ada energi yang menumpuk di perut," kataku, pura-pura mengadu.Kakek mengangguk perlahan. "Itu bagus. Berarti ilmumu sedang meresap. Tapi e
最終更新日 : 2026-02-11 続きを読む