Sepanjang perjalanan menuju apartemen, keheningan menyergap dalam kabin Porsche hitam. Baik Dinda atau Randy sesekali hanya saling melirik, sedangkan Dirga lebih banyak diam, atau lebih tepatnya memeriksa ponsel, dan menggulir layarnya dengan cekatan.‘Raymond, pria itu tidak pernah bosan mengganggu!’ pikir Dirga, tangannya mengepal keras dan napasnya menderu kasar.Satu keyakinan dokter tampan itu kalau Raymond belumlah berubah, tidak akan pernah! Ia tahu perangai pria itu, bahkan usai kehilangan semua, masih mencoba segala cara.Sekitar lima belas menit kemudian, mereka tiba di apartemen. Tanpa menekan bel, Dirga memasukkan sandinya. Pintu terbuka, dan tepat sebelum melangkah masuk, bibirnya melengkung ke atas.Pandangan pertama Dirga tertuju pada Laras, istri kecilnya itu mengenakan daster menyusui motif batik ungu muda, rambutnya dijepit tinggi ke atas, menyisakan banyak anak rambut pada tengkuknya, senyumnya mengembang sempurna ke arahnya.“Mas Dokter,” sambut Laras, seraya berla
Last Updated : 2026-01-07 Read more