Gio tertawa kecil, lalu mengangkat kedua tangannya sebentar ke arah Dirga. “Oke, oke. Maaf, bro,” katanya ringan, jelas ditujukan pada Dirga—bukan pada Clara.Dirga mendengus. “Kamu itu—”Namun sebelum Dirga sempat melanjutkan omelannya, Gio sudah kembali menoleh ke Clara. Tatapannya kali ini lebih terang-terangan, senyumnya ramah tapi berbahaya.“Kalau boleh tahu,” ujar Gio santai, “kamu udah punya pacar belum?”Clara sedikit terkejut. Alisnya terangkat tipis. “A-apa?”Dan sebelum ia sempat menjawab, Gio kembali menambahkan dengan cepat, masih dengan senyum yang sama, “Maksudku pacar yang beneran, ya. Bukan yang pura-pura pacaran.” Ujung matanya melirik ke arah Dirga sekilas.Dirga langsung geleng-geleng kepala mendengar pertanyaan Gio barusan. “Gio, kamu itu nggak ada remnya sama sekali, ya?”Ia menoleh ke Clara dengan ekspresi setengah pasrah. “Maafin dia. Emang dari lahir kelakuannya gini.”Gio hanya mengedikkan bahu. “Apa? Aku cuma to the point.”“Masalahnya, kamu selalu begitu s
อ่านเพิ่มเติม