LOGINAku sibuk menatap layar ponsel saat keluar dari gedung Gourmet Indonesia, hingga tanpa sadar aku menabrak dada bidang seseorang yang tiba-tiba berdiri di hadapanku."Ah!" teriakku terperanjat. Aku mendongak dan mengerjap. "Mas Raka?""Ngapain kamu jalan terburu-buru sambil fokus ke HP?" protesnya dengan kening berkerut.Aku tertawa garing, mataku bergerak gelisah ke segala arah untuk mencari alasan. "Aku... ada urusan mendadak," ucapku spontan sambil menggigit bibir, berharap Mas Raka tidak menginterogasiku lebih jauh."Ada apa?" tanyanya lagi, matanya menyipit penuh selidik.Aku menggaruk kepala yang tidak gatal sembari mengalihkan pandangan. Dalam hati aku bergumam, 'Aduh... kenapa masih tanya, sih?'"Erika... apa ada masalah?" ulangnya sambil meneliti ekspresi wajahku.Apa yang harus kukatakan? Jangan sampai dia tahu aku mau menyusul Mas Jefri ke London. Mereka tidak saling suka, Mas Raka bisa melakukan segala cara untuk mencegahku pergi."Iya, Mas..." jawabku akhirnya. Aku mencoba
"Tentu saja." Mbak Nirmala memutar laptop di atas meja, mengarahkan layarnya tepat ke hadapanku. "Hari ini dia sedang mengadakan pameran di London. Ini adalah beberapa karya populernya."Aku sedikit mencondongkan tubuh, menatap layar dengan saksama. Aku melihat hasil dokumentasi lukisan dan ilustrasi sampul novel yang pernah ia buat. Sekali pandang, aku langsung dibuat takjub oleh goresan tangannya."Wow... hasil karyanya memang sangat menarik," pujiku tulus sambil terus menggulir kursor pada laptop tersebut.Mbak Nirmala tiba-tiba mengambil alih kursor. Ia membuka sebuah draf sampul buku dari penulis lain. "Dan ini adalah hasil ilustrasi terbaru yang dia buat."Aku kembali meneliti setiap perpaduan warna yang pelukis itu tuangkan di atas sampul buku. Estetikanya benar-benar berbeda."Semua novel yang sampulnya dibuat oleh dia selalu mendapat angka penjualan yang fantastis," jelas Mbak Nirmala penuh semangat. Ia kemudian membuka data penjualan dan menunjukkan kurva statistik padaku.
Aku menyampirkan tas di pundak dengan senyum yang lebih cerah. "Baiklah, Nyonya Roy..."Dita tertawa lebar mendengar godaanku. Aku segera turun dari mobil dan melangkah masuk ke dalam gedung untuk menemui editor novelku."Selamat siang, Mbak Erika..." sapa Mbak Nirmala ramah sambil mengulurkan tangan begitu aku memasuki ruangannya.Aku menjabat tangannya hangat. "Siang, Mbak..."Kami pun duduk berhadapan. Suasana kantor yang tenang membuatku sedikit lebih rileks."Nggak menyangka ya, akhirnya Mbak Erika akan menerbitkan buku lagi setelah satu tahun vakum," ucap Mbak Nirmala dengan nada bangga."Iya, Mbak. Aku juga nggak menyangka bisa menulis lagi," sahutku sembari tersenyum lebar."Kali ini tulisan Mbak Erika jauh lebih menarik dari sebelumnya," ucapnya antusias sambil mengecek layar laptop di depannya. "Dari hasil survei, pembaca setia Mbak Erika sudah tidak sabar menunggu buku ini terbit."Aku ikut mencondongkan tubuh, menatap layar laptopnya dengan perasaan berdebar."Jujur, aku s
"Gue nggak bisa kasih tahu Pak Jefri lewat telepon, Dit," jawabku dengan wajah lesu. Aku menyandarkan bahu di dinding rumah sakit yang dingin, menatap kosong ke ujung lorong dengan mata sayu."Gue nggak tahu bagaimana suasana hatinya yang mungkin..." Suaraku tercekat di tenggorokan. Aku berusaha mengatur napas agar tak terbawa emosi, namun dadaku terasa semakin sesak. "...nggak akan mengakui bayi ini sebagai anaknya."Dita mengerutkan kening, ia berdiri tepat di hadapanku. "Apa Lo nggak bisa tunggu sampai dia pulang saja?""Sampai kapan?!" tanyaku dengan nada tinggi yang mendadak meledak. Dadaku mulai kembang kempis menahan isak yang hampir pecah. "Gue nggak pernah tahu kapan dia akan benar-benar kembali ke Indonesia. Bagaimana kalau itu sampai enam bulan? Atau bahkan satu tahun?!"Air mataku mulai luruh membasahi pipi. Aku segera membalikkan badan, bersembunyi di balik pilar tembok agar orang-orang yang berlalu-lalang di klinik itu tidak melihat rapuhnya keadaanku saat ini.Dita mend
"I-iya, nggak..." jawabku terbata."Ya terus kenapa Ello takut, Erika?" seru Dita dengan nada gemas. "Lo pikir itu janin hasil titisan?!"Aku tertawa garing sambil menggaruk kepala yang tidak gatal. "Gue takut hasilnya nggak sama kayak di berita-berita gitu...""Udah, ah! Jangan kebanyakan mengkhayal!" ucapnya ketus, lalu mendorong pelan tubuhku masuk ke dalam kamar. "Cepat gih, bersiap-siap. Gue antar Ello periksa sebelum ke kantor penerbit.""Iya... Iya..."Aku masuk ke kamar untuk bersiap. Di depan cermin, aku berdiri memandang diriku sendiri. Aku tidak menyangka, di dalam tubuhku ini ada janin yang hidup—buah cinta bersama Mas Jefri. Benar kata Dita, harusnya aku senang. Tetapi, entah kenapa aku justru merasa dihantui ketakutan.Bukan hanya karena jarak, tapi juga karena kami belum menikah secara resmi di mata negara. Aku tidak yakin pandangan orang-orang akan tetap baik terhadapku. Belum lagi rencana resepsi kami. Mana mungkin aku memakai gaun pengantin dengan perut yang membesar
Mataku seketika membulat mendengar pertanyaan itu. Napasku seolah terhenti di tenggorokan. Hamil?Aku sama sekali tidak terpikirkan soal itu sebelumnya. Apalagi, aku sudah hampir dua bulan tidak berhubungan intim sejak Mas Jefri berangkat ke London."Ah... mana mungkin. Saya pasti hanya nggak enak badan," jawabku cepat sembari mengalihkan pandangan.Aku tiba-tiba panik karena khawatir dugaan Mas Jefri itu benar. Apa jadinya kalau aku benar-benar hamil? Dia pria yang sangat posesif dan pencemburu. Sebaiknya aku menahan diri agar dia tidak curiga lebih jauh sebelum semuanya jelas."Oh... ya sudah. Jangan lupa sarapan. Kalau sempat, periksalah ke dokter. Apa... saya perlu minta Niken untuk mengantarmu?""Ah, nggak usah," tolakku cepat. Aku pun belum tahu apa yang sebenarnya terjadi padaku. Bagaimana kalau aku benar-benar hamil?"Saya... ada janji dengan penerbit hari ini. Nanti kalau sempat, biar saya pergi ke dokter sendiri," kilahku sambil memaksakan senyum ragu.Mas Jefri tersenyum ti







