ANMELDENAku spontan mengempaskan tangannya kasar. "Jangan ge-er kamu!" teriakku dengan mata melotot galak.Steafen justru tersenyum nakal, seolah sengaja menikmati reaksiku yang meledak-ledak. "Makanya... diamlah di sini. Kalau keadaanmu makin parah, yang ada aku semakin repot mengurusmu."Aku menghela napas berat, lalu menjatuhkan diri kembali ke kasur tanpa berkomentar lagi. Rasa lelah dan sakit di perut membuatku kehilangan selera untuk berdebat lebih panjang.Tak lama kemudian, Steafen kembali masuk ke ruangan sambil mendorong sebuah kursi roda. "Ayo... aku bantu kamu duduk," ucapnya lembut seraya merentangkan tangan hendak merangkul bahuku."Tidak usah!" tolakku refleks. Gerakan tangannya seketika terhenti, ia tampak tercengang melihat penolakanku yang begitu keras."A-aku bisa sendiri," ucapku gugup sambil membuang muka. Dalam hati aku bergumam gelisah, 'Aku tidak mau terus-menerus bersentuhan fisik dengannya. Bisa-bisa...' Aku mengetuk kepalaku sendiri agar tersadar. 'Ahh... apa yang
Aku terperanjat dan langsung mendorong dadanya sekuat tenaga. "Suami gadungan!" teriakku dengan mata melotot. "Cepat sana tebus obatnya! Aku sudah mulai kesakitan!""Kamu memerintah atau minta tolong?" Steafen mengangkat ujung alisnya, tampak tersulut emosi karena sikapku yang ketus.Aku spontan menyunggingkan senyum masam, mencoba menahan rasa kesal yang meluap di dada. "Aku minta tolong, Tuan..." sahutku dengan nada manis yang dipaksakan hingga terdengar janggal.Steafen menghela napas berat sambil menyilangkan tangan di dada, menatapku skeptis. "Itu sama sekali tidak terdengar seperti orang minta tolong.""Lantas kamu mau aku bagaimana?!" teriakku dengan gigi mengerat dan mata membelalak lebar.Ia tiba-tiba kembali mencondongkan wajahnya padaku secara mendadak. Gerakannya begitu cepat hingga mataku seketika membulat—aku mematung, menatap wajahnya yang hanya berjarak beberapa sentimeter."Memohonlah dengan tulus, Nona... Bukankah hanya aku yang bisa menolongmu di London?" bisiknya d
Aku memaksakan diri untuk bangkit, meski rasa nyeri di area bekas operasi terasa bagai sayatan sembilu yang tajam."Apa yang kamu lakukan?!" teriakku seraya merebut ponsel itu dengan gerakan kasar dan langsung mengakhiri panggilan."Hei, Nona... dia harus tahu keadaanmu di sini," ucap Steafen sembari mengangkat kedua alisnya, tampak tidak merasa bersalah sedikit pun."Jangan ikut campur urusanku! Kamu itu bukan siapa-siapa!" teriakku dengan napas tersengal, menahan perih di perut sekaligus amarah di dada.Sedetik kemudian, ponsel di tanganku kembali bergetar. Nama Mas Jefri berkedip di layar. Tanpa ragu, aku langsung mematikan daya ponsel itu.Steafen menyunggingkan senyum miring. Kedua tangannya bertumpu di terali ranjang, menatapku dengan sorot mata yang sulit dibaca. "Kamu mengabaikannya lagi? Apa kalian sedang bertengkar hebat?"Aku segera menyembunyikan ponsel di balik selimut sambil menatapnya sinis. "Itu masalah pribadiku, Tuan. Aku akan membayar semua jasamu nanti. Sekarang...
"Apa kamu gila?!" teriak pria itu dengan mata melotot, hampir tidak percaya dengan permintaanku.Aku menggeleng pelan sembari menahan rasa sakit yang kian dahsyat mencabik perutku. "Tolong... aku akan berikan apa pun yang kamu minta," bisikku dengan suara yang semakin samar, nyaris hilang tertelan hiruk pikuk suara gaduh di ruang UGD."Argh! Baru kali ini aku dihadapkan dengan perempuan gila sepertimu!" teriaknya kesal. Meski mengomel, ia segera menyambar pulpen dan menandatangani dokumen itu dengan gerakan cepat dan kasar."Cepat tangani dia! Menyusahkan saja!" keluhnya sembari menyodorkan kembali dokumen itu pada suster yang menunggu."Atas nama siapa?" tanya suster itu, menunjuk kolom kosong pada surat tersebut. "Anda tidak menulis nama pasien di sini."Pria itu melirikku tajam, napasnya memburu. "Hei! Cepat katakan siapa namamu?!" teriaknya tidak sabar seolah dikejar waktu."Erika..." bisikku lemah."Kamu dengar, kan, Suster? Silakan ditulis," ucapnya ketus.Suster itu mencatat n
Mataku membulat sempurna. Di sana, berdiri seorang wanita yang wajahnya pernah kulihat di foto rahasia dalam kamar Mas Jefri dan terselip di dompetnya. Dia adalah Clara, wanita yang pernah mengisi hidup Mas Jefri jauh sebelum ia mengenalku. Wajahnya benar-benar mirip denganku, hanya saja ia berambut pirang dengan postur tubuh yang lebih tinggi dan elegan.Namun, kenapa dia ada di kantor Mas Jefri mengenakan pakaian kerja? Dan apa yang baru saja kudengar? Wanita itu memanggil suamiku 'Sayang'?Tubuhku terhuyung mundur karena syok yang teramat sangat. Aku menatap Mas Jefri dengan kelopak mata yang berkedip cepat dan bibir yang bergetar hebat. "Apa maksudnya ini, Mas?! Kamu mengkhianati saya?!" teriakku dengan dada kembang kempis menahan sesak."Erika... semua ini tidak seperti yang kamu pikirkan," ucap Mas Jefri cepat sambil meremas kedua bahuku, mencoba menenangkanku."Pembohong!" Aku mengempaskan tangannya kasar dengan mata melotot tajam. "Itu sebabnya kamu selalu menunda kembali ke
Aku sibuk menatap layar ponsel saat keluar dari gedung Gourmet Indonesia, hingga tanpa sadar aku menabrak dada bidang seseorang yang tiba-tiba berdiri di hadapanku."Ah!" teriakku terperanjat. Aku mendongak dan mengerjap. "Mas Raka?""Ngapain kamu jalan terburu-buru sambil fokus ke HP?" protesnya dengan kening berkerut.Aku tertawa garing, mataku bergerak gelisah ke segala arah untuk mencari alasan. "Aku... ada urusan mendadak," ucapku spontan sambil menggigit bibir, berharap Mas Raka tidak menginterogasiku lebih jauh."Ada apa?" tanyanya lagi, matanya menyipit penuh selidik.Aku menggaruk kepala yang tidak gatal sembari mengalihkan pandangan. Dalam hati aku bergumam, 'Aduh... kenapa masih tanya, sih?'"Erika... apa ada masalah?" ulangnya sambil meneliti ekspresi wajahku.Apa yang harus kukatakan? Jangan sampai dia tahu aku mau menyusul Mas Jefri ke London. Mereka tidak saling suka, Mas Raka bisa melakukan segala cara untuk mencegahku pergi."Iya, Mas..." jawabku akhirnya. Aku mencoba







