"Nggak perlu buru-buru dijawab. Tunggu aku pulang, jawab aku nanti."Begitu Mario selesai berbicara, sosoknya yang tinggi dan ramping menghilang dari pandangan.Saat tersadar dan berlari mengejarnya, Mario sudah naik lift turun ke lantai bawah.Dia segera mengambil ponselnya dan mengirim pesan: [Hati-hati di sana, aku menunggumu pulang.][Ya.]Setelah membalas pesan, Mario turun ke bawah dan masuk mobil, langsung menuju rumah keluarganya.Sekitar pukul dua siang, Mario melangkah masuk.Begitu masuk, ruangan tampak penuh sesak.Neneknya duduk di kursi utama yang ada di tengah. Di sebelah kirinya secara berurutan adalah ayahnya, Emir, lalu ibunya, Andini. Sedangkan di sebelah kanannya adalah bibinya, Kartika, dan pamannya, Arnold Sasmitha.Kepala pelayan berdiri dengan penuh hormat di belakang Nenek Ratna, dan suasana ruang tamu terasa kaku dan serius."Kukira kamu nggak akan pulang, nggak mau mendengarkan omonganku lagi," kata Nenek Ratna sambil memukul sandaran sofa dengan keras.Ekspr
Mehr lesen