Hari telah berlalu, lima hari terasa begitu lama bagi Viony. Pagi-pagi sekali, Viony membangunkan Dylan dan meminta pada pemuda itu untuk mengantarkannya pulang. Dylan bahkan masih bergelung di bawah selimutnya, enggan mendengarkan rengekan Viony yang merecoki mimpi indahnya malam ini. "Kak ... Kakak ayo bangun, ayo antarkan aku pulang. Hari ini Papa sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit." Viony duduk di tepi ranjang menepuk-nepuk pundak Dylan. "Kak Dylan, Kakak dengar tidak, sih?!" pekik gadis itu. "Kak Dylan!""Iya, Sayang. Tunggu, lima menit lagi," jawab Dylan menarik selimutnya. Viony cemberut. "Lima menitnya Kakak itu bisa nanti, nanti, dan nanti. Kalau memang tidak mau mengantarku, tinggal bilang saja. Aku akan mencari bus dan pulang naik bus!""Heh...! Viony!" pelik Dylan, ia langsung bangun dan duduk di atas ranjang dengan air muka yang kesal dan menahan kantuk. "Jangan pulang sendiri. Tunggu aku bersiap sebentar," ujarnya. "Baiklah, tapi jangan lama-lama, ya Kak!"
더 보기