Jantung Elisa masih berdebar kencang menatap dirinya yang sangat cantik di depan cermin. Penampilannya sempurna, rambutnya sempurna, bibirnya merah merekah. Namun, ia segera menyadari bahwa apa yang ia lakukan ini sangat konyol. Ia berdandan, bukan untuk suaminya, melainkan untuk asisten suaminya. "Ya Tuhan, apa yang sudah kulakukan?" Dengan cepat, Elisa memburaikan rambutnya lagi. Rambut yang tadinya sudah ia buat ikal di bagian bawah, ia burai acak. Ia pun segera meraih tisue dan mengempitnya di bibirnya agar lipstiknya tidak terlalu mencolok. "Ya, kau hanya sedang menjalankan kewajiban yang juga kau lakukan dengan terpaksa, mengapa kau malah berdandan seperti wanita murahan begini?" Mendadak Elisa marah pada dirinya sendiri. Ia tidak mau terlihat terlalu antusias. Elisa pun baru saja selesai bersiap saat ponselnya berbunyi dan Eddy meneleponnya. "Halo," sapa Elisa begitu mengangkat teleponnya. "Kau sudah siap, Elisa? Aku akan menunggu di kantor sampai kalian selesai, kau ta
Last Updated : 2026-04-29 Read more