Lyra tetap terdiam, tak satu pun kata sanggup keluar dari bibirnya. Tatapannya kosong, seolah pikirannya terjebak di antara berbagai kemungkinan yang saling bertabrakan. Ada keguncangan yang belum sempat ia redakan.Melihat reaksi Lyra yang membisu, Erina justru tampak semakin puas. Ia menggeser posisi duduknya dengan santai, lalu menopang dagunya dengan satu tangan. Senyum sinis terlukis jelas di bibirnya saat ia menatap Lyra tanpa berkedip, menikmati kebisuan itu.“Dia pasti memberimu uang, kan?” ucap Erina pelan, nadanya tajam dan menusuk. Ia memiringkan kepalanya sedikit, seakan sedang menilai reaksi di wajah Lyra. “Dan tentu saja,” lanjutnya dengan nada mengejek, “dia juga menawarkan sesuatu padamu. Apa kamu berpikir itu tulus?”Erina menyeringai tipis, sorot matanya menyiratkan keinginan untuk menancapkan kata-katanya lebih dalam lagi. Nada suaranya meninggi, sama sekali tak menyisakan kelembutan yang dulu pernah Lyra kenal.“Kamu benar-benar polos, Lyra,” katanya dingin tanpa r
Last Updated : 2026-01-09 Read more