"Soal itu ... hanya kebetulan." Neilson akhirnya angkat bicara dengan nada datar, seolah ingin memutus dugaan yang terlanjur tumbuh di benak Lyra. “Telur itu memiliki stok paling banyak di kulkas, jadi aku membuatnya.”"Oh ...." Jawaban itu membuat Lyra tersenyum tipis, senyum yang lebih condong pada rasa malu daripada lega. Ia menunduk sebentar, menyadari bahwa dirinya mungkin terlalu percaya diri hanya karena beberapa perhatian kecil dari Neilson. Ada rasa hangat yang pelan-pelan surut, digantikan perasaan kikuk yang tak ingin ia akui.Tanpa berkata apa-apa lagi, Lyra meraih sendok dan mengambil sepotong telur gulung dari piringnya. Ia memasukkannya ke mulut dan mengunyah perlahan, rasanya tetap enak, tetapi hatinya sedikit kecewa. Namun, ia memilih diam, menyembunyikan perasaan itu di balik ekspresinya yang tenang, seolah tak terganggu.Neilson melirik sekilas ke arah Lyra, memperhatikan perubahan halus di wajah gadis itu yang tak sepenuhnya mampu ia sembunyikan. Ada bayangan k
Terakhir Diperbarui : 2026-01-06 Baca selengkapnya