“Katakan padaku, Anya. Apa yang harus kulakukan… agar kau percaya padaku?”Aku tak menjawab. Tak menoleh. Jantungku berdetak cepat, tapi aku mencoba menahannya.Kata-kata itu menggantung di udara—berat, panas.Tama masih menatapku. Tatapan yang tak pernah kulihat sebelumnya– kosong, ada tekanan, tapi juga keraguan. Kami hanya terdiam. Langit sudah semakin gelap, udara semakin dingin.Bunyi katak bersahutan, mengisi ruang hampa diantara kami.“Jujur,” kataku akhirnya.“Kau hanya perlu jujur padaku, dan kau sudah janji.”Tama masih diam. Ia menunduk perlahan, memalingkan pandangan. “Bahkan setelah apa yang terjadi, kau masih tak mau jujur?” “Apa sesulit itu… untuk jujur padaku?” suaraku bergetar,“Atau… apa yang harus kulakukan agar kau mau jujur padaku, Tama?”Ia masih diam. Tapi kini diamnya berbeda—bukan seperti dinding yang menahan, melainkan pertimbangan yang perlahan membentuk bayangan keputusan.Aku menahan napas. Setiap detik terasa seperti seribu pertanyaan tanpa jawab
Last Updated : 2026-01-04 Read more