Compartilhar

Bab 252

last update Data de publicação: 2026-05-26 22:17:02

Reihan bergegas membuka pintu belakang mobilnya menggunakan satu tangan, lalu dengan cepat mendudukkan Siska di kursi penumpang.

“Awh... sakit...” rintih Siska lagi sambil terus memegangi kakinya.

Namun Reihan tidak terlalu menanggapi hal itu. Setelah memastikan Siska duduk dengan benar, ia langsung menutup pintu lalu bergegas masuk ke kursi kemudi.

Mesin mobil kembali menyala dan melaju cepat menuju rumah sakit terdekat.

“Pak Reihan...” panggil Siska lirih dari belakang.

Reihan tidak menjawab.
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado
Comentários (1)
goodnovel comment avatar
Alfiah Ummi Hani
jgn mau reihan..cek cctv..atau kamu hrs cerita sm alya
VER TODOS OS COMENTÁRIOS

Último capítulo

  • Bimbingan Malam Dengan Dosenku   Bab 253

    Mata Siska langsung berbinar mendengar jawaban tersebut.“M-maksudnya... Pak Reihan akan datang?” tanyanya cepat, berusaha memastikan.Reihan tidak langsung menjawab. Ia hanya merapikan jam tangannya sebentar sebelum kembali menatap Siska dengan ekspresi serius.“Kalau memang ada waktu luang,” ucapnya tenang. “Tapi jangan berharap terlalu banyak.”Meski kalimat itu terdengar dingin, bagi Siska itu sudah lebih dari cukup. Setidaknya, Reihan tidak menolak mentah-mentah seperti sebelumnya. Senyum tipis langsung muncul di wajah wanita itu.“Terima kasih, Pak Reihan,” ucapnya pelan.Reihan hanya mengangguk singkat. “Kalau begitu saya pergi dulu,” ucapnya datar.Pria itu kemudian berbalik dan melangkah keluar dari ruang rawat tanpa menunggu balasan lagi dari Siska.Ceklek.Pintu kamar tertutup pelan. Dan tepat setelah sosok Reihan benar-benar menghilang dari pandangan, ekspresi lemah di wajah Siska perlahan berubah.Senyum kecil mulai terukir di bibirnya. Tangannya bergerak menyentuh dada s

  • Bimbingan Malam Dengan Dosenku   Bab 252

    Reihan bergegas membuka pintu belakang mobilnya menggunakan satu tangan, lalu dengan cepat mendudukkan Siska di kursi penumpang.“Awh... sakit...” rintih Siska lagi sambil terus memegangi kakinya.Namun Reihan tidak terlalu menanggapi hal itu. Setelah memastikan Siska duduk dengan benar, ia langsung menutup pintu lalu bergegas masuk ke kursi kemudi.Mesin mobil kembali menyala dan melaju cepat menuju rumah sakit terdekat.“Pak Reihan...” panggil Siska lirih dari belakang.Reihan tidak menjawab. Pria itu hanya melirik Siska sekilas melalui kaca spion tengah dengan raut wajah yang tetap kaku dan formal.“Maaf... gara-gara saya, mobil Anda jadi lecet,” ucap Siska pelan.Tatapan Reihan kembali lurus ke depan, fokus pada jalanan yang cukup padat.“Mobil bisa diperbaiki,” jawabnya datar. “Yang penting sekarang kondisi kamu dulu.”Kalimat sederhana itu sukses membuat hati Siska berbunga-bunga. Diam-diam, sudut bibirnya terangkat tipis. Rasanya seperti melayang di atas awan mendengar perhatia

  • Bimbingan Malam Dengan Dosenku   Bab 251

    Siska langsung melangkahkan kakinya menuju area parkiran motor. Tanpa menghiraukan materi kuliah yang sebentar lagi akan dimulai, ia segera menaiki sepeda motornya dan melesat pergi meninggalkan gedung fakultas.Ia memacu motornya dengan kecepatan tinggi membelah jalanan kota, sembari sepasang matanya terus celingukan mencari sesuatu di sela-sela kepadatan lalu lintas."Ke mana sih... Perasaan tadi jalurnya ke arah sini," gerutu Siska kesal di balik helmnya karena target yang ia kejar belum juga tertangkap oleh pandangannya.Hingga saat motornya terpaksa harus berhenti di sebuah persimpangan karena lampu merah, keberuntungan rupanya sedang berpihak pada otak liciknya.Dari jarak beberapa kendaraan di depannya, mata tajam Siska langsung menangkap sesosok mobil mewah yang sejak tadi ia cari-cari. Mobil milik Reihan."Itu dia... Tunggu aku, Sayang," gumam Siska dengan senyum tipis yang sarat akan obsesi gila.Begitu lampu berubah menjadi hijau, Siska segera menjalankan motornya. Di dalam

  • Bimbingan Malam Dengan Dosenku   Bab 250

    Alya terdiam sejenak. Jemarinya memainkan ujung serbet di pangkuannya, tampak menimbang-nimbang sesuatu sebelum akhirnya seulas senyum tipis terbit di bibirnya. Ia mendongak dan mengangguk pelan."Baiklah, Mas. Aku setuju," ucap Alya, membuat binar lega langsung terpancar dari sepasang mata suaminya.Namun, sebelum Reihan sempat merasa lega, Alya buru-buru menambahkan, "Tapi, Mas... kalau boleh, aku punya satu permintaan. Bagaimana kalau acara pernikahan kita nanti sekalian dibarengi dengan acara syukuran tujuh bulanan anak kita?"Mendengar ide cerdas dari istrinya, senyum di wajah tampan Reihan langsung mengembang lebar."Ok... itu ide yang jauh lebih baik, Sayang. Kita buat acaranya sekalian."Setelah suasana kembali tenang, Reihan merapikan posisi duduknya lalu menunjuk makanan di atas meja.“Sekarang, mari kita lanjut makan malam kita sebelum semuanya dingin.”Alya mengangguk kecil sambil tersenyum manis.“Iya, Mas.”Dan malam itu kembali dipenuhi obrolan ringan, tawa hangat, sert

  • Bimbingan Malam Dengan Dosenku   Bab 249

    "Terima kasih, Mas," ucap Alya lirih, suaranya masih terdengar serak. "Terima kasih karena selalu membuatku merasa berharga."Reihan tersenyum hangat, mengusap sisa ujung matanya yang basah. "Iya, Sayang. Karena ini memang sudah menjadi tugasku sebagai suamimu."Pria itu kemudian bangkit dari posisi berlututnya. "Sekarang, jangan menangis lagi, ya. Mas menyiapkan semua ini untuk membuatmu bahagia, bukan untuk membuatmu menangis," bujuk Reihan lembut.Tanpa banyak bicara lagi, Reihan mengambil kalung berlian itu dari dalam kotak beludru, lalu berdiri di belakang Alya. Dengan gerakan hati-hati, ia memasangkan kalung tersebut di leher sang istri."Kalung ini terlihat jauh lebih indah karena kamu yang memakainya." ucap Reihan.Pipi Alya langsung memerah. Meski bekas air matanya masih terlihat, senyum manis kini tak lagi lepas dari bibirnya.“Terima kasih, Mas,” bisiknya pelan."Sama-sama, Sayang. Sekarang, ayo kita makan," ajak Reihan sambil berjalan kembali dan duduk di kursinya yang ber

  • Bimbingan Malam Dengan Dosenku   Bab 248

    Tak lama kemudian, mobil mewah itu berbelok mulus memasuki pekarangan rumah mereka. Begitu mesin mati, Reihan langsung turun dengan sigap. Seperti biasa, ia membukakan pintu untuk Alya.Namun, saat Alya hendak melangkah menuju pintu utama, Reihan menahan lengannya pelan."Tunggu sebentar, Sayang," ucap Reihan. Dari dalam saku kemeja hitamnya, ia mengeluarkan selembar kain pita berwarna gelap yang terlipat rapi.Alya mengernyit heran. "Eh? Buat apa, Mas?""Kamu pakai ini dulu, ya," ujar Reihan tanpa menjawab pertanyaan istrinya.Dengan gerakan lembut, ia mulai memosisikan kain itu untuk menutup kedua mata Alya, lalu mengikatnya perlahan di bagian belakang kepala."Mas, kita mau ngapain sih? Kenapa harus pakai tutup mata segala?" tanya Alya beruntun. Langkah kakinya mendadak ragu karena pandangannya kini menjadi gelap gulita."Ada sesuatu yang mau Mas tunjukkan ke kamu." bisik Reihan lembut di dekat telinganya."Ayo," ucapnya lagi.Reihan kemudian menuntun Alya dengan sangat hati-hati.

  • Bimbingan Malam Dengan Dosenku   bab 76

    Suasana kelas mendadak terasa lebih dingin dari suhu AC yang menyala. Alya duduk kembali ke kursinya dengan gerakan kaku, mengabaikan tatapan sinis yang mulai bermunculan dari sekelilingnya. Reihan kembali melanjutkan materinya seolah tidak baru saja menjatuhkan hukuman yang menghancurkan suasana h

    last updateÚltima atualização : 2026-03-28
  • Bimbingan Malam Dengan Dosenku   bab 68

    Alya terduduk lesu di kursi makan yang dingin. Ia menyadari posisinya dengan sangat jelas sekarang. Pernikahan mereka berlangsung tanpa adanya rasa suka di awal, sebuah ikatan yang terjalin karena situasi, bukan karena hati. Selama ini, ia merasa hanya bisa menjadi beban bagi Reihan. Pikirannya me

    last updateÚltima atualização : 2026-03-27
  • Bimbingan Malam Dengan Dosenku   bab 73

    Alya terbangun dengan sentakan kecil di tubuhnya. Jantungnya berdegup kencang saat ia teringat akan tenggat waktu pekerjaan sampingannya yang belum selesai. Mengingat kliennya meminta naskah itu harus beres besok pagi, ia tidak boleh membuang waktu."Astaga, aku ketiduran!" ucap Alya lirih sambil b

    last updateÚltima atualização : 2026-03-27
  • Bimbingan Malam Dengan Dosenku   bab 69

    Alya terdiam sejenak, rasa malu dan rasa bersalah bercampur menjadi satu di dadanya. Ia merasa seolah-olah seluruh harga dirinya baru saja runtuh di hadapan pria yang selama ini ia segani. Ia tidak tahu harus berbuat apa lagi untuk menghentikan ibu tirinya yang telah melempar fitnah kejam itu.Hing

    last updateÚltima atualização : 2026-03-27
Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status