"Sudah, lupakan Papa dan Mama. Sekarang, suhuku kayaknya naik, Dokter. Kamu nggak mau periksa aku?"Zinia langsung menepuk jidatnya. "Nanta, kamu ini baru saja dijewer Papa kamu, baru saja hampir ketahuan bohong soal CEO, masih sempat-sempatnya minta diperiksa?"Kananta langsung berbaring di sofa dengan gaya paling dramatis se-Indonesia. Tangannya ditaruh di dahi, matanya setengah tertutup, seperti aktor sinetron yang sedang sekarat di episode 200."Zin, aku serius. Aku merasa demam. Mungkin karena tadi aku terlalu lama berdiri di depan Mama Papa menahan malu. Malu itu bisa bikin meriang, tahu? Ini penyakit yang cuma bisa disembuhkan sama dokter andrologi yang cantik."Zinia mengambil termometer dari kotak obatnya dengan gerakan yang sangat profesional, tapi mulutnya tidak berhenti mengomel."Buka mulut. Jangan ngomong."Kananta membuka mulut, termometer masuk, tapi matanya tetap menatap Zinia dengan tatapan yang sangat tidak sopan untuk ukuran pasien."36,5. Normal." Zinia menunjukka
Read more