Sore itu, langit menggantung kelabu di atas rumah keluarga von Richter. Rintik hujan pertama jatuh perlahan—seperti bisikan dari awan yang menyimpan lebih banyak rahasia daripada cahaya. Di halaman belakang, Margarethe dan Adelheid jongkok di dekat semak mawar. Tanah basah melekat di jemari mereka, daun gugur berserakan di sekitar—entah apa yang sebenarnya sedang mereka cari. “Aku yakin tadi dia lari ke arah sini,” gumam Adelheid sambil menyingkap roknya yang sudah kotor tanah, sama sekali tak peduli soal sopan santun. “Seekor tupai, Adelheid. Bukan buronan negara,” sahut Margarethe datar, meski sudut bibirnya bergerak tipis. Ia menunjuk ke sela pot besar. “Dan kenapa pula kau memberinya nama?” “Karena dia lari seperti aku waktu kecil,” jawab Adelheid ringan. “Lincah. Sedikit kurang ajar.” Margarethe menghela napas pelan. “Tentu saja. Tupai malang itu pasti trauma sekarang.” Hujan turun lebih deras. Tanah menggelap, lengket. Gaun Margarethe menempel di tubuhnya, syal
Terakhir Diperbarui : 2025-12-16 Baca selengkapnya