Setelah gelombang gairah mencapai puncaknya dan perlahan mereda, Rendra tidak langsung menarik diri. Tubuhnya masih menindih Dara, berat dan hangat, mengurungnya dalam keintiman yang mendalam. Napasnya yang berat masih berbaur dengan napas Dara yang tak beraturan. Dia menatap mata Dara, yang masih berkaca-kaca oleh campuran kenikmatan, rasa bersalah, dan kelelahan. Di dalam tatapan Rendra, ada kepuasan yang dalam, tetapi juga sesuatu yang lebih lembut, lebih posesif. “Jangan pernah lupakan malam ini,” bisiknya, suaranya masih serak. Rendra benar-benar memperlakukan Dara dengan lembut. “Jangan pernah lupa siapa yang benar-benar membuatmu merasa hidup kembali.” Kemudian, kepalanya kembali menunduk. Kali ini, ciumannya tidak lagi penuh gairah liar, tetapi lebih dalam, lebih lambat, penuh dengan sebuah pernyataan yang tak terucap. Sebuah pembuktian atas apa yang baru saja terjadi, dan sebuah janji akan apa
Dernière mise à jour : 2025-12-09 Read More