LOGINRuang batu yang luas itu dipenuhi aura gelap yang menekan. Dindingnya dipenuhi ukiran kuno yang memancarkan energi asing, seolah menyimpan sejarah panjang yang penuh darah. Di tengah ruangan, tubuh Rania terbaring tak berdaya. Segel energi membungkus seluruh tubuhnya seperti rantai tak kasat mata, mengunci setiap aliran kekuatan di dalam dirinya. Aura Raja Suci tahap awal yang ia miliki sama sekali tidak bisa digunakan. Di hadapannya, seorang pria berdiri dengan tangan di belakang punggungnya. Tatapannya tajam dan dingin, seperti ular yang sedang mengamati mangsanya. Nara Aolong. Di sampingnya, Raka berdiri dengan ekspresi tenang, seolah semua ini hanyalah bagian dari rencana yang telah ia perhitungkan sejak awal. “Jadi ini gadis naga yang kau maksud?” Suara Nara rendah, namun membawa tekanan yang membuat udara di sekitarnya terasa berat. Tatapannya jatuh pada tubuh Rania."Iya Ayah." Beberapa saat Nara hanya diam, mengamati Rania tanpa berkedip. Lalu perlahan, alisnya men
Cahaya keemasan masih menyelimuti altar. Tenang. Hangat. Namun di tengah ketenangan itu… Waktu terasa berjalan sangat lambat. Nathan masih belum terbangun. Tubuhnya tetap terbaring di atas ranjang emas. Napasnya lemah. Namun stabil. Di sampingnya… Ravina tidak pernah menjauh. Sejak kesadarannya kembali… Ia terus berada di sana. Menjaga. Merawat. Dengan tangannya sendiri, ia membersihkan darah yang mengering di tubuh Nathan. Air hangat ia usapkan perlahan, hati-hati, seolah takut melukai pria itu lebih jauh. “Kapan kau akan bangun?” Bisiknya lirih, meski Nathan tidak bisa mendengar. Ia mengganti kain di tubuh Nathan, merapikan rambutnya, lalu menatap wajah pria itu lama. Seolah mencoba menghafal setiap detail. Kadang… Ia hanya duduk diam. Menggenggam tangan Nathan. Menempelkan pipinya di atas punggung tangan itu. “Aku di sini…” “Aku tidak akan pergi lagi…” Hari berlalu tanpa ia sadari. Ia tidak merasa lelah. Tidak merasa bosan. Karena untuk pertama kalinya
Cahaya keemasan memenuhi seluruh ruangan. Suasana di dalam altar itu tenang. Terlalu tenang. Di atas ranjang emas… Nathan masih terbaring tanpa kesadaran. Napasnya lemah. Hampir tak terasa. Luka di tubuhnya masih terlihat jelas. Namun perlahan… Cahaya di ruangan itu seolah meresap ke dalam tubuhnya. Menghangatkan. Menjaga. Di sampingnya… Ravina duduk diam. Tangannya menggenggam erat tangan Nathan. Sejak tadi… Ia tidak melepaskannya sedikit pun. Tatapannya tertuju pada wajah pria itu. Pucat. Diam. Tanpa respon. Namun kali ini… Ia tidak lagi panik seperti sebelumnya. Ia hanya diam. Menunggu. Dengan tekad yang jauh lebih kuat dari sebelumnya. “Suamiku…” Suaranya lirih. Hampir seperti bisikan. “Aku di sini…” Ia menunduk perlahan. Menempelkan keningnya pada tangan Nathan. Air matanya masih jatuh. Namun tidak lagi penuh kepanikan. Melainkan… Kesabaran. Dan keyakinan. “Aku akan menunggumu bangun…” “Selama apa pun itu…” Cahaya keemasan berdenyut pelan.
Pria tua itu menatap Ravina dengan sorot mata yang dalam. "Jika kau benar-benar bersedia mengorbankan dirimu… maka aku akan memberimu kesempatan." Tangannya bergerak ringan. Sebuah tirai cahaya perlahan terbuka di hadapan Ravina. Cahaya itu berpendar lembut, namun terasa begitu dalam, seolah menyimpan sesuatu yang tak terjangkau oleh akal. "Masuklah." "Itu adalah pintu pengorbanan." "Jika kau benar-benar tulus… dan bersedia mengorbankan jiwamu, maka suamimu akan bangun." Ravina terdiam. Tatapannya bergetar. Keraguan sempat muncul di hatinya. Namun pria tua itu tiba-tiba tertawa kecil. "Hoho… kau pikir aku akan menipumu?" Ia menatap Ravina dengan santai. "Dengan kekuatanku, jika aku ingin membunuhmu, itu hanya soal satu jentikan jari." Ravina terdiam. Pikirannya berputar cepat. Ia tahu... Apa yang dikatakan pria tua itu benar. Jika pria itu berniat jahat, bahkan jika Nathan berada di kondisi puncaknya sekalipun… Mereka tetap tidak akan mampu melawannya. Namun... R
Tubuh Nathan meluncur cepat ke dalam jurang yang gelap dan seolah tak berdasar. Angin dingin mengiris kulitnya. Namun ia sudah tidak merasakannya lagi. Kesadarannya perlahan memudar. Dunia di sekelilingnya berubah menjadi gelap. Sunyi. Kosong. ... Di dalam ruang kesadarannya... Ravina tetap berdiri diam. Ia masih merajuk pada Nathan setelah perdebatan mereka sebelumnya tentang Raka. Namun sekarang... Tatapannya bergetar saat merasakan kondisi Nathan yang semakin melemah. Untuk pertama kalinya... Ia merasakan sesuatu yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Ketakutan. Namun bukan karena musuh. Melainkan karena kehilangan. Bayangan percakapannya dengan Nathan sebelumnya terlintas di benaknya. Ia memilih mempercayai Raka. Ia meragukan Nathan. Ia bahkan membantahnya. Dan sekarang... Nathan berada di ambang kematian. Karena dirinya. Tubuh Ravina bergetar. "Tidak..." Suaranya pelan. Penuh penyesalan. Ia menatap ke arah kegelapan di h
Sementara itu Nathan masih terus bertarung melawan raksasa api di depannya. Pertarungan itu memang terlihat seimbang, namun sebenarnya… Nathan dengan kemampuannya sama sekali tidak mampu menggores tubuh raksasa api itu sedikit pun. Nathan memikirkan perbedaan antara tubuh raksasa api kuno dengan Gandra dan bahkan Ranggan. Setidaknya kedua raksasa yang pernah ia hadapi sebelumnya tidak sekuat makhluk di depannya sekarang. Saat pertarungan sengit masih berlangsung, tiba-tiba tujuh hingga delapan sosok lain muncul dan langsung mengelilingi medan pertempuran itu. Mereka semua adalah anggota klan raksasa kuno. Setidaknya masing-masing berada di tingkat Raja Raksasa dua bintang, yang setara dengan kultivator Alam Kaisar Suci tahap menengah. Dan yang terkuat berada di Raja Raksasa tiga bintang. Nathan langsung merasakan tekanan yang sangat berat dari mereka semua. Satu raksasa api saja sudah sekuat Raka, dan tubuhnya bahkan tidak bisa dilukai. Sekarang bertambah tujuh raksasa lain
Mila terus berbicara cepat, menyampaikan kalimat demi kalimat tanpa memberi kesempatan pada Rania untuk menjelaskan apa pun. “Aku sangat setuju kalau kalian berdua jadi pasangan kekasih! Menurutku Rian itu pemuda yang baik. Lagipula, Ran… sudah saatnya kamu bahagia. Jangan terus memikirkan kekasih
Akan tetapi Elang merasa begitu percaya diri, karena ayahnya, Dominic Mesadi, adalah rekan bisnis Brian Smith, ayah Mila. Jadi bisa dikatakan mereka berdua punya latar belakang keluarga yang setara, dan juga... hubungan Dominic dan Brian memang cukup erat. Beberapa kali Dominic sengaja melemparkan
“Karena kau telah kalah, sekarang saatnya kau menentukan pilihan. Dari dua pilihan yang aku tawarkan, mana yang kau pilih. Jadilah ksatria dan akui kekalahanmu,” ujar Nathan dengan suara tegas dan penuh wibawa. Big Bear, yang tiga tulang rusuknya patah, berusaha bangkit kemudian berlutut di depan
Semua orang yang menyaksikan adegan itu sejak awal, sangat terkesan dan takjub dengan kemampuan Nathan, namun sebagian orang merasa kasihan padanya karena mereka tahu identitas Dicky tidaklah biasa. Selain seorang pejabat pemerintahan, dia juga adik angkat dari pemimpin geng bawah tanah terbesar k







