“Iya, Pak. Saya nggak masuk kuliah kemarin,” sahut Lala tanpa menatap wajah Elric. Lala langsung melangkah menuju ke arah kulkas. Tangannya terulur untuk mengambil selai. Itu hanya pengalih saja agar tak bertatapan dengan Elric. “Tak usah sok peduli,” ujar Elric balik. Tubuh Lala menegang. Ucapan itu seperti panah kecil yang menusuk hatinya. “Kemarin saya diare, Pak. Bukan karena mau merawat Bapak,” Lala menutup pintu kulkas itu dengan keras. Elric langsung duduk di kursi dekat meja makan. “Pak, bunga pesanan Bapak sudah tiba,” nampak Bayu datang dengan membawa buket mawar merah. “Taruh di situ,” ujar Elric sambil memakan nasi merah yang sudah tersaji di piring. Lala menatap sekilas buket mawar merah itu. Itu buket yang besar. Mawarnya nampak mekar merah merona. “La, sini,” Elric menyuruhnya mendekat. Lala berjalan mendekat sambil memegang pisau kecil dan botol selai coklat itu. “Kenapa, Pak?” tanya Lala, matanya sengaja menghindari tatapan Elric. Buket bunga mawar
Última actualización : 2025-12-24 Leer más