Pukul satu siang, waktunya Aya menjemput Putra dari sekolah. Melihat wajah ceria sang anak sedikit mengobati luka di hatinya, namun rasa pening di kepalanya semakin menjadi-jadi."Bunda, wajah Bunda merah," ucap Putra sambil memegang pipi ibunya saat mereka berada di dalam mobil.Aya tersenyum tipis, berusaha mengabaikan denyutan di pelipisnya. "Bunda hanya sedikit mengantuk, Sayang.""Kita pulang saja ya, Bun? Jangan ke kantor lagi. Putra mau temenin Bunda di rumah," pinta Putra dengan mata bulatnya yang menggemaskan dan penuh ketulusan.Aya menatap wajah yang sangat mirip dengan suami dinginnya. Wajah yang tadi malam menatapnya dingin dan bahkan menghindar hanya karena dimintai sebuah penjelasan. Dalam hati, Aya menyayangkan hati tulus anaknya itu, harus memiliki wajah sedingin Ibra.Santo, kepala pelayan yang khusus melayani Aya dan Putra, melirik dari kaca spion tengah untuk memastikan keadaan majikannya."Nyonya, Anda baik-baik saja? Wajah Nyonya pucat sekali," tanya Santo peduli
더 보기