Dewi tiba-tiba menghentikan omelannya. Ia baru menyadari bahwa putranya tidak sedang dalam kondisi prima. Wajah Ibra pucat pasi, matanya sayu, dan ia tampak menggantungkan berat tubuhnya pada Samuel."Bu... Sebaiknya biarkan Pak Ibra istirahat sebentar," potong Samuel yang merasa kasihan pada sang bos. Ia sendiri baru mengetahui jika istri sang Presdir juga jatuh sakit."Lho... Ibra? Kamu kenapa?" Nada suara Dewi berubah seketika, dari marah menjadi khawatir yang amat sangat."Maaf, Bu Dewi," sahut Samuel dengan sopan. "Pak Ibra tiba-tiba mual hebat saat rapat tadi. Sepertinya beliau sakit, masuk angin. Saya mohon izin membawa Pak Ibra ke kamar sekarang."Dewi terdiam, rasa bersalah sedikit menyelinap di hatinya, namun ia lebih fokus pada kondisi fisik anaknya. "Ya sudah, bawa ke atas cepat! Menantuku juga sedang istirahat di sana. Jadi hati-hati.""Baik, Bu." Samuel memapah sang bos berjalan menaiki tangga. Dewi pun mengekor di belakang mereka. Setibanya di lantai dua, Dewi membantu
Mehr lesen