“Apa kaca di rumah lo kurang banyak?” Balas Kara tak mau kalah.“Ya… iya juga sih, hahaha,” Seno tertawa keras menyadari kebodohannya.“Bagus deh kalo cepet sadar,” Kara melirik acuh pada sahabatnya itu.“Kenapa?” Tanya Lavie, mendongak untuk melihat wajah lelaki jangkung di sampingnya.“Nggak apa-apa, lucu aja liat pasangan baru ini. Bucin banget,” serunya di dekat Lavie.“Biarin aja.”“Apa?”“Biarin aja!” Lavie menaikkan suaranya.“Maklum pasangan baru, lagi butterfly era itu, jangan diganggu,” lanjutnya.“Oke, sayang. Siap.”“Kamu manggil kayak gitu lagi, aku tabok.”“Dibilang cium aja boleh, kalo tabok jangan, nanti sakit.”“Najis.”“Mana ada najis tapi bisa bikin jatuh cinta gini.”“Aku enggak. Jangan ngaku-ngaku deh.”Di sudut yang lain, Claudia tampak beberapa kali melihat ke arah Gavin dan Diandra bergantian. Sesuai dugaannya, Gavin tak sedikit pun memalingkan wajahnya dari Diandra. Sejak pertama kali gadis itu muncul di bazar, sampai mufes ini hampir mencapai acara puncak.Gav
Read more