Zelena membeku sesaat. Walau masih baru, tapi ia mengenali mereka bahkan tanpa harus menatap terlalu lama.Sandra bersandar di pintu toilet dengan kedua tangan terlipat di dada, ekspresinya dingin dan sakit hati. Di dekat wastafel berdiri Dania, tubuhnya tegak, sorot matanya tajam dan penuh rasa tidak suka.“Ada yang bisa aku bantu?” tanya Zelena tenang meski jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.“Kayaknya kita perlu ngobrol-ngobrol sebentar.”“Ngobrol?” Zelena melirik sekilas ke pintu yang terhalang tubuh Sandra. “Kayaknya ini bukan tempat yang tepat.”“Justru pas,” sahut Dania cepat. “Jadi lebih privat.”Zelena menghela napas. Ia tidak mundur, tidak juga maju. Ia tetap berdiri di tempatnya, menjaga jarak aman. “Kalau memang ada urusan soal project, kita bisa bahas di ruangan,” ucapnya.Sandra langsung berdecak. “Wah, profesional banget. Baru juga masuk udah sok!”Zelena menatap Sandra lurus-lurus. “Aku nggak sok apa-apa. Aku cuma kerja.”“Kerja?” Sandra menarik langkah mend
Última atualização : 2025-12-15 Ler mais