Share

Bab 53

Author: Lavenhaze
last update publish date: 2026-03-05 19:20:50

“Tidak sama sekali, kenapa beranggapan begitu?” tanya Aneya.

“Mungkin hanya pikiranku saja,” jawab Ravin lirih.

Aneya belum melangkah masuk. Namun, salah satu tangannya menopang pintu, ia diam beberapa detik memperhatikan Ravin.

“Ada lagi yang ingin disampaikan?” tanya Aneya lagi.

Ravin menggelengkan kepala. Pria itu masuk lebih dulu ke dalam ruangannya, sedangkan Aneya masih berada di posisi yang sama seraya menghela napas pelan.

Ia kemudian masuk ke dalam ruangan. Menaruh barang-barangnya di
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 92

    Detik dan menit berlalu, tidak ada tanda-tanda bahwa Aneya akan beranjak. Alih-alih keluar untuk mengambil udara segar atau mengisi perut, ia memilih untuk memeriksa kembali pekerjaannya. “Semuanya sudah lengkap dan aman, apa lagi yang akan ku kerjakan sore nanti? Atau mungkin Ravin ingin menginformasikan kerjaan tambahan lagi?” tanya Aneya bergumam dalam sunyi. Ia tidak tahu harus membunuh waktu dengan cara seperti apa lagi sembari menunggu konfirmasi dari Ravin. Rasa kantuk tidak bisa dibendung, Aneya kemudian menumpu kepalanya pada lengan yang dilipat di atas meja, seolah mencari posisi paling nyaman untuk terlelap. “Sepertinya mengambil waktu untuk tidur siang sedikit bukan masalah besar,” kata Aneya pelan sambil menutup kedua kelopak matanya. Di alam bawah sadar, Aneya sudah tidak peduli akan dunia nyata yang tengah dihadapi. Namun, ketenangan itu hanya berlangsung beberapa menit saat indra pendengarannya menangkap suara ketukan pintu. Masih dengan nyawa yang belum tert

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 91

    Aneya mengembuskan napas pelan diikuti dengan rahang yang mengeras. Kalimat itu terlalu berat untuk diputar kembali di dalam kepalanya. Ponselnya ditaruh di samping komputer dengan posisi layar yang telungkup ke bawah. Ia tidak ingin menghiraukan pemberitahuan apa pun yang masuk di sana. “Memikirkan pesan itu sama saja aku membuang waktu yang berharga untuk ku pakai bekerja,” tampik Aneya atas perasaannya. Dokumen yang terjeda saat diperiksa kembali dilanjutkan. Dengan satu tarikkan napas dalam, Aneya mulai memusatkan perhatian pada kewajibannya. Beberapa kali ruangan Aneya sempat diinterupsi oleh sejumlah karyawan dari sebagian unit. Ia terlampau produktif menghadapi semuanya. “Maaf mengganggu Anda, Ibu Aneya, saya ingin bertanya. Bagaimana dengan dokumen dari unit pemasaran kemarin? Apakah hasilnya sudah terunggah di server perusahaan?” tanya seorang karyawan tampak tergesa. “Sepertinya belum, dokumen divisi pemasaran masih bersama Pak Ravin, mungkin Anda bisa memeriksa

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 90

    “Sebenarnya bisa, kau yakin untuk melakukannya? Bagaimana jika salah satu dari karyawan lain tidak terlalu teliti sepertimu?” jawab Ravin sekaligus membuat Aneya mempertimbangkan kembali pertanyaan tersebut. “Ravin, kau gila. Kau tidak boleh menganggap remeh karyawan yang lain. Kau tidak akan bisa mengatur semua ini jika bukan tanpa mereka dan aku!” pekik Aneya dengan emosi yang menggebu. Ia berdiri dari kursi dan mengambil beberapa dokumen secara kasar. Napasnya naik turun dan sorot matanya memanas menatap Ravin. “Kau tahu, itu sama saja kau meremehkanku!,” cerca Aneya, “Aku tidak akan mengerjakan semua ini, bijaklah menjadi direktur!” Aneya mengayunkan kaki dengan langkah lebar. Sebelum ia berhasil meraih gagang pintu, sebuah cengkraman seketika berhasil mendarat di bahunya, tetapi tidak terlalu kuat. “Aku tidak meremehkanmu,” kata Ravin dengan nada yang rendah. Aneya menoleh pada Ravin dengan sorot mata seolah tidak percaya. Tangan kanannya menepis pegangan dari pria te

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 89

    “Pagi … semuanya sudah … pulih,” gagap Aneya dengan badan yang masih mematung. Senyum Ravin membuat pandangan Aneya hampir gagal fokus. Pria itu mengangguk pelan dan mengambil langkah mundur beberapa senti dari pintu. “Senang mendengar kabarmu hari ini, aku hanya datang memeriksa. Ku kira tadi bukan kau yang datang,” sahut Ravin dengan nada yang terdengar ceria. “Maafkan aku kemarin yang tiba-tiba…,” kata Aneya terpotong. Ia mulai menggerakan sedikit jari tangannya demi merangsang motoriknya agar bisa bergerak. Dengan gerakan yang refleks, Aneya kemudian menyelipkan beberapa helai rambut ke belakang telinga. “Tidak masalah. Oh iya, sebelum aku berangkat siang nanti, bisa ke ruanganku sebentar saja? Ada beberapa data yang sedikit bermasalah, siapa tahu kau bisa perbaiki?” tanya Ravin tidak lupa memberi himbauan secara tidak langsung. “Kau … berangkat siang nanti?” tanya Aneya mencoba memastikan. “Iya, setelah makan siang,” jawab Ravin sederhana dengan senyum tipis. Aneya mengan

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 88

    “Aneya aku bisa jelaskan, itu bukan seperti yang kau dengar,” kata Arya meyakinkan sambil ancang-ancang turun dari kendaraan. “Tetaplah di tempatmu, jangan mendekatiku!” seru Aneya sedikit memekik. Sorot mata itu menangkap pria tersebut yang mengurungkan gerakan turun dari motor. Aliran darahnya berdesir akibat detak jantung yang terpacu, tanpa memperdulikan Arya yang masih berada di posisi yang sama, ia mengambil langkah pelan dan melanjutkan perjalanannya yang sempat tertunda. Aneya tidak perduli jika Arya mengekor hingga ke halte bus. Setidaknya ia tidak diantar oleh seseorang yang sudah berkhianat, seseorang yang mencoba memperbaiki keadaan. Namun, hanya semakin memperparah. “Duluan, walau kau mencoba membujuk diriku sekarang tetap saja aku tidak akan mau,” kata Aneya ketus tanpa menoleh. Suara deru motor pria itu terdengar semakin dekat di sampingnya, tidak terlalu jauh dari trotoar yang dilalui. Aneya sama sekali tidak mengerti mengapa pria itu tetap memaksakan diri un

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 87

    Langkahnya teratur menuju kamar. Ketika Aneya menutup pintu, ia kemudian mendengar getaran yang berasal dari benda pipih di samping bantal. Badan Aneya seolah menuntun dirinya untuk segera memeriksa ponsel tersebut. Sebuah pesan dari Ravin, cukup membuatnya duduk terpaku pada sisi ranjang. “Terima kasih, aku sudah memeriksa surel yang kau kirimkan. Tidak ada revisi kali ini, aku salut padamu yang tetap menjaga performa walaupun sedang tidak enak badan,” kata pesan dari Ravin dengan polesan pujian. “Senang mendengarnya,” balas Aneya singkat dan langsung menjatuhkan badan di atas tempat tidur. “Bagaimana keadaanmu sekarang? Sudah makan dan minum obat?” tanya Ravin memberondong pertanyaan pada pesan berikutnya. “Aku sudah makan malam dan meminum obat yang kau berikan, sekali lagi terima kasih,” dalih Aneya membalas pesan. “Berharap besok kau sudah bisa masuk kantor,” celetuk pesan Ravin penuh harap. Lama Aneya menatap layar ponselnya. Harapan itu bagaikan ajakan yang wajib

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 32

    “Saya tidak bisa berenang, Pak,” jawab Aneya.Pria itu menoleh singkat ke arahnya. Ravin menggeleng pelan, senyum miring terukir tipis di sudut bibirnya, sebuah penyangkalan halus, seolah apa yang baru saja Aneya katakan terdengar terlalu mustahil untuk menjadi nyata.“Tidak begitu terkejut, tapi t

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 31

    “Tentu saja bisa, Pak,” jawab Aneya cepat.Jawaban itu meluncur begitu saja, tanpa ia saring, tanpa ia timbang. Bahkan sebelum pikirannya sempat menyusul untuk mempertimbangkan kemungkinan lain, bibirnya sudah lebih dulu mengambil keputusan.Ada jeda sepersekian detik setelahnya, hening kecil yang

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 30

    Belum sempat Aneya menjawab, mobil Ravin melambat lalu berbelok ke sisi jalan. Ban berhenti tepat di depan sebuah restoran. Tidak mencolok, tidak pula tampak seperti tempat yang biasa dipenuhi orang saat akhir pekan.Aneya refleks menoleh ke sekitar begitu mesin dimatikan. Area parkirnya setengah k

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 29

    “Aku juga tidak tahu,” balas Arya.Kalimat itu terdengar ringan, nyaris malas, seolah apa yang telah terjadi sebelumnya di antara mereka hanyalah sebuah kejadian sepele yang tidak layak dipikirkan terlalu lama. Mulut Aneya terbuka tanpa suara.Untuk sesaat, ia hanya memandang Arya, mencoba memastik

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status