Share

Bab 53

Author: Lavenhaze
last update publish date: 2026-03-05 19:20:50

“Tidak sama sekali, kenapa beranggapan begitu?” tanya Aneya.

“Mungkin hanya pikiranku saja,” jawab Ravin lirih.

Aneya belum melangkah masuk. Namun, salah satu tangannya menopang pintu, ia diam beberapa detik memperhatikan Ravin.

“Ada lagi yang ingin disampaikan?” tanya Aneya lagi.

Ravin menggelengkan kepala. Pria itu masuk lebih dulu ke dalam ruangannya, sedangkan Aneya masih berada di posisi yang sama seraya menghela napas pelan.

Ia kemudian masuk ke dalam ruangan. Menaruh barang-barangnya di
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 173

    Ravin mengangguk singkat. “Tentu. Terima kasih sudah meluangkan waktumu hari ini, Farhan.” Aneya memperhatikan Farhan meraih tas kerjanya yang terletak di samping sofa. Pria itu menyampirkannya ke bahu, lalu merapikan bagian depan kemejanya dengan sekali usap sebelum melangkah menuju pintu. Beberapa saat kemudian, Ravin mengubah posisi, pria tersebut tidak lagi berdiri di sampingnya. Dari sudut matanya, Aneya melihat pria itu berjalan menyusul Farhan hingga keduanya berada di dekat pintu ruangan. “Jika ada perkembangan apa pun, langsung hubungi aku,” ujar Ravin dengan bahu bersandar santai pada kusen pintu, dan nada yang terdengar serius. Farhan mengangguk pelan. Sebelum melangkah pergi, pria itu menepuk bahu Ravin sekali. “Tenang saja. Sekarang giliranmu yang menjaga klienku,” balas Farhan diselingi sedikit canda. Dari tempat duduknya, Aneya menangkap percakapan yang terjadi di ambang pintu. Meskipun percakapan itu singkat, ia dapat merasakan kepercayaan yang terjalin di

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 172

    Aneya tertegun saat mendengar pertanyaan itu keluar dari bibir Ravin. Meskipun nada yang ia dengar seperti tak sudi untuk dikatakan, tetapi ada rasa penasaran yang dapat tergambarkan di sana. “Dia baik-baik saja, anggota yang lain sudah tiba menanganinya sebelum kami ke sini,” jawab salah satu orang kepercayaan Ravin tersebut. “Katakan padanya untuk menyiapkan pengacara, jika dia bersikeras menolak nantinya, maka aku akan merekomendasikan pengacara yang cocok untuknya,” ujar Ravin dengan senyum miring penuh arti. Kedua pria itu mengangguk pelan sebagai tanda mengerti. Salah seorang di antaranya melangkah lebih dulu, lalu menggenggam pergelangan tangan mantan petugas keamanan itu dengan mantap. Genggamannya tegas, tetapi tidak sampai menyakitinya. Pria itu tidak melakukan perlawanan. Namun, hanya menurut saat diarahkan untuk berjalan. Aneya mengikuti setiap gerakan mereka dengan saksama. Tidak ada bentakan, dorongan, ataupun tindakan kasar yang terjadi. Namun, suasana di dalam

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 171

    “Mereka berdua akan tetap kesini, tapi jika kau ingin sedikit ramai, maka aku bisa menghubungi yang lain untuk menjaga Arya,” jawab Ravin enteng tanpa beban. Aneya sedikit memiringkan wajahnya ke arah Ravin. Ia mulai membuka mulutnya. “Berapa banyak orang kepercayaan yang kau miliki?” tanya Aneya berbisik pelan dengan satu alis yang terangkat. Ravin menoleh. Bukannya menjawab, pria itu justru menyunggingkan senyum tipis yang sulit diartikan. Tatapannya bertahan beberapa detik pada Aneya, seolah sengaja membiarkan rasa penasarannya menggantung. Aneya mengembuskan napas pelan. Dari senyum itu saja, ia sudah tahu Ravin tidak berniat memberikan jawaban sekarang. Ia perlahan memutar bola matanya malas, kemudian beralih memerhatikan keadaan sekitar. “Farhan, berapa lama kira-kira kasus ini akan diproses?” tanya Aneya membuka suara pada pria di depannya. Farhan tersentak sesaat. “Sebenarnya, cukup panjang … tidak ada tenggat waktu untuk langsung melaporkannya terlebih dulu ke pih

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 170

    Bola mata Aneya membulat. Napasnya tertahan setelah mendengar kalimat yang keluar dari mulut Ravin. Refleks, ia menoleh ke arah Farhan. Pria itu tidak mengatakan apa-apa, tetapi pandangannya jatuh ke tumpukan berkas di atas meja, rahangnya mengeras, seolah memilih diam daripada menanggapi ketegasan yang baru saja memenuhi ruangan. Perlahan, Aneya mengalihkan pandangannya kepada Ravin. Untuk sesaat, ia hampir tidak mengenali pria tersebut. Garis rahangnya menegang, sorot matanya sedingin baja, dan setiap kata yang keluar dari bibirnya terdengar tajam hingga membuat udara di sekeliling mereka terasa ikut membeku. Dibandingkan semua sisi Ravin yang pernah ia lihat sebelumnya, inilah wajah yang paling mengintimidasi. Bahkan tanpa meninggikan suara, kehadirannya saja sudah cukup membuat siapa pun berpikir dua kali untuk berbohong. “Saya … bersedia, Pak,” jawab mantan petugas keamanan itu terdengar pelan dan nyaris kehilangan tenaga. “Bagus. Setelah ini jangan langsung pulang. Beberap

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 169

    Farhan menggeleng pelan. “Sama sekali tidak.” Aneya mengembuskan napas panjang. Kelopak matanya terpejam sesaat. Ia mencoba mengumpulkan keberaniannya sebelum kembali membuka mata. “Apa Ravin sempat memberitahumu kalau aku dan Arya pernah menjalin hubungan lebih dari empat tahun?” tanya Aneya dengan nada yang berubah serius. “Belum, dia tidak menyebut bagian yang itu,” jawab Farhan jujur dan berubah lebih serius. “Sebelum Ravin hadir dalam hidupku, Arya adalah orang yang mengisi hampir seluruh duniaku,” ucap Aneya lirih sambil mengalihkan pandangan dari pria tersebut. Ia berhenti sejenak. Rahangnya perlahan mengeras ketika kenangan itu kembali memenuhi kepalanya. “Semakin lama kami bersama, semakin aku sadar kalau hubungan itu hanya berjalan sesuai keinginannya. Dia ingin mengatur setiap langkahku … sementara dirinya sendiri bebas melakukan apa pun tanpa pernah mau diatur,” terang Aneya dengan suara lirih. Farhan tidak menyela. Pria itu seolah membiarkan Aneya menyelesai

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 168

    Suara Ravin terdengar lebih rendah dari sebelumnya, menandakan keseriusan yang mulai memenuhi pikiran pria tersebut. Farhan kembali mengangkat pandangan. Tatapan pria itu berpindah kepada Ravin, lalu berhenti pada Aneya. “Apakah korban sudah mengetahui rencana ini? Dan apakah dia benar-benar tidak keberatan?” tanya Farhan terdengar was-was. Aneya dapat merasakan perubahan suasana di antara mereka. Pembicaraan yang sebelumnya berjalan ringan berubah lebih berat. “Aku sudah memberitahukannya, tapi setelah kupikirkan lagi, aku ingin mendengar pendapatmu. Aku tidak ingin mengambil keputusan yang justru membuat keadaan semakin memburuk,” jawab Ravin dengan tubuh sedikit condong ke depan dan kedua tangan bertumpu di atas lututnya. Farhan menghela napas pelan. Aneya memperhatikan jemari pria itu saling bertaut di atas meja sebelum akhirnya berbicara. “Jika kau ingin mendengar pendapatku, aku tidak menyarankan beberapa pelaku dihadirkan sekarang. Dari apa yang kau ceritakan semalam,

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 92

    Detik dan menit berlalu, tidak ada tanda-tanda bahwa Aneya akan beranjak. Alih-alih keluar untuk mengambil udara segar atau mengisi perut, ia memilih untuk memeriksa kembali pekerjaannya. “Semuanya sudah lengkap dan aman, apa lagi yang akan ku kerjakan sore nanti? Atau mungkin Ravin ingin menginf

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 87

    Langkahnya teratur menuju kamar. Ketika Aneya menutup pintu, ia kemudian mendengar getaran yang berasal dari benda pipih di samping bantal. Badan Aneya seolah menuntun dirinya untuk segera memeriksa ponsel tersebut. Sebuah pesan dari Ravin, cukup membuatnya duduk terpaku pada sisi ranjang. “Ter

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 81

    “Baiklah, aku mengumpulkan semua niat dan tenagaku terlebih dahulu,” jawab Aneya berbicara sendiri dan mengganti posisi menjadi duduk. Ia menarik napas dalam, lirikannya jatuh pada laptop yang berada di atas meja kerja yang dulunya merupakan meja belajar. Pelan kakinya berpijak ke lantai dan berh

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 79

    Di saat semua orang tengah sibuk dengan hiruk pikuknya dunia, Aneya masih terbaring di atas tempat tidurnya. Perlahan ia membuka mata, memindai sekitar. “Apa aku terlambat lagi hari ini?” tanya Aneya dalam hati. Ia tidak langsung bergegas, Aneya menarik selimut yang berada di ujung tempat tidur

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status