ログインSore itu, kediaman Arga yang biasanya terasa seperti surga kecil bagi Siska mendadak berubah mencekam. Cahaya yang masuk melalui jendela besar di ruang tengah terasa lebih menyengat dari biasanya. Siska sedang berada di dapur, tangannya sibuk menata buah-buahan segar di atas piring porselen, sebuah rutinitas yang selalu dia lakukan dengan hati riang. Namun, hari ini Siska akan kedatangan tamu yang penting. Sebuah limosin hitam panjang terparkir dengan angkuh. Dari dalamnya, keluar seorang pria paruh baya yang masih tampak gagah dan seorang wanita yang penampilannya sangat memukau. Wanita itu mengenakan setelan jas berbahan wol mahal berwarna putih gading, dipadukan dengan syal sutra yang melambai ditiup angin. Gerakannya anggun, namun sorot matanya yang terlihat dari kejauhan memancarkan otoritas yang tak terbantahkan. Arga yang baru saja keluar dari kamar tampak tegang. Wajahnya yang biasanya tenang mendadak mengeras. Sementara Siska tetap berdiri di dapur dengan perasaan yang ti
"Arga, turunkan aku sebentar di sini," ucap Siska dengan suara yang sangat stabil. Arga menatap Siska dengan cemas. "Siska, apa yang kamu lakukan? Kamu masih mau bertemu dengan Hendri!" "Berikan aku waktu sebentar, Ga. Beri aku ruang untuk menyelesaikan ini secara pribadi. Aku tidak ingin masa laluku terus mengekor seperti bayangan yang menghantui langkah kita ke depan," pinta Siska. Tatapannya begitu teguh hingga Arga tidak mampu membantah. Arga akhirnya mengangguk. Dia menginstruksikan supirnya untuk putar balik ketempat Hendri. Siska melangkah keluar dari mobil, berjalan perlahan menuju di mana Hendri sedang meringkuk dalam cengkraman satpam. Melihat kedatangan Siska, Satpam itu berhenti. Mereka mengenali Siska sebagai kekasih Arga Pratama, pria yang memiliki pengaruh jauh lebih besar dari hutang-hutang Hendri. Mereka mundur selangkah, memberikan ruang bagi sang ratu untuk memberikan vonisnya. Hendri mendongak. Harapan muncul di matanya yang sudah bengkak. "Siska... kamu
Matahari sore itu bersinar tidak terlalu terik, seolah sedang berbelas kasih pada bumi. Di depan sebuah gedung apartemen mewah yang menjulang tinggi, Siska berdiri di lobi sambil merapikan pakaiannya. Seminggu telah berlalu sejak badai besar itu menghancurkan hidup Hendri, dan bagi Siska, seminggu ini adalah waktu paling damai yang pernah dia rasakan dalam bertahun-tahun. Tidak ada lagi teriakan, dan tidak ada lagi rasa takut akan dikhianati. Namun, di balik tembok pagar yang tinggi, ada sepasang mata yang terus mengawasi dengan penuh keputusasaan. Hendri berdiri di balik tiang listrik, beberapa puluh meter dari gerbang keluar. Penampilannya sudah tidak bisa dikenali lagi. Kemejanya yang dulu seharga jutaan rupiah kini sudah dekil, robek di bagian lengan, dan penuh noda tanah. Wajahnya yang dulu sombong kini tampak tirus, dengan tulang pipi yang menonjol dan janggut yang tumbuh tidak teratur. Selama seminggu ini, dia tidur berpindah-pindah tempat. Setiap kali melihat mobil mewah
Di tempat yang lain, Hendri tampak seperti bom waktu yang siap meledak. Wajah pria itu merah padam, urat-urat di lehernya menonjol, dan tangannya mengepal begitu kuat hingga gemetar. Arga sengaja melakukan ini. Arga ingin Hendri melihat sendiri dengan siapa selama ini dia berbagi tempat tidur dan rahasia. "Sialan, wanita yang aku bela mati-matian rupanya sedang mencoba mengkhianatiku demi kenyamanan barunya," gumam Hendri. "BAJINGAN KAU, VENI!" teriak Hendi dan hampir saja dia memukul layar TV. "Aku menyesal telah percaya sepenuhnya padamu, kamu memang Ular licik yang tau di untung!" teriak Hendri. "Aku telah melihat semuanya, melihatmu agresif mendekati Arga! Aku melihatmu menghinaku dengan sukarela! Aku akan memastikan kamu membusuk di jalanan!" Suara Hendri menggema diruangan itu. Malam semakin larut di sudut kota yang kumuh. Bau sampah yang membusuk dari gang sempit di samping hotel melati itu seolah menjadi aroma penyambutan bagi Veni yang baru saja tiba. Wanita itu berja
Malam pun tiba. Hotel Grand Majestic tampak megah dengan lampu-lampu kristal yang berkilauan. Veni turun dari taksi dengan pakaian yang sangat minim dan berani. Dia memakai gaun merah ketat yang memperlihatkan lekuk tubuhnya, berharap Arga akan langsung bertekuk lutut melihatnya. Dia berjalan menuju resepsionis dengan gaya angkuh. "Kunci untuk Suite 801 atas nama Arga Pratama Dewantara." Setelah mendapatkan kartu akses, Veni naik ke lantai atas dengan jantung yang berdebar kencang. Dia sudah membayangkan betapa kayanya Arga, jauh lebih kaya dari Hendri yang sekarang sudah jatuh miskin. Dia masuk ke dalam kamar mewah itu, menyemprotkan parfum berkali-kali ke lehernya. "Arga... kamu di mana?" panggil Veni dengan suara yang dibuat-buat manja. Keadaan kamar itu temaram. Hanya ada satu lampu meja yang menyala. Di atas ranjang besar, terlihat sebuah kotak perhiasan yang terbuka, menampakkan kalung berlian yang sangat indah. Veni langsung berlari menghampiri kalung itu. "Ya Tuhan!
Siska berdiri terpaku di depan jendela besar ruang kantor yang kini sudah resmi menjadi milik Arga. Pertanyaannya yang terakhir tadi masih menggantung di udara. Dadanya terasa sesak saat membayangkan Arga akan menemui Veni, hanya berdua saja. Arga berjalan mendekat, menatap Siska dengan tatapan yang begitu teduh, seolah ingin mencairkan ketakutan di hati wanita itu."Siska, lihat mataku," ucap Arga lembut. Dia memegang kedua bahu Siska, memaksa Siska untuk berhenti mundur. Arga menghela napas panjang, lalu dia menarik Siska ke dalam pelukannya. "Veni sedang panik, Sayang. Dia melihat pohon tempatnya bersandar sudah tumbang. Dia tahu Hendri sudah tidak punya apa-apa lagi. Sekarang dia sedang mencoba menanam duri di antara kita agar kita saling curiga. Itu adalah senjatanya yang terakhir."Belum sempat Siska menjawab, ponsel Arga di atas meja bergetar pendek. Sebuah notifikasi muncul di layar yang menyala. Arga melepaskan pelukannya, lalu mengambil ponsel itu. Dia tersenyum sinis, seb
"Cepat sembuh, Nyonya Siska. Aku benci melihatmu lemah dan tidak berdaya seperti ini, karena hanya aku yang boleh membuatmu berlutut, bukan rasa sakitmu." Gema suara Arga semalam seolah masih bergetar di udara kamar yang kini terasa sangat luas bagi Siska. Ketika ia terbangun pagi ini, demamnya me
"Buka matamu, Siska. Jangan biarkan suamimu menang dalam keheningan ini." Suara bariton Arga merayap pelan di antara kesadaran Siska yang masih berkabut. Perlahan, kelopak mata Siska yang terasa seberat timah terbuka. Cahaya sore yang jingga menyeruak masuk melalui celah gorden kamar utama, menera
"Siska! Jawab aku atau aku akan merobohkan pintu ini sekarang juga!" Suara bariton Arga berdentum keras, memantul di dinding-dinding lobi depan rumah mewah keluarga Wijaya. Di dalam kegelapan kesadarannya, Siska mendengar suara itu seperti guntur di kejauhan. Ia ingin menggerakkan jarinya, ingin m
"Tentu saja boleh, Nyonya Siska. Tapi besok jangan harap kamu bisa pulang dengan tubuh yang tidak memar-memar karena hukuman atas kebohonganmu selama tiga hari ini." Kalimat ancaman dari Arga itu terus berputar-putar di benak Siska saat ia mencoba membuka matanya di pagi buta. Siska ingin segera b







