Rama menyeringai tipis. Panggilan "Tuan Muda" yang keluar dari bibir Alya seolah memberikan suntikan otoritas baru dalam dirinya. "Aku merindukan belaianmu, Bu," bisik Rama, suaranya berat dan serak, tepat di depan wajah Alya. Alya tersenyum menggoda, matanya sayu menatap Rama. "Sesekali jangan di rumah dong, bisa nggak?" bisiknya balik, menantang bahaya. "Mau di mana, hm?" tanya Rama sambil menarik pinggul Alya lebih erat, membuat tubuh mereka benar-benar menempel tanpa celah. "Ahk!" Alya memekik kecil saat merasakan kejantanan Rama yang sudah menegang maksimal, keras dan berdenyut, menekan perut bawahnya. "Milikmu... sudah sangat keras, Sayang," desah Alya sambil meraba dan meremas pelan pusaka Rama dari balik celana. "Bagaimana kalau kita pergi sekarang?" ajak Rama. "Jangan gila, Ram. Nanti Nadia curiga," cegah Alya, meski tubuhnya sudah bergetar hebat. "Gampang. Kita pakai alasan mencari rumah mewah untuknya." Alya tertawa nakal, mencubit hidung mancung Ra
Baca selengkapnya