"Lihat istrimu itu, Ram... apa lagi yang bisa kamu harapkan darinya?" bisik Alya tepat di telinga Rama, suaranya serak dan penuh provokasi. Rama memejamkan mata, merasakan napas hangat Alya yang menerpa kulitnya. "Kamu selalu menjaga perasaannya sampai rela mengorbankan perasaanmu sendiri, tapi apa balasannya? Dia bahkan tak peduli suaminya haus atau lapar," lanjut Alya. Ia memutar tubuh Rama agar menghadapnya, lalu menatap lekat mata pria itu dengan pandangan yang sangat agresif. Alya tersenyum miring, senyum yang meremehkan keberadaan Nadia di atas sana. Tangannya kini turun, merapikan kerah kemeja Rama dengan gerakan yang sangat lambat, sementara tubuhnya sengaja ia rapatkan ke tubuh sang menantu. "Sudah bagus kamu dimanja sama Ibu, dilayani seperti raja... malah milih dicaci maki sama anak Ibu yang nggak tahu diri itu," ucap Alya lantang, seolah sengaja agar suaranya terdengar sampai ke lantai atas. "Ibu..." lirih Rama, tenggorokannya mendadak kering. "Kenapa, R
더 보기