ログインPukul sembilan pagi, Nala akhirnya memutuskan untuk menyusul ayahnya ke warung. Persoalannya dengan Banyu sudah dianggap selesai. Meskipun sang kakak benar-benar melahap habis jajanannya, laki-laki itu tetap menepati janji dengan mengirimkan sejumlah uang ke rekening Nala. Karena jumlahnya yang lebih dari cukup, mau tak mau Nala mengikhlaskan jajanannya berpindah ke perut sang kakak.
Nala memacu motor matic-nya membelah jalanan desa yang masih terasa sejuk. Hamparan sawah di sisi kanan dan kiri jalan tampak berkilau tertimpa cahaya matahari, menciptakan pemandangan hijau yang menenangkan hati. Rasa kesalnya pada Banyu perlahan menguap, berganti dengan perasaan ringan karena saldo rekeningnya bertambah. Namun, ketenangan itu terusik saat matanya menangkap sebuah pemandangan di bahu jalan, sekitar dua ratus meter di depan. Sebuah mobil pikap yang sangat ia kenali tampak berhenti dengan posisi miring, salah satu ban belakangnya amblas masuk ke dalam tanah lunak di pinggir parit. Nala memperlambat laju motornya. Jantungnya berdegup lebih kencang saat melihat sosok tegap yang sedang berjongkok di samping mobil tersebut. "Mas Hanggara?" panggil Nala pelan sembari menepikan motornya tepat di belakang mobil itu. Pria itu menoleh. Wajah tegasnya tampak sedikit berminyak karena keringat, dan ada noda tanah di telapak tangannya. Hanggara segera berdiri, menyeka dahi dengan punggung tangan yang bersih. "Mbak Nala? Mau ke warung?" "Iya, Mas. Ini kenapa? Bannya selip?" Nala turun dari motor, menatap ban belakang yang tampak terjebak cukup dalam. "Iya, tadi terlalu ke pinggir pas papasan sama mobil lain. Tanahnya lembek jadi bannya amblas. Kempes juga sih kayaknya," jelas Hanggara tenang, meski ada gurat kelelahan di matanya. "Saya juga nggak bawa dongkrak." Nala melihat ke sekeliling. Jalanan sedang sangat sepi, hanya ada mereka berdua di sana. "Terus gimana? Perlu aku telepon Mas Banyu nggak?" Hanggara terdiam sejenak, menatap Nala dengan intensitas yang membuat gadis itu salah tingkah. "Sebenarnya saya cuma butuh orang yang bisa jaga kemudi buat injak gas waktu saya dorong, atau sebaliknya." "Saya bisa, kok. Tapi Mas Hanggara yang dorong ya, saya nggak kuat kalau harus ngedorong." Hanggara sempat terpaku mendengar tawaran Nala. Ia menatap gadis mungil di depannya, lalu senyum tipis yang jarang terlihat itu muncul lagi. Ia menimbang-nimbang sebentar sebelum akhirnya mengangguk. "Oke. Nanti kalau saya kasih aba-aba, Mbak Nala injak gasnya pelan-pelan. Bisa?" "Bisa." Nala pun naik ke kursi kemudi yang terasa sangat tinggi baginya. Setelah itu, ia menarik napas dalam tanpa sadar, lalu memegang setir dengan mantap. "Satu... dua... TIGA!" teriak Hanggara dari luar. Nala menginjak gas. Mesin menderu, bannya berputar menciptakan cipratan lumpur. Hanggara mengerahkan seluruh tenaganya, otot-otot lengannya terlihat menegang saat ia mendorong sekuat tenaga. Crat! Satu sentakan kuat berhasil membawa pikap itu kembali ke aspal yang keras. Nala segera menginjak rem dan menarik napas lega. Ia keluar dari mobil dengan wajah sumringah. "Berhasil, Mas!" serunya girang. Namun, kegembiraan Nala sedikit terhenti saat ia melihat kondisi Hanggara. Bagian depan celana dan sedikit bagian kaosnya terkena cipratan lumpur. Bahkan ada sedikit noda kecoklatan di pipinya. Nala refleks merogoh tas selempangnya, mengeluarkan tisu basah yang selalu ia bawa. Tanpa berpikir panjang, ia melangkah mendekat. "Mas, diam sebentar, itu di pipinya ada kotoran." Tangan Nala bergerak ragu, namun Hanggara tidak menghindar. Ia justru berdiri diam, membiarkan gadis itu mengusap noda di pipinya. Untuk beberapa detik, waktu seolah berhenti. Jarak mereka sangat dekat, hingga Nala bisa mencium aroma keringat dan parfum pria itu yang bercampur menjadi satu, sebuah aroma yang menurut Nala, sangat "laki-laki". Tatapan tajam Hanggara melunak, ia menatap mata Nala dengan kedalaman yang membuat lutut gadis itu terasa lemas. "Terima kasih, Nala," ucap Hanggara rendah. Kali ini, ia tidak memanggilnya dengan sebutan "Mbak." Nala tersentak kecil. Suara Hanggara yang menyebut namanya tanpa embel-embel "Mbak" terasa jauh lebih intim, membuat dadanya berdesir hebat. Ia buru-buru menarik tangannya, menyembunyikan tisu basah yang kini tampak berwarna coklat di balik punggungnya. "Sama-sama, Mas Hanggara," sahut Nala pelan, berusaha mengalihkan pandangannya ke arah ban mobil yang sudah aman di atas aspal. "Tapi ban mobilnya yang tadi selip kempes, Mas, harus diisi angin." Hanggara mengikuti arah pandang Nala, "Nggak apa-apa, saya bawa pompa." Hanggara berjalan ke arah bak mobil, lalu mengambil sebuah pompa injak manual. Ia meletakkannya di samping ban yang tadi selip. Gerakannya ringkas dan tenang, menunjukkan bahwa ia sudah terbiasa menghadapi kendala teknis sendirian. Nala memerhatikan dalam diam. Ada sesuatu yang sangat menarik dari cara Hanggara bekerja. Dia tidak mengeluh, tidak mengumpat pada nasibnya yang kurang beruntung hari ini, dan tetap menjaga ketenangannya. "Mas Hanggara setiap hari lewat sini?" Nala mencoba memecah keheningan, suaranya sedikit lebih berani sekarang. "Hampir setiap hari. Kalau nggak ke sawah, ya mengantar beras ke pelanggan di Desa Sumberasih, termasuk ke warung Papamu," jawab Hanggara tanpa menghentikan kegiatannya. Ia berhenti sejenak untuk menyeka keringat di pelipisnya dengan lengan kaos, lalu menatap Nala. "Kamu sendiri? Kenapa repot-repot bantu saya? Harusnya kamu bisa langsung lewat aja tadi." Nala memainkan kunci motor di tangannya, merasa sedikit tersipu. "Ya masa lihat orang kesusahan didiemin aja, Mas? Apalagi dari tadi nggak ada orang lewat sama sekali, kan." Hanggara menghentikan gerakan kakinya di atas pompa, lalu berdiri tegak. Ia menatap sekeliling sejenak sebelum pandangannya kembali tertuju pada Nala. Ada binar tipis di matanya, jenis tatapan yang membuat Nala merasa seolah-olah hanya ada mereka berdua di tengah luasnya Sumberasih. "Iya, sepi sekali pagi ini. Untung ada kamu," ucap Hanggara rendah. Kalimat sederhana itu entah mengapa terdengar seperti pengakuan yang dalam bagi Nala. Hanggara merapikan kembali pompa manualnya ke dalam bak pikap. Ia menyambar jaket denim yang tadi sempat ia lepas dan menyampirkannya di bahu. "Bannya udah aman. Sekali lagi terima kasih ya, Nala." "Sama-sama, Mas. Kebetulan aja saya lewat," sahut Nala, berusaha menormalkan detak jantungnya yang sedari tadi berisik. "Kalau gitu, saya duluan ya. Takut Papa nungguin," pamitnya. Hanggara mengangguk. "Iya, hati-hati." Nala segera naik ke atas motornya, menyalakan mesin, dan memencet klakson sebelum mulai melaju. Sementara Hanggara menatap kepergian Nala dengan tatapan yang sulit diartikan, ia terdiam cukup lama di samping mobil, membiarkan motor Nala menjauh. Ada garis senyum yang tertinggal di sudut bibirnya, sesuatu yang bahkan bagi Hanggara sendiri terasa asing. Ia menyentuh pipinya, tempat di mana jemari Nala tadi sempat bersentuhan dengan kulitnya saat mengusap noda lumpur di sana. Hangatnya masih terasa. Hanggara menarik napas panjang, menghirup sisa aroma parfum vanila yang tadi sempat memenuhi indra penciumannya saat gadis itu mendekat. Selama ini, hidup Hanggara hanya tentang tanggung jawab. Peternakan, beras, dan sawah. Namun, kehadiran Nala yang tiba-tiba seolah membuka jendela di ruangan gelap yang selama ini ia kunci rapat-rapat. "Nala..." gumamnya pelan, mencoba merasakan bagaimana nama itu terdengar saat ia ucapkan sendiri. Pria itu menggeleng kecil, menertawakan detak jantungnya yang sedikit tidak beraturan. Ia kemudian naik ke kabin mobil, menyalakan mesin, dan mulai melaju perlahan. *** Tbc.Nala duduk bersandar pada kepala ranjang, memeluk lututnya erat-erat. Tidak ada lagi isak tangis yang meledak-ledak. Air matanya kini jatuh perlahan, diam-diam, mengalir tanpa suara. Ia seolah sudah kehabisan energi, terlalu lelah bahkan untuk sekadar meraung keras di keheningan malam ini. Tatapannya kosong. Keputusan itu sudah terucap. Hubungannya dengan Hanggara sudah berakhir. Nala tidak pernah membayangkan kisah mereka akan menemui jalan buntu secepat ini. Enam bulan mungkin terdengar singkat bagi sebagian orang, tapi bagi Nala, waktu itu cukup untuk merangkai rencana-rencana kecil yang ia simpan diam-diam di kepalanya. Obrolan santai tentang masa depan, candaan ringan soal bentuk rumah impian, hingga bayangan sederhana tentang Hanggara yang duduk di ruang tamu, berusaha mengobrol akrab dengan keluarganya. Ia memberikan seluruh kunci kepercayaannya kepada seseorang yang ternyata masih menyimpan kunci cadangan untuk masa lalunya. Nala menyadari bahwa selama ini ia tidak sedang me
Parkiran rumah sakit sore itu terasa begitu menyesakkan, seolah oksigen di sana telah habis terhisap oleh deretan mesin kendaraan yang menderu. Namun, kebisingan lalu lintas di luar gerbang sama sekali tak mampu memecah keheningan yang mencekam di kepala Hanggara. Ia mematung di samping mobilnya, menatap nanar layar ponselnya yang gelap dan dingin, sedingin hatinya saat Nala memutuskan sambungan telepon secara sepihak tadi. Hanggara sudah mencoba menelepon kembali berkali-kali, namun, tidak ada jawaban. Nala benar-benar menutup pintu untuknya. Kalimat yang diucapkan perempuan itu terus bergema, menghujam tepat di pusat rasa bersalahnya. 'Mas tuh udah nggak ada kepentingan apa pun sama dia.' Hanggara menunduk dalam, mengembuskan napas panjang yang terasa berat di dada. Nala benar. Sangat benar. Dan kenyataan itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada makian apa pun. Ia memejamkan mata sesaat, mencoba menata kepingan pikirannya yang porak-poranda sejak pagi. Saat telepon dari Rania m
Nala terdiam. Tangannya yang memegang ponsel perlahan mengencang, jemarinya memutih tanpa ia sadari. Detak jantungnya berubah tak beraturan. Perempuan itu memanggil Hanggara dengan nama yang tidak pernah ia dengar sebelumnya. Angga. Selama ini, Nala selalu memanggilnya Hanggara atau Gara. Semua orang di desa pun begitu. Tidak pernah sekali pun Nala mendengar ada orang yang memanggilnya sesantai itu. Panggilan itu terdengar sangat akrab. "Saya lagi telepon sebentar, kamu balik aja ke kamar. Takut Ibu kamu bangun dan nyariin, nanti saya nyusul." "Lagi telepon siapa sih? Ibu ya? Aku mau ngobrol dong, udah lama nggak ngobrol sama Ibu." Nala menutup matanya rapat, mencoba meredam detak jantungnya yang berpacu menyakitkan. Suara perempuan itu terdengar jelas. Terlalu jelas untuk dianggap salah dengar. Nada bicaranya ringan, manja, seolah ia sudah sangat terbiasa berada di sekitar Hanggara, bahkan dengan sadar ikut campur dalam percakapan pribadi lelaki itu. "Mas," panggil Nala, menco
Nala sempat mengira, menjalin hubungan dengan laki-laki sedewasa Hanggara akan selalu adem-ayem. Enam bulan belakangan, perhatian Hanggara memang sukses membuatnya merasa menjadi perempuan paling beruntung. Namun hari ini, ketenangan itu terusik. Sosok yang biasa mengisi hari-harinya itu seolah raib ditelan bumi. Pesan yang Nala kirimkan sejak pagi belum menunjukkan tanda-tanda akan dibalas. Jangankan dibalas, dibaca pun tidak. Sebenarnya Nala mencoba maklum. Ia tahu kesibukan Hanggara tidak main-main, mulai dari mengurus toko, memantau sawah, hingga mengecek peternakan. Tapi, apa sesulit itu meluangkan waktu satu menit saja untuk memberi kabar agar ia tidak dilanda kebingungan seperti ini? Dengan helaan napas panjang, Nala kembali melirik layar ponselnya. Ruang percakapannya dengan Hanggara masih sama seperti pagi tadi, tidak ada tanda-tanda kehidupan di sana. Putus asa, ia menaruh benda pipih itu ke dalam laci meja. Nala memutuskan beranjak, menghampiri ayahnya yang sedang sibuk me
Makan siang berlangsung hangat dan penuh suara. Pak Gunawan mendominasi percakapan dengan cerita-cerita lama tentang toko beras mereka, sesekali melontarkan lelucon yang membuat Nala terkekeh tanpa sungkan. Bu Sulis sibuk menyendokkan lauk ke piring Nala meski Nala sudah berulang kali bilang sudah cukup. Dan Hanggara duduk di sampingnya, makan dengan tenang, sesekali berbicara seperlunya. Tapi Nala sadar, setiap kali gelak tawanya meledak karena ulah Pak Gunawan, Hanggara selalu menoleh sebentar ke arahnya. Ia tidak ikut tertawa, tapi sudut bibirnya selalu bergerak naik. Hanya sedikit. Cukup untuk ditangkap oleh seseorang yang sudah hafal betul ekspresi wajahnya. Dan entah sejak kapan, Nala menjadi salah satu orang itu. "Ayo, Nduk, ke depan. Katanya mau lihat bunga Ibu." Nala pun mengekor di belakang Bu Sulis. Hanggara yang tadinya hendak duduk di ruang tengah bersama ayahnya, memutuskan untuk ikut menyusul. "Anggrek-anggrek ini dibeliin sama Bapak," tunjuk Bu Sulis pada deretan a
Nala mendadak kehilangan kemampuan bicara. Suara wanita itu begitu renyah, kontras dengan bayangan 'calon mertua galak' yang sempat melintas di benaknya. Ia refleks merapikan blusnya yang sebenarnya sudah rapi, lalu menyalami tangan wanita itu dengan takzim. "S-siang, Bu. Saya Nala," ucapnya pelan, hampir tenggelam oleh debar jantungnya sendiri. "Iya, Nala, Ibu udah denger soal kamu dari Gara. Ayo, ayo masuk, Nduk. Kebetulan Ibu udah bikin teh sama gorengan tadi." ujar Ibu Hanggara sambil merangkul bahu Nala, bersikap sangat akrab seolah mereka sudah saling mengenal sejak lama. Hanggara yang berdiri di belakang hanya bisa menggelengkan kepala melihat ibunya yang begitu bersemangat. Ia menatap punggung Nala dengan tatapan yang dalam, ada rasa lega sekaligus bangga melihat bagaimana Nala dengan mudah mencuri hati ibunya di detik pertama bahkan tanpa melakukan apapun. Nala menoleh cepat, meminta pertolongan lewat tatapannya. Namun, Hanggara justru tersenyum tipis, memberi kode melalui
Setelah sekitar satu jam bergulat dengan bumbu dapur, aroma harum sayur lodeh, tempe goreng dan sambal goreng mulai memenuhi ruangan. Nala baru saja selesai menata piring-piring di atas meja makan kayu yang besar ketika terdengar suara pintu depan terbuka diikuti salam yang diucapkan bersamaan. "N
Begitu melewati pintu jati yang kokoh, Nala disambut oleh suasana rumah yang sangat tenang. Di ruang tamu yang luas itu, seorang pria paruh baya yang masih tampak bugar duduk di sofa tunggal. Pria itu memakai koko putih dan sedang meletakkan korannya begitu menyadari kehadiran tamu."Nah, Pak, ini
"Ya sudah, Pak Bakti, saya pamit dulu ya. Mau masak buat makan siang, nanti keburu bapaknya anak-anak pulang dari sawah," pamit Bu Lastri sambil menenteng tas belanjanya. Ia sempat melirik Nala sekali lagi dengan kerlingan usil. Sementara Nala masih sibuk dengan kegiatannya.Sepeninggal Bu Lastri,
Namun, begitu bangunan warung kelontong milik ayahnya mulai terlihat, langkah Nala mendadak melambat. Jantungnya berdegup sedikit lebih kencang saat melihat sebuah mobil pikap terparkir gagah tepat di depan warung. Di bak belakang mobil itu, tumpukan karung beras berjajar rapi. Nala mematung sejen







