Share

Bab 8

Author: widiabd
last update publish date: 2025-12-23 19:38:31

Pukul sembilan pagi, Nala akhirnya memutuskan untuk menyusul ayahnya ke warung. Persoalannya dengan Banyu sudah dianggap selesai. Meskipun sang kakak benar-benar melahap habis jajanannya, laki-laki itu tetap menepati janji dengan mengirimkan sejumlah uang ke rekening Nala. Karena jumlahnya yang lebih dari cukup, mau tak mau Nala mengikhlaskan jajanannya berpindah ke perut sang kakak.

Nala memacu motor matic-nya membelah jalanan desa yang masih terasa sejuk. Hamparan sawah di sisi kanan dan kiri jalan tampak berkilau tertimpa cahaya matahari,  menciptakan pemandangan hijau yang menenangkan hati. Rasa kesalnya pada Banyu perlahan menguap, berganti dengan perasaan ringan karena saldo rekeningnya bertambah.

Namun, ketenangan itu terusik saat matanya menangkap sebuah pemandangan di bahu jalan, sekitar dua ratus meter di depan. Sebuah mobil pikap yang sangat ia kenali tampak berhenti dengan posisi miring, salah satu ban belakangnya amblas masuk ke dalam tanah lunak di pinggir parit.

Nala memperlambat laju motornya. Jantungnya berdegup lebih kencang saat melihat sosok tegap yang sedang berjongkok di samping mobil tersebut.

"Mas Hanggara?" panggil Nala pelan sembari menepikan motornya tepat di belakang mobil itu.

Pria itu menoleh. Wajah tegasnya tampak sedikit berminyak karena keringat, dan ada noda tanah di telapak tangannya. Hanggara segera berdiri, menyeka dahi dengan punggung tangan yang bersih. "Mbak Nala? Mau ke warung?"

"Iya, Mas. Ini kenapa? Bannya selip?" Nala turun dari motor, menatap ban belakang yang tampak terjebak cukup dalam.

"Iya, tadi terlalu ke pinggir pas papasan sama mobil lain. Tanahnya lembek jadi bannya amblas. Kempes juga sih kayaknya," jelas Hanggara tenang, meski ada gurat kelelahan di matanya. "Saya juga nggak bawa dongkrak."

Nala melihat ke sekeliling. Jalanan sedang sangat sepi, hanya ada mereka berdua di sana. "Terus gimana? Perlu aku telepon Mas Banyu nggak?"

Hanggara terdiam sejenak, menatap Nala dengan intensitas yang membuat gadis itu salah tingkah. "Sebenarnya saya cuma butuh orang yang bisa jaga kemudi buat injak gas waktu saya dorong, atau sebaliknya."

"Saya bisa, kok. Tapi Mas Hanggara yang dorong ya, saya nggak kuat kalau harus ngedorong."

Hanggara sempat terpaku mendengar tawaran Nala. Ia menatap gadis mungil di depannya, lalu senyum tipis yang jarang terlihat itu muncul lagi. Ia menimbang-nimbang sebentar sebelum akhirnya mengangguk. "Oke. Nanti kalau saya kasih aba-aba, Mbak Nala injak gasnya pelan-pelan. Bisa?"

"Bisa."

Nala pun naik ke kursi kemudi yang terasa sangat tinggi baginya. Setelah itu, ia menarik napas dalam tanpa sadar, lalu memegang setir dengan mantap.

"Satu... dua... TIGA!" teriak Hanggara dari luar.

Nala menginjak gas. Mesin menderu, bannya berputar menciptakan cipratan lumpur. Hanggara mengerahkan seluruh tenaganya, otot-otot lengannya terlihat menegang saat ia mendorong sekuat tenaga.

Crat!

Satu sentakan kuat berhasil membawa pikap itu kembali ke aspal yang keras. Nala segera menginjak rem dan menarik napas lega. Ia keluar dari mobil dengan wajah sumringah.

"Berhasil, Mas!" serunya girang.

Namun, kegembiraan Nala sedikit terhenti saat ia melihat kondisi Hanggara. Bagian depan celana dan sedikit bagian kaosnya terkena cipratan lumpur. Bahkan ada sedikit noda kecoklatan di pipinya.

Nala refleks merogoh tas selempangnya, mengeluarkan tisu basah yang selalu ia bawa. Tanpa berpikir panjang, ia melangkah mendekat. "Mas, diam sebentar, itu di pipinya ada kotoran."

Tangan Nala bergerak ragu, namun Hanggara tidak menghindar. Ia justru berdiri diam, membiarkan gadis itu mengusap noda di pipinya. Untuk beberapa detik, waktu seolah berhenti. Jarak mereka sangat dekat, hingga Nala bisa mencium aroma keringat dan parfum pria itu yang bercampur menjadi satu, sebuah aroma yang menurut Nala, sangat "laki-laki".

Tatapan tajam Hanggara melunak, ia menatap mata Nala dengan kedalaman yang membuat lutut gadis itu terasa lemas.

"Terima kasih, Nala," ucap Hanggara rendah. Kali ini, ia tidak memanggilnya dengan sebutan "Mbak."

Nala tersentak kecil. Suara Hanggara yang menyebut namanya tanpa embel-embel "Mbak" terasa jauh lebih intim, membuat dadanya berdesir hebat. Ia buru-buru menarik tangannya, menyembunyikan tisu basah yang kini tampak berwarna coklat di balik punggungnya.

"Sama-sama, Mas Hanggara," sahut Nala pelan, berusaha mengalihkan pandangannya ke arah ban mobil yang sudah aman di atas aspal. "Tapi ban mobilnya yang tadi selip kempes, Mas, harus diisi angin."

Hanggara mengikuti arah pandang Nala, "Nggak apa-apa, saya bawa pompa." Hanggara berjalan ke arah bak mobil, lalu mengambil sebuah pompa injak manual. Ia meletakkannya di samping ban yang tadi selip. Gerakannya ringkas dan tenang, menunjukkan bahwa ia sudah terbiasa menghadapi kendala teknis sendirian.

Nala memerhatikan dalam diam. Ada sesuatu yang sangat menarik dari cara Hanggara bekerja. Dia tidak mengeluh, tidak mengumpat pada nasibnya yang kurang beruntung hari ini, dan tetap menjaga ketenangannya.

"Mas Hanggara setiap hari lewat sini?" Nala mencoba memecah keheningan, suaranya sedikit lebih berani sekarang.

"Hampir setiap hari. Kalau nggak ke sawah, ya mengantar beras ke pelanggan di Desa Sumberasih, termasuk ke warung Papamu," jawab Hanggara tanpa menghentikan kegiatannya. Ia berhenti sejenak untuk menyeka keringat di pelipisnya dengan lengan kaos, lalu menatap Nala. "Kamu sendiri? Kenapa repot-repot bantu saya? Harusnya kamu bisa langsung lewat aja tadi."

Nala memainkan kunci motor di tangannya, merasa sedikit tersipu. "Ya masa lihat orang kesusahan didiemin aja, Mas? Apalagi dari tadi nggak ada orang lewat sama sekali, kan."

Hanggara menghentikan gerakan kakinya di atas pompa, lalu berdiri tegak. Ia menatap sekeliling sejenak sebelum pandangannya kembali tertuju pada Nala. Ada binar tipis di matanya, jenis tatapan yang membuat Nala merasa seolah-olah hanya ada mereka berdua di tengah luasnya Sumberasih.

"Iya, sepi sekali pagi ini. Untung ada kamu," ucap Hanggara rendah. Kalimat sederhana itu entah mengapa terdengar seperti pengakuan yang dalam bagi Nala.

Hanggara merapikan kembali pompa manualnya ke dalam bak pikap. Ia menyambar jaket denim yang tadi sempat ia lepas dan menyampirkannya di bahu. "Bannya udah aman. Sekali lagi terima kasih ya, Nala."

"Sama-sama, Mas. Kebetulan aja saya lewat," sahut Nala, berusaha menormalkan detak jantungnya yang sedari tadi berisik. "Kalau gitu, saya duluan ya. Takut Papa nungguin," pamitnya.

Hanggara mengangguk. "Iya, hati-hati."

Nala segera naik ke atas motornya, menyalakan mesin, dan memencet klakson sebelum mulai melaju. Sementara Hanggara menatap kepergian Nala dengan tatapan yang sulit diartikan, ia terdiam cukup lama di samping mobil, membiarkan motor Nala menjauh.

Ada garis senyum yang tertinggal di sudut bibirnya, sesuatu yang bahkan bagi Hanggara sendiri terasa asing.

Ia menyentuh pipinya, tempat di mana jemari Nala tadi sempat bersentuhan dengan kulitnya saat mengusap noda lumpur di sana. Hangatnya masih terasa.

Hanggara menarik napas panjang, menghirup sisa aroma parfum vanila yang tadi sempat memenuhi indra penciumannya saat gadis itu mendekat.

Selama ini, hidup Hanggara hanya tentang tanggung jawab. Peternakan, beras, dan sawah. Namun, kehadiran Nala yang tiba-tiba seolah membuka jendela di ruangan gelap yang selama ini ia kunci rapat-rapat.

"Nala..." gumamnya pelan, mencoba merasakan bagaimana nama itu terdengar saat ia ucapkan sendiri.

Pria itu menggeleng kecil, menertawakan detak jantungnya yang sedikit tidak beraturan. Ia kemudian naik ke kabin mobil, menyalakan mesin, dan mulai melaju perlahan.

***

Tbc.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Nala dan Mas Juragan   Bab 31

    Minggu pagi di desa selalu terasa lebih tenang, namun tidak bagi Nala. Sejak matanya terbuka dan menatap langit-langit kamar, pikirannya sudah melanglang buana. Ia teringat percakapan di telepon semalam, Hanggara bilang hari Minggu biasanya ia gunakan untuk mengecek laporan mingguan secara santai di rumah. Nala menggigit bibir, ada keinginan yang membuncah di dadanya untuk menghabiskan waktu lebih lama dengan pria itu.Nala ingin ke mal. Ia ingin merasakan sensasi kencan yang "normal" seperti pasangan di kota, berjalan di bawah pendingin ruangan, melihat deretan toko, atau sekadar makan es krim sambil bergandengan tangan tanpa perlu takut digoda tetangga.Setelah mandi, Nala duduk di tepi tempat tidur, menatap ponselnya dengan ragu. "Ajak nggak ya? Kalau dia capek gimana? Ah, coba aja dulu deh." gumamnya. Nala:Mas, hari ini kan Minggu... Mas sibuk banget nggak? Kalau misal aku ajak ke kota mau nggak? Aku pengin ke mal, jalan-jalan. Tapi kalau Mas capek, nggak apa-apa kok.Pesan itu

  • Nala dan Mas Juragan   Bab 30

    Keesokan harinya, matahari baru saja merangkak naik, menyiram atap-atap seng kandang ayam petelur milik Hanggara dengan cahaya keemasan. Bau khas pakan jagung dan aktivitas ribuan ayam yang riuh rendah menjadi musik pagi yang sudah biasa ia dengar. Namun, pagi ini, melodi itu terdengar jauh lebih merdu di telinganya. Hanggara berjalan menyusuri lorong panjang di antara barisan kandang yang diberi sekat. Ia mengenakan kemeja flanel yang lengannya digulung hingga siku, menampilkan guratan otot yang bekerja keras membangun bisnis ini dari nol. Sebagai pemilik, ia tak lagi harus turun tangan setiap saat, namun ia bukan tipe bos yang hanya duduk di balik meja. "Pagi, Mas Gara. Tumben senyumnya lebar banget, kayak habis menang lotre," celetuk salah satu pekerjanya, Andra, yang sedang mencatat jumlah telur yang terkumpul di rak. Hanggara menghentikan langkahnya sebentar, memeriksa kualitas kerabang telur di salah satu baki. "Lotre mah lewat, Ndra. Ini lebih dari itu," jawabnya pendek samb

  • Nala dan Mas Juragan   Bab 29

    Nala duduk dengan kaku, jemarinya bertautan erat di atas pangkuan. Suasana ruang tamu yang biasanya hangat kini terasa begitu formal. Pak Bakti dan Mas Banyu duduk di sofa tunggal, bertindak layaknya saksi yang mengawasi dengan saksama, sementara Bu Raras duduk di sampingnya.Hanggara berdeham kecil untuk memecah keheningan. Ia tidak langsung bicara pada Nala, melainkan menatap Pak Bakti terlebih dahulu dengan sorot mata penuh hormat."Pak, sebelumnya saya minta maaf karena bertamu malam-malam begini," mulai Hanggara, suaranya terdengar berat namun stabil. "Tapi setelah kejadian beberapa hari ini, saya merasa tidak tenang kalau belum bicara jujur di depan Bapak, Ibu, dan Banyu."Hanggara kemudian beralih menatap Nala. Gadis itu masih menunduk, pura-pura tertarik pada motif karpet di bawah kakinya, padahal jantungnya berdegup sangat kencang."Nala... saya minta maaf soal ucapan saya tempo hari. Di depan Anggun, saya memang menyebut kita 'teman'. Tapi itu bukan karena saya ingin menyemb

  • Nala dan Mas Juragan   Bab 28

    Sesampainya di depan rumah, Nala langsung turun dari motor bahkan sebelum mesinnya benar-benar mati. Ia tidak mengucapkan terima kasih, tidak memberikan salam, apalagi menoleh. Nala melangkah lebar masuk ke dalam rumah dan menutup pintu depan dengan dentuman yang cukup keras, mengabaikan Hanggara yang masih terpaku di atas jok motornya.Hanggara menghela napas panjang, menatap pintu kayu yang tertutup rapat itu dengan perasaan campur aduk. Ia sempat menunggu beberapa menit, berharap Nala akan keluar atau setidaknya mengintip dari balik jendela, namun nihil.Hari-hari berikutnya menjadi masa yang paling berat bagi Hanggara. Nala benar-benar membangun benteng tinggi.Pesan WhatsApp dari Hanggara yang awalnya berisi permintaan maaf yang tulus, kemudian berubah menjadi perhatian-perhatian kecil, hanya berakhir dengan status centang dua tanpa pernah berubah menjadi biru. Hanggara mencoba menelepon, namun panggilannya selalu ditolak atau dibiarkan berdering hingga mati. Nala seolah menghila

  • Nala dan Mas Juragan   Bab 27

    Setelah adegan Nala yang terperosok ke sawah, Hanggara benar-benar menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat. Ia berpamitan pada Pak Kardi dan warga lainnya, yang tentu saja melepas mereka dengan siulan godaan yang tak kunjung henti."Ayo, kita cari makan. Kamu pasti capek nungguin saya di sini," ujar Hanggara sambil menuntun Nala menuju motor yang ia parkir di pinggir jalan aspal desa.Hanggara membawa Nala ke sebuah warung mi ayam langganan warga yang letaknya tak jauh dari area persawahan. Warung itu tampak asri dengan beberapa pohon rindang di sekelilingnya. Begitu mesin motor dimatikan, seorang pria paruh baya berkumis tebal yang sedang menuangkan bumbu ke dalam mangkuk langsung mendongak. Matanya menyipit sejenak sebelum kemudian melebar penuh binar kegembiraan."Lho, Hanggara! Cah bagus, ke mana aja kamu? Udah lama nggak mampir ke sini!" seru Bapak pemilik warung itu, Pak Satmo, dengan suara yang menggelegar ramah.Hanggara turun dari motor sambil tersenyum tipis, menghampiri Pak

  • Nala dan Mas Juragan   Bab 26

    Beberapa minggu kemudian, rutinitas Nala sedikit berubah. Jika biasanya ia menghabiskan pagi hingga siang di warung membantu ayahnya. hari ini ia memutuskan untuk meliburkan diri sejenak. Pikiran Nala sedang ingin berkelana, maka kakinya pun ia bawa melangkah menyusuri jalanan desa yang masih asri.Udara pagi menjelang siang itu terasa segar meresap ke paru-paru. Tanpa terasa, langkah kakinya membawa Nala menjauh dari pemukiman warga, menuju sebuah hamparan hijau yang luas di ujung desa. Sejauh mata memandang, hanya ada hamparan padi yang sedang hijau-hijaunya, bergoyang lembut ditiup angin seperti permadani raksasa.Namun, perhatian Nala teralih pada sekelompok orang yang sedang berkumpul di salah satu petak sawah yang cukup luas. Di sana, kegiatan pemeliharaan sedang berlangsung. Nala mengenali sosok pria yang berdiri di tengah-tengah pematang, tampak sedang memberikan instruksi.Itu Hanggara.Penampilannya sangat berbeda dengan Hanggara yang memakai kemeja koko putih bersih beberap

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status