Share

Bab 208

Auteur: Arandiah
last update Date de publication: 2026-03-17 22:40:40

"Cepat, Vi. Keluar sekarang sebelum mereka ke sini," bisik Rusdi tegas.

Vivian mengangguk kaku. Dia merapikan daster satin ungunya yang kusut. Kain tipis itu basah oleh keringat. Lekuk tubuhnya yang montok dan berisi terlihat sangat jelas. Napasnya masih memburu cepat. Payudaranya yang besar naik turun, membuat belahan dadanya terekspos lebar.

"Tapi Mas Adrian pasti sudah suruh orang jaga semua lorong," balas Vivian pelan. Suaranya bergetar hebat.

"Lewat pintu belakang dapur. Para penjaga belum
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Latest chapter

  • Nyonya Puas Abang Lemas   Bab 215

    Tinju Adrian mendarat keras di rahang Ferdi. Suara hantamannya terdengar jelas, disusul tubuh Ferdi yang tersungkur di atas rumput basah.Rusdi tetap menundukkan kepala. Dia membuat bahunya gemetar seolah-olah sedang ketakutan setengah mati. Padahal, di balik rambutnya yang berantakan, matanya menatap tajam ke arah Adrian yang sedang kalap."Bajingan! Kamu mau merampokku, Fer?!" Adrian berteriak, wajahnya merah padam. Dia malah mondar-mandir di taman dengan napas memburu, seperti singa yang siap menerkam."Yan, ini jebakan! Kuli ini... dia pasti yang sengaja menaruhnya di tasku!" Ferdi menunjuk Rusdi dengan jari gemetar, mencoba membela diri.Rusdi langsung menjatuhkan diri dan berlutut di tanah."Ampun, Tuan! Saya tidak berani masuk ke rumah utama!" suara Rusdi dibuat serak dan gemetar. "Tadi sore Tuan Ferdi mengancam akan membunuh saya kalau saya tidak mau mengaku. Saya cuma tukang kebun, Tuan..."Adrian mendengus muak. Dia menarik kerah baju Ferdi dan menyeret sahabatnya itu tanpa

  • Nyonya Puas Abang Lemas   Bab 214

    Rusdi mendarat di rumput basah tanpa suara. Dia segera berlindung di balik semak sebelum lampu taman menyala. Sambil berjongkok, dia mengatur napasnya. Jantungnya berdegup kencang karena adrenalin yang memuncak.Dia menyentuh leher belakangnya yang perih. Abu rokok Adrian meninggalkan luka bakar kecil di sana. Rusdi menatap balkon lantai dua yang tertutup rapat dengan tatapan tajam."Sebentar lagi, bajingan. Hanya tinggal beberapa hari lagi," bisiknya.Rusdi melangkah pelan menuju dapur belakang. Dia melihat Hana sedang melamun di depan kompor dengan wajah sembap. Rusdi sengaja mengeraskan langkah kakinya agar Hana sadar."Mas Rusdi?" Hana terkejut. "Mas dari mana saja?"Rusdi berpura-pura lesu. Dia memegangi lehernya dengan raut kesakitan. "Saya tidak bisa tidur, Hana. Leher saya sakit sekali."Hana terbelalak melihat luka bakar di leher Rusdi. "Ya Tuhan! Ini perbuatan Tuan Adrian lagi?"Rusdi menunduk dalam. "Bukan hanya dia, Hana. Tuan Ferdi juga tadi mengancam saya. Dia menuduh sa

  • Nyonya Puas Abang Lemas   Bab 213

    Suara napas berat dan langkah kaki yang tidak seimbang terdengar jelas dari lorong. Rusdi menegang di balik pilar marmer. Pintu kamar berderit terbuka."Kamar ini panas sekali. Kenapa AC dimatikan?" Suara Adrian terdengar serak dan mabuk."AC menyala, Mas," balas Vivian dari arah kasur. Suaranya bergetar pelan, tapi Rusdi yang mendengar dari luar tahu persis wanita itu sedang berusaha keras menutupi kepanikannya. "Mungkin karena kamu habis minum banyak bersama klien tadi.""Udara di sini sumpek. Aku butuh angin."Langkah sepatu kulit Adrian terdengar mendekat ke arah pintu kaca balkon. Rusdi membelalakkan mata. Dia tidak punya waktu lagi untuk berpikir panjang. Tempat persembunyiannya di balik bayangan pilar ini akan langsung tersapu cahaya lampu kamar begitu pintu kaca itu dibuka lebar.Rusdi mengambil keputusan nekat dalam hitungan detik. Dia melangkah cepat tanpa suara ke tepi balkon. Tangannya yang besar dan kapalan memegang besi pembatas, lalu dia melompati pagar itu dengan satu

  • Nyonya Puas Abang Lemas   Bab 212

    "Tuan Adrian di mana sekarang?" tanya Rusdi memastikan."Dia tidur di bawah. Dia mabuk berat," jawab Vivian memegang lengan kekar Rusdi. "Ada apa, Rus? Wajahmu sangat marah.""Ferdi menekan saya di taman tadi," kata Rusdi pelan. Dia berusaha keras tidak menatap belahan dada Vivian yang sangat menonjol. "Dia menyuruh saya membawa surat tanah itu besok malam jam delapan di taman belakang."Mata Vivian membulat. Payudaranya bergoyang pelan saat dia tersentak kaget."Gila. Jadi Ferdi mau mencuri proyek Adrian dari belakang," gumam Vivian ketakutan. "Lalu kalau kamu tidak datang bawa surat itu besok, apa yang terjadi, Rus?""Dia bukan cuma mengancam keselamatan saya, tapi juga kamu, Vi," ucap Rusdi mengusap bahu halus Vivian."Mengancamku? Apa maksudnya?""Ferdi bilang akan mengarang cerita ke Adrian. Dia mau menuduh saya punya niat kotor padamu. Ferdi sengaja mau Adrian marah dan menyiksa badanmu. Setelah itu, Ferdi mau mengambilmu untuk dirinya sendiri."Air mata Vivian langsung menetes

  • Nyonya Puas Abang Lemas   Bab 211

    Matahari siang terasa sangat panas menyengat kulit. Rusdi berdiri di taman belakang dengan memegang gunting rumput besar. Keringat mengalir deras membasahi dada bidangnya. Kemeja usangnya sudah robek ditarik kasar oleh Adrian tadi siang.Adrian hampir saja membunuhnya di tempat. Beruntung ada Ferdi yang mengalihkan perhatian dengan cerita soal pencuri bayaran. Tapi Rusdi tahu Ferdi punya niat busuk.Langkah sepatu kulit terdengar mendekat di atas rumput. Rusdi langsung menundukkan kepalanya. Dia pura pura sibuk memotong daun semak belukar."Kerja yang bagus, Kuli," tegur Ferdi dari arah belakang.Rusdi membalikkan badan dengan cepat. Dia sengaja membuat postur bahunya sedikit membungkuk. Wajahnya dibuat terlihat sangat bingung dan ketakutan.Ferdi berdiri santai di depannya. Pria itu memakai kacamata hitam gelap dan sedang mengisap sebatang rokok."Maaf, Tuan Ferdi," kata Rusdi dengan suara bergetar. Dia memegang topi kusamnya di depan perut. "Saya harus cepat selesaikan pekerjaan ini

  • Nyonya Puas Abang Lemas   Bab 210

    "Sebelum azan subuh, Tuan. Saya menyapu taman belakang, potong rumput dekat pagar tinggi, lalu potong bunga mawar supaya Nyonya tidak marah lihat taman jelek."Ferdi tiba tiba melangkah maju mendekat. Dia menatap Rusdi dengan senyum curiga yang sangat menyebalkan."Tadi pagi aku lihat dia potong bunga mawar waktu kita sedang ngopi di pinggir kolam, Yan. Posisinya sangat dekat dari meja kita. Dia pasti dengar semua omongan rahasia kita soal surat tanah dan proyek besar itu," kata Ferdi sengaja memanas manasi keadaan.Mata Adrian langsung melotot lebar ke arah Rusdi. Urat di dahinya menonjol keluar."Kamu dengar pembicaraan rahasia kami tadi pagi di kolam renang?!" bentak Adrian beringas.Rusdi sengaja membuat bahunya sedikit menegang ke belakang. Matanya dibuat memelas menatap Adrian seperti orang biasa yang panik."Saya cuma dengar Tuan sebut kata tanah dan uang. Saya orang bodoh, Tuan. Saya tidak paham urusan proyek miliaran orang kaya. Saya cuma fokus potong daun karena takut dipeca

  • Nyonya Puas Abang Lemas   Bab 37

    Suasana di kamar mewah itu perlahan menjadi tenang. Rusdi baru saja selesai membersihkan sisa noda di tubuh Adisty. Tangannya bergerak sangat hati-hati dan pelan dengan kain lembut, berusaha tidak menekan terlalu keras pada kulit halus itu. Mata Rusdi tak henti-hentinya menatap dada majikannya yang

    last updateDernière mise à jour : 2026-03-19
  • Nyonya Puas Abang Lemas   Bab 28

    Adisty mulai menggerakkan tangannya naik turun. Kulit telapak tangannya yang selembut sutra bergesekan langsung dengan batang Rusdi yang panas dan berdenyut. Gerakannya pelan namun pasti, jari-jarinya yang lentik melingkar sempurna, menekan urat-urat yang menonjol di sana dengan remasan yang memabuk

    last updateDernière mise à jour : 2026-03-19
  • Nyonya Puas Abang Lemas   Bab 27

    Adisty melepaskan cengkeramannya dengan sentakan kasar, membuat Rusdi terhuyung sedikit ke belakang sambil memegangi selangkangannya yang terasa nyeri namun berdenyut nikmat. Tanpa memedulikan ringisan pelayan itu, Adisty kembali duduk di kursi riasnya. Kali ini dia memutar kursi itu menghadap ke a

    last updateDernière mise à jour : 2026-03-19
  • Nyonya Puas Abang Lemas   Bab 32

    Adisty masa bodoh dengan mulut Rusdi yang masih terkunci rapat. Senyum sinis di bibirnya makin lebar, seolah dia sudah hafal betul kelemahan laki-laki di bawahnya ini. "Lama sekali mikirnya. Dasar lamban," cibir Adisty. Tanpa peringatan, tangan Adisty yang semula hanya meremas dari luar, kini berg

    last updateDernière mise à jour : 2026-03-19
Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status