Beberapa bulan telah berlalu sejak malam kelam yang merenggut nyawa pewaris kekaisaran. Pendarahan hebat dan racun yang bereaksi waktu itu telah ditangani, dan luka fisik Sienna perlahan menutup seiring berjalannya waktu. Namun, di dalam kamar utama Permaisuri yang megah ini, waktu seolah membeku. Luka tak kasat mata di rahim dan hatinya masih terus menganga, menolak untuk sembuh.Pagi itu, Sienna duduk diam di tepi ranjang. Wajahnya terlihat pucat, meskipun pelayannya telah memoleskan perona pipi tipis untuk menyamarkan kelelahan Sienna. Pergelangan tangannya yang kurus terulur, bertumpu di atas sebuah bantal beludru kecil.Tabib Agung istana, pria tua yang sama, yang meneteskan eliksir berbulan-bulan lalu, berlutut di hadapannya dengan mata terpejam. Tiga jarinya menekan urat nadi sang Permaisuri dengan sangat hati-hati.Keheningan di ruangan itu begitu pekat hingga Sienna bisa mendengar detak jantungnya sendiri. Detak yang dipenuhi harap, namun sekaligus diselimuti ketakutan. S
Read more