LOGINKeesokan paginya, Sienna duduk dengan sehelai jubah tebal menutupi tubuhnya yang lelah. Sisi ranjang di sebelahnya telah kosong dan dingin. Lucian pasti sudah bangun lebih dulu, dan melangkah pergi untuk melaksanakan tugas kenegaraannya, meninggalkan Sienna di kamarnya.Suara ketukan halus terdengar di pintu, sebelum perlahan terbuka setelah Sienna mengizinkan.Marta memimpin rombongan untuk masuk ke dalam kamar utama kekaisaran. Di belakang pelayan muda itu, berbaris tiga gadis muda yang baru saja diangkat menjadi dayang resmi Permaisuri, Lady Elizabeth, Lady Alice, dan Lady Lesley. Diikuti oleh beberapa pelayan istana tingkat rendah di barisan paling belakang.Sienna bangkit dari ranjang dengan langkah pelan yang sengaja menyembunyikan rasa pegal di sekujur tubuhnya, lalu berjalan menuju meja rias. Tanpa perlu diberi perintah dua kali, tugas segera dibagi dengan rapi. Para pelayan tingkat rendah langsung bergerak cepat melakukan pekerjaan berat, mengganti seprai yang kusut, membe
Lucian tidak menunggu jawaban lagi. Bibirnya yang panas langsung menempel pada kulit paha bagian dalam Sienna yang sudah gemetar hebat, menelusuri ke atas dengan lambat, dengan gerakan yang sengaja dibuat menyiksa. Setiap kecupan meninggalkan jejak basah yang membakar, hingga akhirnya lidahnya menyentuh titik paling sensitif di antara kedua kaki istrinya yang terbuka lebar.“Ah!” jerit kecil lolos dari bibir Sienna tanpa bisa ditahan. Tubuhnya mengejang hebat, tangannya mencengkeram pinggiran meja rias. Pandangannya yang kabur terpaksa terpaku pada cermin di depannya, pada wajahnya sendiri yang sudah memerah hebat, serta bibirnya yang terbuka dan mengeluarkan napas tersengal.“Lihat.” geram Lucian diantara sapuan lidahnya pada tubuh Sienna. Suaranya bergetar karena amarah yang masih membara, tapi sentuhannya justru semakin lembut. Seolah tubuhnya tetap ingin memberikan yang terbaik untuk istrinya. “Lihat wajahmu, Sienna. Ini yang kau inginkan, bukan? Pewari takhta. Maka lihat bagai
Tali sutra gaun tidur Sienna terlepas, membuat bagian bahu gaun yang ia kenakan melonggar dan merosot turun hingga sebatas dadanya.Permukaan kaca yang terasa dingin di pipinya terasa sangat kontras dengan panasnya dada bidang suaminya yang menekan punggung Sienna. Lucian mengurungnya sepenuhnya, tidak menyisakan satupun celah bagi Sienna untuk melarikan diri dari konfrontasi ini.Sienna memejamkan matanya rapat-rapat. Ia memalingkan wajah ke samping, bersikeras menatap sudut gelap ruangan dari balik bulu matanya yang bergetar. Ia menolak menatap ke depan. Ia tidak ingin melihat wajah seperti apa yang ia buat setiap kali suaminya menyentuhnya."Buka matamu, Sienna." bisik Lucian dengan suara serak. Hembusan napasnya yang beraroma anggur pekat menerpa tengkuk Sienna, mengirimkan sensasi menggelitik yang membuat perut sang Permaisuri terasa aneh."Tidak..." Sienna menggeleng pelan, suaranya terdengar seperti rintihan tertahan. Ia meremas tepian meja rias dengan kuat, mati-matian memper
Belum sempat Sienna bereaksi pada dorongan itu, Lucian menjatuhkan tubuh besarnya ke atas tubuh Sienna, mengurung wanita itu sepenuhnya di bawah kungkungannya.Berat tubuh suaminya menekan tubuhnya, sementara kedua tangan Lucian bertumpu di sisi kepala Sienna, mengunci segala celah baginya untuk melarikan diri atau membuang muka.Sienna menahan napas. Jarak di antara wajah mereka kini hanya tersisa beberapa senti. Mata merah Lucian yang biasanya menatapnya dengan penuh pemujaan, kini menatap lurus ke dalam mata biru Sienna dengan keputusasaan dan kemarahan yang tertahan.."Bagaimana kau bisa terus berpura-pura tidak tahu siapa yang kubicarakan?" geram Lucian tepat di depan bibir Sienna, napasnya yang panas menerpa kulit wajah istrinya.Tangan Lucian yang menumpu di kasur terkepal kuat hingga meremas seprai sutra di bawah mereka. Sorot matanya menelanjangi setiap kebohongan yang terus Sienna bangun.."Apa racun yang diberikan Arthur juga telah merusak hati nuranimu?" desis Lucian, suar
Malam itu, berbeda dengan hari-hari lainnya, Lucian telah kembali ke kamar lebih dulu dibanding istrinya.Ketika Sienna melangkah masuk, pemandangan yang menyambutnya membuat langkahnya terhenti.Lucian duduk di sofa tunggal di dekat perapian yang menyala redup. Pria yang biasanya memancarkan aura penguasa yang tak tertembus itu kini tampak berantakan.Kemejanya dibiarkan terbuka di bagian kerah, dan raut wajahnya terlihat sangat kusut. Di tangannya terdapat sebuah gelas kristal berisi anggur merah, sementara sebotol anggur yang isinya sudah setengah kosong tergeletak di atas meja di sebelahnya.Hati Sienna berdenyut nyeri melihat suaminya dalam keadaan seperti itu. Ia tahu Lucian sedang disiksa oleh beban pik
Trak! Trak!Suara ketukan pangkal tombak yang beradu keras dengan lantai marmer tiba-tiba menggema dari balik pintu, menghentikan detak jantung setiap orang di ruangan itu seketika.Pintu ganda berlapis emas Aula Anggrek yang menjulang tinggi didorong terbuka lebar secara bersamaan oleh dua ksatria bersenjata lengkap.Hawa dingin seketika berhembus masuk, menyapu ruangan dan menghilangkan keangkuhan yang sedari tadi dipupuk oleh ketiga gadis tersebut.Seorang kepala pelayan istana melangkah masuk dengan wajah tegas, berdiri tegak di sisi pintu, dan menarik napas panjang."Yang Mulia Permaisuri Kekaisaran, telah tiba!" seru pria itu dengan suara
Sienna membulatkan matanya mendengar perkataan itu. Apa obat itu… membuat orang yang mengkonsumsinya jadi berbicara melantur?"Itu... itu berlebihan sekali...." ucap Sienna dengan dahi berkerut. "Anda tidak boleh mempertaruhkan nyawa semudah itu, Tuan Duke! Itu mengerikan!"Lucian terdiam sejenak.
"....Apa?"Air mata Sienna berhenti sepenuhnya, kesedihannya menguap begitu saja digantikan oleh kebingungan atas perkataan Lucian.Lucian tidak menjawab dengan kata-kata manis. Ia menarik tubuh mungil Sienna ke dalam pelukan erat. Ia membenamkan wajahnya di ceruk leher gadis itu, menghirup aroma
"Cara... lain?" bisik Sienna dengan napas tercekat.Lucian tidak menjawab dengan kata-kata. Sebagai gantinya, ia menyelipkan lengannya di bawah lutut dan punggung Sienna, dan mengangkat tubuh mungil itu dalam dengan gerakan cepat.“Ahh…” Sienna memekik tertahan, secara refleks mengalungkan kedua le
"Nona... apa Anda yakin?"Pelayan pribadi Alexandria bertanya dengan suara gemetar. Tangannya memegang lentera kecil, menerangi lorong sempit di balik dinding kastil yang biasanya hanya dilewati oleh tikus dan pelayan yang menuju kamar tuannya.Alexandria menatap pelayan itu dengan tajam, matanya b






