LOGINSinar matahari pagi musim semi utara menyusup masuk melalui celah gorden tebal berbahan beludru di kamar utama Paviliun Tamu, namun cahaya pucat itu sama sekali tidak mampu mengusir hawa dingin yang luar biasa pekat di dalam ruangan tersebut.Raja Alexander berdiri mematung di depan cermin perak berukuran besar, menatap pantulan dirinya sendiri dengan sorot mata yang kosong.Suara gemericik air memecah kesunyian yang mencekik saat pria itu mencelupkan kedua tangannya ke dalam baskom porselen di atas nakas. Ia menggosok sela-sela jarinya dengan sangat lambat. Air di dalam baskom itu bergoyang pelan, permukaannya yang semula jernih kini perlahan mengeruh, diwarnai oleh jejak merah muda pudar yang menguar bersama aroma amis besi yang sangat khas dan menyengat.Alexander mengangkat tangannya, meraih sehelai handuk putih bersih untuk mengeringkan kulitnya yang pucat. Ia menatap ke sekeliling kamarnya yang sunyi senyap.Biasanya, pada jam seperti ini, ajudan bertubuh besarnya sudah berdir
Dengan jemari yang sedikit kaku, Sienna membuka segel tali yang rapuh dan membentangkan gulungan perkamen lusuh tersebut. Matanya menelusuri deretan tinta yang tergores kasar dan berantakan di atas kertas. Detik pertama ia mengenali bentuk tulisan tangan itu, napas Sienna seketika terhenti. Rasa dingin yang tadi merayap di tengkuknya kini berubah menjadi sebuah kejut yang menjijikkan.Surat misterius itu berasal dari Baron Borgia. Ayah kandungnya.Sienna membaca setiap baris kalimat cengeng yang tertulis di sana dengan dada yang bergemuruh. Dalam suratnya, pria tua itu mengklaim bahwa dirinya saat ini sedang disekap dan terjerat utang nyawa yang sangat besar dengan seorang bangsawan gelap yang luar biasa berbahaya di ibu kota. Dengan kata-kata manis yang manipulatif, Baron Borgia memohon belas kasihan. Ia memohon agar Sienna, putri yang telah ia telantarkan dan jual seenaknya, mengirimkan pasukan bayangan atau sekantung penuh emas untuk menebusnya di sebuah lokasi pertemuan.“Sien
Keesokan paginya, aura dingin dan mematikan memenuhi ruang kerja pribadi Sang Kaisar. Pintu kayu mahoni berukir naga itu tertutup rapat, dijaga ketat oleh barisan Ksatria Bayangan elit di luarnya agar tidak ada satu pun percakapan yang bocor. Di dalam ruangan, Sienna duduk berdampingan dengan Lucian di depan meja kerja yang lebar. Tepat di seberang mereka, berdiri Damien, ajudan pribadi Lucian. "Raja Alexander saat ini memiliki kekebalan diplomatik yang absolut selama berada di dalam tembok istana kita," ucap Lucian dengan suara bariton yang berat dan sangat berbahaya. Matanya menyipit tajam menatap sebuah bidak catur yang melambangkan delegasi selatan di atas peta. "Kita tidak bisa memenggal kepalanya begitu saja tanpa memicu perang benua secara terbuka, yang hanya akan memakan korban dari pihak rakyat kita sendiri. Tapi, kita bisa melumpuhkan tangan kanannya dan memaksanya memperlihatkan wajah aslinya kepada publik."Sienna mengangguk perlahan, meremas gaunnya. Pikirannya kembal
Di dalam kereta kuda menuju istana kekaisaran, udara terasa begitu mencekik. Tangan besar Lucian menggenggam erat telapak tangan Sienna yang kini terasa sedingin es. Sementara itu, satu lengannya yang kokoh memeluk bahu sang istri, menarik tubuh ramping yang tengah bergetar samar itu untuk bersandar sepenuhnya pada dada bidangnya.Pikiran sang Kaisar terus berputar tajam di balik sepasang mata merah darahnya. Fakta kelam yang baru saja terungkap malam ini telah mengubah seluruh pandangan mengenai ancaman yang mereka hadapi.Alexander dari Eldoria tidak hanya sedang tergila-gila pada seorang wanita yang kebetulan memiliki kemiripan fisik dengan mendiang ratunya. Asal dari obsesi gila dan mematikan raja Eldoria itu adalah seorang wanita yang berbagi rahim, darah, dan wajah yang persis sama dengan Sienna. Saudari kembar istrinya.Realitas itu memuakkan sekaligus sangat berbahaya. Ikatan takdir yang bengkok ini berarti Alexander akan melihat Sienna bukan lagi sebagai sekadar 'pengganti
Mendengar cerita masa lalunya kembali diungkit, Baroness yang masih ditahan oleh ksatria di lantai kembali menjerit. Ia meronta, kembali meneriakkan makian dan menyalahkan Sienna atas segala kemalangan hidupnya. Mengutuk eksistensi Sienna yang terus hidup sementara anak kesayangannya harus meregang nyawa.Namun, kali ini Sienna tidak lagi tersentak oleh makian ibunya. Ia hanya berdiri mematung di tempatnya.Perlahan, seberkas air mata bening menetes dari pelupuk matanya, mengalir turun membasahi pipinya yang pucat. Tangisan tanpa suara itu memancarkan kepedihan akan nasib seorang bayi yang dikhianati oleh darah dagingnya sendiri.Sienna menunduk, menatap ibunya yang masih meronta dengan pandangan yang kabur oleh air mata. Rasa benci yang sedari tadi bersarang di hatinya perlahan tergantikan oleh rasa kasihan yang mendalam pada wanita tua yang telah ditipu seumur hidupnya ini."Ibu..." bisik Sienna pelan.Suaranya terdengar begitu rapuh dan serak, namun entah bagaimana mampu memotong
Baroness terdiam sejenak. Di bawah tatapan mata merah darah sang Kaisar yang mengintimidasi, wajah wanita paruh baya yang semula pucat pasi dan keriput itu perlahan berubah tegang. Ketakutannya seolah menguap, digantikan oleh sebuah emosi gelap yang telah berkarat selama lebih dari dua puluh tahun di dalam dadanya. Urat-urat di lehernya menonjol, dan wajahnya seketika dipenuhi oleh kemarahan yang meluap-luap."Apa maksud kalian berdua membahas itu sekarang?!"Suara Baroness menggema tajam, memecah keheningan yang mencekam di dinding-dinding batu kediaman itu. Ia mengangkat kepalanya, menatap lurus ke arah Lucian dan Sienna dengan dada yang naik-turun menahan emosi yang meledak.Sienna tersentak hebat. Tubuhnya secara refleks mencondongkan diri ke depan, menghancurkan postur tenangnya sebagai seorang permaisuri. Matanya membelalak lebar, mencari kebenaran di wajah wanita yang melahirkannya itu. Darahnya seakan berdesir cepat di telinganya."Ibu, apa maksud Ibu?!" panggil Sienna, suar
Sinar matahari pagi menembus tirai kamar tidur Sienna. Gadis itu duduk bersandar di tumpukan bantal, sementara tabib kastil kembali memeriksa pergelangan tangannya."Racunnya sudah bukan masalah lagi." gumam tabib itu sambil mengangguk-angguk pelan. "Penyembuhannya berjalan lebih cepat dari perkira
Tidak butuh waktu lama bagi Lucian untuk menyeberangi kastil menuju sayap barat. Langkah kakinya lebar dan cepat. Para ksatria yang mengikutinya harus setengah berlari untuk menyamakan langkah dengan amarah tuan mereka.Lucian tiba di depan pintu ganda kamar tamu mewah yang ditempati Alexandria. Ta
Suara langkah kaki berat menggema di lorong kastil, membelah keheningan mencekam yang memenuhi seluruh bangunan sejak tadi. Lucian telah kembali.Ia memacu kudanya tanpa henti begitu mendengar kabar kekacauan di pesta teh itu melalui surat yang dibawa oleh merpati. Ia juga memberikan sebuah perinta
Suasana di meja itu terasa semakin mencekik seiring berjalannya waktu. Sienna mencoba menyentuh cangkirnya tehnya setenang mungkin, namun tangannya sedikit gemetar. Sienna sudah pernah hadir di acara minum teh wanita bangsawan sebelumnya.Tapi kali ini, tekanan yang ia rasakan begitu memebani dadan






