LOGINBAB 45
Sinar matahari pagi menyelinap lewat celah gorden kamar kos, membentuk garis-garis emas yang menari pelan di atas bantal. Alarm yang berdering berisik memaksa Zea membuka mata, mengusir sisa kantuk yang masih menggantung di pelupuknya.Kepalanya memang terasa sedikit berat, tapi ada sesuatu yang berbeda di dadanya. Bukan sesak seperti kemarin. Bukan juga hampa. Melainkan semacam energi baru yang hangat dan pelan-pelan menguat. Seolah kabut emosi yang sempat menyeBAB 99 “Orang tua kamu selalu bilang kamu anak yang penurut, Ze. Tapi di mataku, belakangan ini kamu keliatan seperti pembangkang yang sangat keras kepala,” Arya memulai percakapan, suaranya tenang namun mengandung penghakiman yang tak terbantahkan. Zea terdiam sejenak, mengamati lekat sepotong timun yang akan disantapnya, lalu menjawab, “Aku punya alasan.” Ia lanjut mencocol timun ke dalam sambal terasi yang nikmat. Gerakannya santai terkesan cuek. Sebelah alis Arya naik, “Oh ya? Apa itu?” “Kalo soal aku yang berangkat nggak sama kamu, aku udah jelasin alasannya. Soal aku pergi duluan dari tempat wisata, itu karena aku nggak enak badan dan kepalaku sakit. Daripada ngerepotin kamu kan mending aku balik duluan.” Jelas Zea panjang. “Siapa bilang aku bakal ngerasa direpotin?” Arya bertanya kalem. Zea mengangkat bahu tak acuh.
BAB 98Malam peresmian Lentera Kafe yang seharusnya menjadi salah satu puncak kemenangan Arkan, seketika berubah menjadi panggung sandiwara yang menyesakkan.Setelah berhasil menenangkan badai histeria Naya di ruangannya, pesta tetap berlanjut, seolah-olah tak pernah terjadi apapun sebelumnya.Di tengah kerumunan tamu yang masih menyisakan bisik-bisik penasaran, Naya muncul kembali dengan penampilan yang sudah lebih rapi. Walaupun gaunnya tampak sedikit kusut, ujungnya kotor, tapi riasan wajahnya kembali sempurna meski tak paripurna seperti biasanya. Sekedar menyamarkan wajah sembabnya.Binar matanya memancarkan kepuasan dan kebahagiaan. Ia berdiri dengan anggun di samping Arkan, jemarinya menggamit lengan pria itu dengan posesif.Pak Wira, yang sejak awal merasa atmosfer sudah tidak sehat, segera berpamitan begitu melihat Arkan muncul. Ia tidak banyak bertanya, hanya memberikan tatapan penuh arti kepada Arkan sebelum beranjak p
BAB 97Suasana di dalam ruangan kerja pribadi Arkan terasa begitu mencekam, seolah oksigen di ruangan itu baru saja disedot habisDi luar, suara hiruk-pikuk peresmian kafe masih terdengar samar, namun di dalam sini, hanya ada suara napas Naya yang memburu dan detak jantung Arkan yang berpacu cepat.Naya berdiri hanya beberapa senti di depan Arkan. Matanya yang merah padam menatap tajam, mengunci manik mata Arkan“Lupa, Mas? Benar-benar sudah lupakah?” desis Naya. Suaranya rendah. Seperti racun yang disemprotkan ke udara.Arkan terdiam. Rahangnya mengeras hingga urat-urat di lehernya menegang. Ia ingin membantah, ingin mengusir wanita di depannya ini, namun lidahnya terasa kelu.“Tiga tahun lalu Mas. Waktu salah satu armada travel kamu kecelakaan di jalan tol?” Naya melanjutkan, suaranya kini naik satu oktaf, penuh dengan penekanan yang mengiris-iris sisa kekuatan Arkan.“Dan korbannya, anak pejabat, dia nyaris lumpu
BAB 96Kehangatan melodi Just Give Me a Reason masih menggantung di udara. Semua orang masih terfokus pada Arkan dan Zea, yang berdiri bersisian di atas panggung kecil itu. Pasangan duet dadakan yang sukses membius mereka, saat terdengar suara dentuman pintu.BRAKK!Pintu kaca Lentera Kafe terbanting menghantam dinding. Sosok Naya muncul dengan napas memburu dan mata yang merah padam. Gaun pesta yang ia kenakan tampak kusut, seolah ia baru saja berlari menembus badai. Ia menatap lurus ke arah panggung.“PUAS KAMU?! PUAS KAMU, ZEA?!Suara melengking Naya memotong suara tepuk tangan penonton dengan kasar. Semua orang di kafe itu tersentak. Para tamu, termasuk Pak Wira dan rekan-rekan tim Zea menoleh dengan wajah terperangah.Naya merangsek maju, mengabaikan beberapa staf yang mencoba menghalanginya. Ia menunjuk Zea dengan telunjuk yang gemetar hebat. “Dasar PELAKOR! Kamu pikir dengan pura-pura jadi rekan bisnis, kamu
BAB 95Cahaya lampu sorot kuning hangat di panggung kecil Lentera Kafe seolah mengunci sosok Zea. Di genggamannya, mikrofon itu terasa dingin, kontras dengan telapak tangannya yang mulai lembab karena gugup. Di bawah sana, puluhan pasang mata menatapnya, namun hanya satu pasang mata yang sanggup membuat dunianya seolah berhenti berputar, mata Arkan.Jantung Zea berdegup kencang. Lelaki itu berdiri lurus tak jauh di hadapannya, bersandar santai pada pilar, dengan aura yang begitu dominan namun tenang. Bibirnya membentuk senyum simpul. Tatapannya teduh sarat makna.Zea menarik napas panjang, mencoba mengisi paru-parunya dengan keberanian yang tersisa. Dengan satu anggukan kecil, ia memberikan isyarat pada pemain keyboard untuk memulai intro. Nada-nada melankolis yang akrab di telinga mulai mengalun lembut.Zea memilih sebuah lagu yang belakangan ini terus terngiang di kepalanya, seolah lirik-liriknya ditulis khusus untuk menggamb
BAB 94“Akhirnya.” Gumam Arkan pelan, nyaris berupa bisikan, sambil menatap pantulan dirinya di cermin. Setelan jas slim fit berwarna navy itu membalut tubuhnya dengan sempurna, menonjolkan bahunya yang tegap dan postur tubuhnya yang gagah.Ia merapikan kerah kemeja putih di balik jasnya, lalu memastikan jam tangan mahalnya terpasang dengan presisi di pergelangan tangan kanan, karena tangan kirinya masih memerlukan sedikit penjagaan pasca cidera, meski perbannya kini sudah lebih tipis dan tersembunyi di balik lengan jas. Rasa bangga yang membuncah perlahan menjalar di dadanya. Pria di dalam cermin itu bukan lagi Arkan yang dulu. Ia sedang menatap seorang pria matang, seorang pebisnis yang memiliki beberapa unit usaha yang cukup sukses, membuatnya cukup disegani.Dan hari ini adalah hari yang istimewa. Hari yang ia tunggu-tunggu. Hari launching kafe miliknya. Kafe yang ia beri nama “Lentera Kafe”.Nama itu bukan sekadar hiasan n







