Pagi itu, udara di Kota Nasan terasa lebih dingin dari biasanya.Bukan karena cuaca matahari tetap bersinar pucat di balik gedung-gedung batu tua, melainkan karena sesuatu yang menetap di dadaku sejak aku melangkah keluar dari mansion Moretti. Setelah sarapan yang berubah menjadi sandiwara kejam, setelah senyum palsu dan ancaman Matteo yang masih berdengung di telingaku, tubuhku bergerak seolah membawa beban ribuan ton.Mobil sedan hitam yang sama sudah menungguku di depan.Pintunya terbuka dengan gerakan mekanis, tanpa suara. Aku masuk dan duduk kaku, punggungku menempel pada jok kulit yang dingin. Begitu pintu tertutup, dunia luar seolah teredam. Hanya ada aku, napasku yang masih belum stabil, dan bayangan lubang peluru yang terus menyelinap ke pikiranku.Aku menarik napas panjang. Ancaman Matteo masih terasa begitu nyata, seolah ia duduk di hadapanku, mengulang kalimat itu dengan suara datar: Sekali saja ada rahasia yang keluar dari bibirmu…Aku mengepalkan tangan di pangkuan.Aku
Last Updated : 2026-01-08 Read more