Share

Bab 18 —

Author: Za_dibah
last update Last Updated: 2026-01-11 23:24:36

Mobil sedan hitam itu melaju membelah jalanan Kota Nasan yang mulai dipenuhi kesibukan pagi. Klakson bersahutan, pejalan kaki menepi, dan deretan toko mulai membuka pintu seperti rutinitas yang sudah dihafal dunia. Namun di dalam kabin mobil ini, suasananya terasa seperti peti mati, kedap suara, sempit, dan dipenuhi udara yang sulit dihirup.

Aku menyandarkan kepala ke kaca jendela yang dingin. Getaran halus dari mesin terasa sampai ke tulang pipiku. Pandanganku menelusuri bayangan toko roti, kios bunga, dan papan iklan yang melintas cepat, tapi semuanya terlihat buram. Bukan karena kaca, melainkan karena pikiranku menolak fokus pada apa pun selain satu suara yang terus menghantam kepalaku tanpa ampun.

“Mengambil jantung dan ginjal Julian…”

Suara Matteo. Ringan. Santai. Nyaris bercanda.

Ia mengucapkannya seolah-olah sedang membicarakan pemotongan daging di pasar pagi, bukan tentang seorang pria yang kemarin masih berdiri gugup di dapur restoranku. Seorang karyawan yang hanya bersal
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dua Kakak Tiriku Yang Posesif   Bab 20 — Keluarga Miller

    Aku berdiri di ambang pintu area VIP Le Noir lebih lama dari yang seharusnya, jemariku menggenggam sisi pintu kayu hitam itu seolah benda tersebut satu-satunya penyangga agar tubuhku tidak runtuh. Napasku terasa pendek, tertahan di tenggorokan, seperti ada tangan tak kasatmata yang mencekikku perlahan.Kata-kata pengawal bar Moretti yang baru saja menyampaikan pesan itu masih terngiang jelas di kepalaku.“Tamu dari kediaman utama, Nona. Mereka bilang… ini tidak bisa ditunda.”Kediaman utama.Dua kata yang selalu membawa rasa dingin ke tulang belakangku.Aku tahu betul, siapa pun yang datang membawa embel-embel itu tidak pernah sekadar ingin minum atau berbasa-basi. Mereka datang dengan pesan, dengan kepentingan, atau dengan peringatan—dan biasanya, semuanya berujung pada satu hal: pengingat bahwa aku bukan benar-benar bebas, meskipun aku memegang kunci bar ini atas namaku sendiri.Aku menarik napas dalam-dalam, memaksa diriku untuk berdiri tegak. Jika dunia Moretti mengajariku satu ha

  • Dua Kakak Tiriku Yang Posesif   Bab 19 — Bar 'Le Noir'

    Sepanjang siang itu, aku merasa seperti berjalan di dalam kabut. Aku menjalani rapat, menandatangani dokumen, memberi arahan pada staf restoran, dan mengangguk pada laporan-laporan yang dibacakan seolah semuanya normal. Namun pikiranku tertinggal di satu tempat, di dalam map hitam yang tadi pagi diletakkan begitu saja di hadapanku, seperti pisau yang ditinggalkan sengaja agar aku tahu ia bisa kembali kapan saja. Dominic tidak perlu datang sendiri. Ia tidak perlu mengangkat suara. Ia cukup mengirimkan bukti bahwa seluruh hidup orang lain bisa diringkus dalam satu map tipis, lalu meletakkannya tepat di jantung bisnis yang katanya adalah milikku.L’Eclat de Nasan Aku menatap layar laptop tanpa benar-benar membaca angka-angka di sana. Jemariku mengetuk meja pelan, berusaha mengusir ketegangan yang menetap di tengkuk. Setiap kali mataku terpejam, yang muncul bukan laporan keuangan, melainkan foto rumah elite Clarissa. Pagar besarnya. Jendela kamarnya. Jadwal sekolah anaknya. Aku memb

  • Dua Kakak Tiriku Yang Posesif   Bab 18 —

    Mobil sedan hitam itu melaju membelah jalanan Kota Nasan yang mulai dipenuhi kesibukan pagi. Klakson bersahutan, pejalan kaki menepi, dan deretan toko mulai membuka pintu seperti rutinitas yang sudah dihafal dunia. Namun di dalam kabin mobil ini, suasananya terasa seperti peti mati, kedap suara, sempit, dan dipenuhi udara yang sulit dihirup. Aku menyandarkan kepala ke kaca jendela yang dingin. Getaran halus dari mesin terasa sampai ke tulang pipiku. Pandanganku menelusuri bayangan toko roti, kios bunga, dan papan iklan yang melintas cepat, tapi semuanya terlihat buram. Bukan karena kaca, melainkan karena pikiranku menolak fokus pada apa pun selain satu suara yang terus menghantam kepalaku tanpa ampun. “Mengambil jantung dan ginjal Julian…” Suara Matteo. Ringan. Santai. Nyaris bercanda. Ia mengucapkannya seolah-olah sedang membicarakan pemotongan daging di pasar pagi, bukan tentang seorang pria yang kemarin masih berdiri gugup di dapur restoranku. Seorang karyawan yang hanya bersal

  • Dua Kakak Tiriku Yang Posesif   Bab 17 — Sarapan tidak pernah aman

    Aku terbangun jauh sebelum matahari benar-benar memutuskan untuk muncul. Bukan karena mimpi buruk, karena semalam aku bahkan tidak yakin sempat bermimpi, melainkan karena tubuhku menolak untuk terus berbaring. Ada sesuatu yang berdenyut di dadaku sejak aku membuka mata. Naluriku yang berbisik bahwa di rumah ini, tidur terlalu lama sama dengan membuka celah. Langit-langit kamar terlihat dingin dan asing. Terlalu tinggi. Terlalu bersih. Terlalu sunyi. Dan sunyi di mansion Moretti bukan ketenangan—melainkan jeda sebelum bahaya. Aku duduk perlahan di tepi ranjang. Kaki telanjangku menyentuh lantai marmer yang dinginnya langsung merayap ke tulang. Rasa dingin itu seperti pengingat kasar bahwa aku sepenuhnya terjaga. Tidak ada ruang untuk lengah. Malam kemarin masih melekat di kulitku.Nada rendah Dominic yang mengancam tanpa perlu berteriak masih menggema di kepalaku. Gigitan kecil Dominic yang lebih menyerupai cap kematian.Ancaman itu dingin, terukur, dan mematikan—ia berjanji akan

  • Dua Kakak Tiriku Yang Posesif   Bab 16 — Dua pria... Dua jenis ancaman

    Koridor lantai dua terasa lebih sempit dari biasanya. Lampu-lampu dinding redup, memantulkan bayangan panjang yang bergerak mengikuti langkah kakiku. Detak jantungku masih belum kembali normal sejak aku keluar dari perpustakaan, sejak suara Dominic menempel di telingaku seperti bisikan maut yang tak mau pergi. Dan sekarang… Matteo berdiri di depanku. Ia tidak bergerak saat aku mendekat. Tidak menyingkir. Tidak memberi jalan. Tubuhnya bersandar santai pada pilar marmer, satu kaki ditekuk, seolah ini hanyalah pertemuan biasa, bukan momen di mana napasku masih gemetar dan pikiranku porak-poranda. Rokok di jemarinya menyala redup. Bara apinya berpendar lembut, kontras dengan tatapan matanya yang gelap dan penuh perhitungan. Aku berhenti dua langkah darinya. Jarak itu terasa terlalu dekat. Terlalu intim. Terlalu berbahaya. Matteo mengangkat alisnya sedikit, senyum miring tersungging di bibirnya. Senyum yang tidak pernah benar-benar ramah, selalu ada sesuatu di baliknya. Sesuatu yan

  • Dua Kakak Tiriku Yang Posesif   Bab 15 — Ulangi kata-katamu Little Bird

    Suara Dominic tidak keras. Namun getarannya cukup untuk membuat bulu kudukku berdiri tegak. Aku membeku di tempat. Tidak mungkin. Jarakku dengannya hampir lima meter. Aku berbicara dengan suara yang sangat pelan, nyaris hanya bisikan yang seharusnya tenggelam di udara perpustakaan yang luas dan berat oleh aroma kayu tua. Tidak mungkin ia mendengarnya… kecuali ia memang selalu mendengar segalanya. Perlahan... sangat perlahan, aku menoleh ke belakang. Dominic sudah mendongak. Ia meletakkan penanya di atas meja kayu ek antik itu dengan gerakan yang tenang dan terukur. Bunyi denting kecil ketika logam pena menyentuh permukaan meja terdengar terlalu nyaring di telingaku. Seperti lonceng kematian yang baru saja dibunyikan. Kacamata emasnya dilepas, lalu diletakkan di samping gelas berisi cairan amber yang kini tinggal sisa di dasar kaca. Ia tidak lagi terlihat sebagai pria dingin yang sibuk membaca laporan.Ia tidak lagi terlihat acuh tak acuh. Tatapan mata abu-abu peraknya kini t

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status