Home / Mafia / Dua Kakak Tiriku Yang Posesif / Bab 11 — Sebuah jebakan.

Share

Bab 11 — Sebuah jebakan.

Author: Za_dibah
last update publish date: 2026-01-08 23:59:17

Pagi itu, udara di Kota Nasan terasa lebih dingin dari biasanya.

Bukan karena cuaca matahari tetap bersinar pucat di balik gedung-gedung batu tua, melainkan karena sesuatu yang menetap di dadaku sejak aku melangkah keluar dari mansion Moretti. Setelah sarapan yang berubah menjadi sandiwara kejam, setelah senyum palsu dan ancaman Matteo yang masih berdengung di telingaku, tubuhku bergerak seolah membawa beban ribuan ton.

Mobil sedan hitam yang sama sudah menungguku di depan.

Pintunya terbuka den
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dua Kakak Tiriku Yang Posesif   Bab 321 — Menjaga jarak

    Di sisi lain, saat bibirnya masih menempel lembut di perut Nadine, suara hati Dominic berteriak pilu dalam kesunyian. ​'Maafkan Ayah, Nak... Maafkan Ayah yang sudah membuat ibumu menderita selama ini,' bisik Dominic dalam batinnya, meratapi dosa besar yang baru saja terungkap. 'Aku bersumpah demi bernapasnya nyawaku, tak akan ada lagi yang boleh menyakiti kalian. Ayah akan melindungi dan memberi rasa aman untuk kalian berdua.' ​Nadine berusaha merapatkan bibirnya yang bergetar. Rasa canggung dan cemas akan batas hubungan mereka memaksa wanita itu memalingkan wajah, meski matanya sudah basah oleh genangan air mata. ​Tiba-tiba, Dominic berdiri dan menarik tubuh Nadine ke dalam pelukannya. Pria itu memeluk Nadine begitu erat, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher wanita itu. ​"K-kak..." bisik Nadine bergetar. ​"Hanya sebentar..." potong Dominic lirih dengan suara pecah yang menahan isak. "Hanya sebentar saja... biarkan seperti ini, Nadine..." ​Dekapan Dominic terasa makin rap

  • Dua Kakak Tiriku Yang Posesif   Bab 320 — Maafkan aku

    ​Dominic melangkah cepat menelusuri selasar menuju taman belakang. Napasnya masih terasa berat, membawa tumpukan penyesalan yang membakar dadanya. Namun, begitu matanya menyapu sekeliling area taman, sosok yang dicarinya sama sekali tidak terlihat. Kursi kayu tempat biasa Nadine duduk sepi, hanya suaravangin yang berembus pelan. ​Pandangan Dominic terhenti pada seorang pelayan paruh baya yang tengah menyiram tanaman bunga tak jauh dari gazebo. Dominic mengikis jarak dengan langkah tegap. ​Pelayan itu tersentak kaget melihat kedatangan tuannya. Serta-merta ia menundukkan kepala penuh hormat. "T-Tuan Muda..." ​"Di mana Nadine?" tanya Dominic singkat, nadanya datar namun tak bisa menyembunyikan ketergesaan. ​"Nona Nadine sudah dari tadi kembali ke atas, Tuan Muda. Beliau kembali ke kamarnya," jawab pelayan itu cemas. ​Tanpa membuang kata, Dominic langsung membalikkan badan. Langkah kakinya berdentang lebar memotong koridor, kembali menuju lantai utama. ​Di

  • Dua Kakak Tiriku Yang Posesif   Bab 319 — Tiga hari lagi

    ​Dominic berdiri membeku di depan layar monitor. Pandangannya masih terkunci penuh pada sosok gadis berpakaian koyak yang berjalan tertatih dalam rekaman video itu.​ Di sampingnya, Victor berdiri tegang dengan wajah cemas. Sebagai orang yang menemukan rekaman itu lebih dulu, Victor sudah tahu betul siapa sosok di dalam video tersebut. Ia hanya bisa menahan napas, khawatir melihat emosi mendalam yang mulai membakar tuannya.​ "Tuan Muda..." bisik Victor pelan, suaranya sarat akan kekhawatiran.​ Badai emosi bergejolak hebat di dalam dada Dominic. Rasa bersalah yang meremukkan, penyesalan mendalam, sekaligus rasa lega yang gila bertabrakan tanpa ampun. Gadis yang disentuhnya malam itu... gadis yang kesuciannya ia renggut hingga menanggung trauma berat... bukan orang asing. Janin yang ada di dalam rahim Nadine saat ini adalah darah dagingnya sendiri.​ Namun di saat yang sama, kenyataan itu menghantam kesadarannya bagai cambukan keras: dialah monster yang telah menghancurkan hidup wanit

  • Dua Kakak Tiriku Yang Posesif   Bab 318 — Dia adalah Nadine

    Victor menelan ludah dengan susah payah. Ia mengabaikan teguran itu, melangkah cepat mendekati meja kerja Dominic dan meletakkan flashdisk tersebut. ​"Maaf, Tuan Muda..." suara Victor terdengar serak dan panik. "Penyelidikan soal pelayan klub malam Le Noir dan saksi kunci malam di Hotel Saint Aurora dua setengah bulan lalu... sudah terdeteksi." ​Gerakan Dominic membeku seketika. Sorot mata abu-abunya mendadak tajam. ​Ingatan Dominic langsung melayang pada Martha Rosa, saksi kunci yang tewas diracun sebelum sempat menyebutkan nama gadis pelayan Le Noir di kamar 404. Selama ini, Dominic mengira pencarian itu akan terhenti total. ​"Kau sudah menemukan bukti siapa gadis itu?" tanya Dominic, suaranya mendadak berat dan menuntut. ​"Bukan sekadar data cetak, Tuan Muda. Tapi rekaman video," ujar Victor cepat. Ia segera menyambungkan flashdisk itu ke komputer di meja kerja Dominic. ​"Salah satu kolega VIP keluarga Moretti dari Prancis sedang menginap di hotel tepat di seberang lorong kam

  • Dua Kakak Tiriku Yang Posesif   Bab 317 — Mengubur rahasia kelam

    ​Dua minggu berlalu sejak malam yang mencekam itu. ​Kondisi fisik Nadine berangsur-angsur membaik. Ketakutan akan keguguran perlahan surut seiring berjalannya waktu dan perawatan medis yang dijalaninya secara intensif. Nadine memilih tidak lagi meratapi nasibnya secara berlebihan. Demi kesehatan janin di rahimnya, dan demi rasa hormatnya pada Sebastian, pria yang sudah menganggapnya seperti putri sendiri, Nadine memutuskan untuk melapangkan dada. Ia mengubur dalam-dalam rahasia kelam tentang siapa ayah kandung dari anak ini. Biarlah kebenaran itu membeku selamanya. Ia tak sanggup membayangkan jika Sebastian tahu dan membenci janin yang tak berdosa ini. Baginya, menyetujui pertunangannya dengan Lukas Vance, yang kini sengaja ditunda oleh Sebastian hingga fisiknya pulih total adalah keputusan paling tepat dan masuk akal. ​Dengan menikah dengan Lukas, rahasia ini akan terkubur selamanya. Sebastian tak akan pernah tahu dan tak perlu membenci anak ini. Selain itu, statusnya sebagai

  • Dua Kakak Tiriku Yang Posesif   Bab 316 — Rasa ini seharusnya tak pernah ada

    Dominic mengamati interaksi itu dari sudut ruangan dalam diam. Ada sedikit kepuasan liar yang sempat mencuat di dadanya saat melihat reaksi Nadine pada Lukas, namun ia dengan cepat menekannya. Melihat Nadine seperti ini, bukan bentuk kemenangan yang ia inginkan. ​Begitu Lukas melangkah keluar kamar, Sebastian menoleh ke arah Dominic. Tatapan pria tua itu mengeras. ​"Kau juga harus tahu diri, Dominic," tegur Sebastian dengan nada penuh penekanan. ​Dominic mengangkat alisnya dingin. "Maksud Ayah?" ​"Nadine sedang sangat rapuh," balas Sebastian pelan namun menekan. "Jangan makin memperkeruh keadaannya dengan obsesimu." ​Mata abu-abu Dominic berkilat tajam. "Aku tahu batasanku." ​"Tahu?" Sebastian terkekeh sinis. "Cara yang kau sebut 'melindungi' itu... bagi Nadine tak ubahnya seperti cara mengurungnya di dalam sangkar." ​Kalimat itu menghantam dada Dominic dengan keras. Tangannya mengepal kuat di sisi tubuh, namun ta

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status