Setelah bertemu Raka, Elvano langsung kembali ke penthouse.Ia juga tidak mengerti. Sejak pagi tadi, rasanya penthouse jadi tempat yang ingin segera ia datangi lagi.Padahal dulu, tempat itu sekadar tempatnya untuk beristirahat, bukan tempat untuk pulang.Karena itu, langkahnya tanpa sadar sedikit lebih cepat saat memasuki unit tersebut.Tangannya membawah sebuah kantong belanja besar—kopi botol, beberapa roti, dan camilan ringan yang sempat ia beli di minimarket saat perjalanan pulang tadi. Biasanya ia tidak terlalu memperhatikan hal seperti ini, tetapi tiba-tiba saja ia teringat Acha, sehingga semua itu terasa perlu.Mungkin Acha akan butuh, pikirnya singkat.Pintu penthouse di belakangnya tertutup dengan suara pelan.“Acha,” panggilnya sambil melepas sepatu dan meletakkannya rapi di rak.Tidak ada jawaban.Langkah Elvano berhenti sejenak di ambang ruang tamu.Sofa tampak rapi seperti tidak pernah disentuh. Tidak ada tanda seseorang baru saja duduk di sana. Penthouse itu tetap sep
Read more