Share

Bab 181

Author: Kharamiza
last update publish date: 2026-06-18 21:03:35

Elvano tak segera menjawab pertanyaan dari Acha.

Meski begitu, tatapannya tetap tertuju pada wanita itu, tenang dan sulit ditebak seperti biasanya.

Menyadari Elvano terus menatapnya, Acha cepat-cepat menunduk. Ia selalu tak bisa menatap wajah Elvano lama-lama karena itu akan membuatnya gugup setengah mati.

“Biarkan saja.” Elvano menjawab ringan pada akhirnya.

Acha sampai berkedip pelan.

Ia nyaris tidak percaya dengan jawaban yang baru saja didengarnya.

Biarkan saja?

Seenteng itu dia mengataka
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Riska Hayati
boom up dong thor
goodnovel comment avatar
Goodnovel Awesomegirl
author emangnya 1 aja sih..emmm
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 219

    Entah apa masalah pria itu sampai hampir dua jam setelah waktu yang seharusnya mereka gunakan untuk makan malam bersama, baru dia datang ke kantor untuk menjemputnya.Tatapan Acha masih tertahan pada pesan pertama sebelum perlahan turun ke pesan berikutnya.[Elvano: Kamu sudah pulang, ya?]Acha masih diam.Barangkali setelah datang ke kantor dan tidak menemukan dirinya di sana, Elvano mulai mencarinya.Matanya kembali menyapu pesan Elvano yang lain.[Elvano: Saya minta maaf, Acha.][Elvano: Tolong kabari saya kalau sudah membaca pesan saya.]Acha menggigit bibir bawahnya.Entah kenapa, membaca pesan-pesan itu membuat dadanya sedikit lebih lega. Setidaknya, Elvano mencarinya.Itu saja sudah cukup, kan?Berarti pria itu masih merasa bersalah setelah membuatnya menunggu selama itu.Namun, rasa lega tersebut hanya bertahan beberapa detik sebelum kembali ditekan Acha. Bagaimanapun juga, ia tidak bisa mengabaikan satu fakta yang sejak semalam terus berputar di kepalanya.Elvano tidak datang

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 218

    Esther juga terlihat tak kalah terkejut dengan keberadaan Acha. Namun, keterkejutan itu hanya berlangsung sesaat sebelum ekspresinya kembali normal.Ia segera menghampiri Acha sambil tersenyum.“Kak Acha lembur, ya? Baru pulang jam segini?” tanyanya sopan.Acha mengangguk kikuk. “Iya.”Tidak mungkin juga ia mengatakan kalau sebenarnya ia sedang menunggu Elvano menjemputnya.Apalagi setelah pria itu tidak muncul dan ponselnya bahkan tidak aktif.Mengingatnya saja membuat Acha merasa malu sendiri, seperti hanya dirinya yang terlalu berharap di sini.“Oh.” Esther mengangguk kecil.Beberapa detik berlalu. Acha hanya meliriknya. Ada sesuatu dari wajah Esther yang membuatnya sedikit penasaran.“Kamu sendiri bukannya sudah pulang dari tadi?” tanyanya dengan kening mengerut tipis. “Kenapa masih di sini?”Esther sempat terdiam. Matanya bergerak cepat ke arah gedung, seolah mencari sesuatu, sebelum kembali menatap Acha.“Oh, itu ... ada barang yang ketinggalan, Kak,” katanya sambil menunjuk ke

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 217

    Acha menatap foto itu di ponselnya sekali lagi. Dadanya yang sudah terasa tak nyaman sejak tadi semakin sesak.Hanya saja, ia seperti masih menolak fakta. Toh, itu rasanya tidak mungkin.Mungkin saja orang ini sengaja mengirim foto untuk membuatnya salah paham pada Elvano. Foto bisa diambil kapan saja, bukan? Bahkan dua orang yang terlihat sedang makan malam bersama belum tentu memang sengaja bertemu untuk makan malam. Siapa tahu mereka hanya kebetulan bertemu.Acha menarik napas panjang. Tentu saja ia tidak boleh langsung percaya begitu saja, kan.Dengan ibu jari yang sedikit kaku, Acha keluar dari ruang percakapan itu, kemudian beralih ke kontak Elvano.Ia ingin memastikan sendiri.Segera saja, ia menekan tombol panggilan.Namun, beberapa detik berlalu. Tak ada tanda-tanda panggilan tersambung sampai akhirnya terputus sendiri.Kening Acha pun mengerut tipis. Seolah tak ingin menyerah, ia mencoba sekali lagi. Namun, nihil. Acha menurunkan ponselnya perlahan.“Dia ke mana, sih, sebe

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 216

    Jempol Acha masih menggantung di atas layar. Ia menunggu beberapa detik, berharap tanda centang itu berubah. Namun, layar ponselnya tetap sama. Ah, tapi bisa jadi sinyal Elvano sedang bermasalah. Atau mungkin pria itu masih sibuk bersama klien. Acha akhirnya memasukkan ponselnya ke dalam tas. Ia bangkit dari sofa, lalu berjalan beberapa langkah mendekati pintu kaca. Dari sana, halaman depan gedung terlihat cukup jelas. Beberapa kendaraan masih berlalu-lalang, tetapi tak satu pun yang ia kenal. Acha kembali duduk di sofa. Setelah lima menit berlalu, ia lagi-lagi bangkit. Kali ini, ia berdiri lebih dekat dengan pintu, bahkan sempat menjulurkan leher untuk melihat ke arah jalan. Tetap tidak ada tanda-tanda Elvano segera datang. Acha mengembuskan napas panjang. Jam di pergelangan tangannya bahkan sudah menunjukkan hampir pukul sepuluh malam. “Elvano ke mana, sih?” tanyanya dengan nada yang mulai kesal sambil meraih ponselnya. Sayangnya, masih tak ada pesan ataupun panggi

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 215

    Butuh beberapa detik bagi Acha untuk mencerna apa yang baru saja terjadi. Kedua tangannya spontan bertumpu di dada pria itu agar tubuhnya tidak semakin menekan.Jarak wajah mereka yang dekat membuat Acha bisa melihat garis rahang Elvano dengan jelas, bahkan embusan napas pria itu sesekali menyapu wajahnya.Jantung Acha mendadak berdegup tidak karuan.Ini tidak bisa dibiarkan.Ia buru-buru mengangkat tubuhnya, hendak menyingkir. Namun, baru saja lututnya bergeser, tangan Elvano sudah lebih dulu melingkar di pinggangnya.“Eh?”Dalam satu gerakan, Elvano memutar tubuh Acha hingga kini punggungnya justru menyentuh kasur.Pria itu berada tepat di atasnya.Acha sontak membeku. Tarikan napasnya bahkan seperti tertahan di tenggorokan.“El … kamu mau ngapain?” tanyanya dengan suara bergetar.Alih-alih menjawab, pria itu justru mengangkat tangannya, lalu menyentuh pipi Acha dengan ibu jarinya.Acha sampai menelan ludahnya kuat-kuat saat Elvano menyentuh pipinya.“Saya suka dibangunkan seperti i

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 214

    Acha menekan beberapa angka pada panel pintu penthouse. Begitu terdengar bunyi bip, pintu akhirnya terbuka. Ia masuk dengan langkah lelah, lalu menutup pintu di belakangnya dengan gerakan pelan. Sepatu hak tingginya segera dilepas dan dirapikan ke rak di dekat pintu. “Huh, capek banget hari ini,” gumamnya sambil mengembuskan napas panjang. Lampu ruang tengah dinyalakan, sebelum ia berjalan menuju kamar sambil sesekali menarik ujung gaunnya yang masih menyisakan noda merah. Ah, rasanya setiap kali bertemu sang mantan, selalu saja ada kesialan yang dialaminya. Hari ini, ia bahkan nyaris dipermalukan di depan umum hanya gara-gara tunangan Rafael cemburu buta padanya. Padahal amit-amit. Untung saja ada Elvano yang membelanya. Tanpa membuang waktu, Acha segera berganti pakaian, membersihkan wajah, lalu merebahkan tubuhnya di kasur. Niatnya hanya satu. Tentu saja ingin istirahat dengan tenang setelah hari yang sial ini. Paling tidak, tidur nyenyak karena besok masih harus beker

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 6

    Acha dan Elvano sama-sama tersentak saat suara Raka memecah ketegangan di antara mereka. Elvano melangkah mundur dengan perlahan. Wajahnya datar dan tenang, seakan kejadian tadi tidak berarti apa-apa untuknya. Sangat berkebalikan dengan Acha yang jantungnya berdegup kencang dan wajahnya yang tiba-

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 5

    Hari itu, untungnya berakhir tanpa banyak drama. Namun, rasa lelah tetap mengendap di dada Acha, seperti beban yang tiada habisnya. Sejak tiba di kantor pukul 07.30 pagi hingga pulang menjelang 17.30, ia nyaris tak benar-benar berhenti bergerak. Selain jeda makan siang yang singkat, waktunya habi

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 2

    Jantungnya berdetak lebih kencang. Pertanyaan itu, benar-benar konyol! Ia menahan rasa kesal yang sudah naik ke ubun-ubun, berusaha tetap tenang di hadapan tatapan dingin Elvano. Sambil menahan napas yang hampir tersengal, Acha menjawab tegas, “Maaf, saya rasa pertanyaan ini tidak relevan dengan p

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 1

    “Astaga, kenapa macet begini?!” Acha menggerutu sebal saat pengemudi ojeknya menepikan motor. Matanya refleks melirik jam.“Jalan depan ditutup, Mbak,” katanya, “ada truk terguling. Kita harus muter jauh. Kalau nunggu, malah lebih lama.”Acha menegakkan tubuh. Hanya bisa menghela napas panjang, men

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status