Se connecterMeski sudah selesai sarapan sejak beberapa saat lalu, Elvano masih duduk di meja makan.
Pandangannya sempat jatuh pada mangkuk bubur di depannya yang sudah kosong sebelum tanpa sadar bergeser ke sosok Acha di seberang meja.Wanita itu masih menikmati sarapannya. Buburnya bahkan belum berkurang banyak sejak beberapa menit lalu.Suasana menjadi lebih hening beberapa saat.Namun, entah sejak kapan, keheningan di penthouse itu terasa berbeda.Tak lagiAcha baru keluar dari pintu utama apartemen Dina pagi itu sambil merapikan rambutnya. Sesekali, ia melirik jam di pergelangan tangannya.Ia masih punya cukup waktu untuk berangkat ke kantor, meski nyalinya sedikit menyusut. Ia belum tahu harus bagaimana bersikap saat bertemu Elvano nanti di kantor setelah semalam ia memilih tak datang ke restoran.Baru saja meraih ponsel untuk memesan taksi online, suara klakson terdengar dari arah jalan, menghentikan aktivitasnya. Acha refleks menoleh dengan satu alis terangkat. Sebuah mobil melaju ke arahnya.Keningnya berkerut tajam saat matanya langsung mengenali mobil tersebut. Itu mobil milik Elvano. Kenapa ada di sini? Di saat yang sama, dadanya tiba-tiba terasa sesak.Terlebih saat ia lagi-lagi mengingat semalam, ketika ia tidak datang ke restoran yang sudah dipersiapkan pria itu. Padahal Elvano sudah mengirimkan alamat dan memintanya datang pukul delapan malam.Acha menunduk sebentar.Sejujurnya, ia memang sengaja tidak datang.Bukan karena
Raka tampak masih menunggu jawaban, tetapi Elvano hanya berdiri diam di tempatnya. Tatapannya tetap tertuju pada pintu masuk restoran, seolah masih berharap seseorang akan muncul dari sana.Beberapa detik kemudian, ia akhirnya menggeleng pelan.“Saya masih mau di sini.”“Pak?”“Kalau Acha datang setelah saya pergi, bagaimana?”Raka terdiam, seperti langsung kehilangan kata-kata untuk membalas.Elvano kembali melihat ke arah pintu masuk.“Kalau dia datang dan saya nggak ada, itu berarti saya mengulang kesalahan yang sama.”Raka hanya bisa menghela napas berat. Memberikan saran apa pun sepertinya tidak akan ada yang berguna sekarang. “Baik, Pak.”Waktu terus berjalan.Jam bahkan sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, tetapi Elvano masih mondar-mandir dari meja ke jendela.Sesekali ia duduk, lalu kembali berdiri beberapa menit kemudian.Kotak cincin yang sejak tadi berada di atas meja pun sudah beberapa kali berpindah tempat.Raka sendiri memilih duduk di kursi lain sambil memperhatikan
Sementara itu, di lain tempat, Elvano sudah tiba di restoran yang telah ia persiapkan sejak beberapa hari lalu.Berbeda dari biasanya, wajah pria itu terlihat lebih ringan. Bahkan ada senyum tipis yang sesekali muncul tanpa ia sadari.Malam ini seharusnya menjadi malam yang bahagia.Toh, Elvano sudah menyewa seluruh lantai restoran tersebut agar tidak ada orang lain yang mengganggu rencananya. Meja makan telah ditata dengan dekorasi romantis. Di atasnya terdapat rangkaian bunga yang tentunya juga sudah disiapkan sesuai perintahnya.Semuanya sudah tertata dengan sempurna.Tinggal menunggu Acha datang.Sayangnya, menit berganti menit, wanita itu tak kunjung menampakkan batang hidungnya.Senyum di wajah Elvano pun perlahan menghilang saat pria itu sesekali melirik jam tangannya. Sudah pukul delapan lewat tiga puluh menit. Restoran yang dipilihnya sengaja tidak terlalu jauh dari tempat Acha berada. Seharusnya wanita itu sudah datang sekarang, kan?Elvano mengambil ponsel dari atas meja,
Acha sempat meremas pahanya sendiri ketika pertanyaan itu terlontar begitu tiba-tiba dari mulut Elvano. Ia belum menangkap maksud pria itu menanyakan kegiatannya. Bibir bawahnya digigit pelan sebelum akhirnya Acha menggeleng. “Nggak ada, Pak,” katanya kemudian. “Kenapa?” Elvano menatapnya beberapa saat. “Makan malam sama saya,” ujar pria itu. Acha terdiam. Ajakan sederhana itu entah kenapa membuat dadanya kembali berdebar. “Makan malam?” tanyanya, nyaris tak percaya. “Iya,” jawab Elvano singkat. “Kita makan malam untuk mengganti hari kemarin yang batal.” Acha tidak segera menjawab. Ada sesuatu yang terasa aneh di dadanya mendengar kalimat itu. Bukan hanya karena Elvano tiba-tiba mengajaknya makan malam, tetapi juga karena pria itu masih mengingat malam yang gagal mereka habiskan bersama. Bukankah Acha sudah berusaha melupakan kejadian itu? Lantas, kenapa sekarang Elvano justru mengungkitnya lagi? “Saya sudah pesan tempat di salah satu restoran,” ucap Elvano lagi. “Nanti sa
Acha baru saja membuka dan meletakkan makanan kiriman Elvano ketika terdengar suara seseorang menekan PIN apartemen dari luar.Tak lama kemudian, pintu terbuka. Dina dan Celine masuk sambil membawa beberapa kantong makanan.“Eh, kamu habis GoFood, Cha?” tanya Dina begitu melihat makanan di atas meja.Acha menggeleng kecil.“Nggak. Ini dikirimin Elvano,” katanya.Langkah Celine yang hendak meletakkan kantong bawaannya di meja langsung berhenti.“Elvano?” Ia memastikan.“Iya.”Dina yang sudah duduk di dekat Acha sambil mengeluarkan beberapa kotak makanan dari kantong ikut menoleh.“Loh, perhatian sekali dia.”Alih-alih ikut memuji, Celine malah mendengkus. “Halah. Pasti ada maunya itu orang.”Dina mengernyit bingung. “Maksudnya?”“Ya, apalagi?” Celine menghempaskan tubuhnya ke sofa sedikit lebih keras dari seharusnya. “Udah bikin Acha sakit hati, sekarang ngirim makanan. Biar apa? Biar Acha nggak benar-benar ninggalin dia. Toh, dia pasti sudah sadar Acha mulai ngejauh, kan?”“Cel .…”“B
Setelah menerima informasi yang sebenarnya tidak perlu ia ketahui itu, Acha malah jadi kepikiran soal Elvano.Apa yang sebenarnya terjadi pada pria itu?Rasa penasaran tersebut belum juga hilang ketika Acha segera keluar dari kamar. Ia memilih mengalihkan perhatian pada tayangan drama di televisi, berharap pikirannya juga bisa beralih.Sampai beberapa saat kemudian, ponselnya lagi-lagi berbunyi.Tadinya ia refleks melihat notifikasi karena mengira Dina atau Celine yang mengirim pesan untuknya. Ternyata bukan. Dan nama kontak yang terpampang di layar ponselnya membuatnya seketika tertegun.Jarinya sempat menggantung di atas layar sebelum akhirnya membuka pesan dari Elvano tersebut.[Elvano: Acha, bagaimana keadaanmu?]Acha mengerjap pelan.Saat kalimat sederhana itu seolah langsung membuatnya kehilangan kata-kata.Bukankah ia sudah berusaha menjauh dari pria itu? Lantas, kenapa Elvano masih menghubunginya dan menanyakan keadaannya seperti ini?Namun, tanpa sadar ia tetap mengetik bala
Acha dan Elvano sama-sama tersentak saat suara Raka memecah ketegangan di antara mereka. Elvano melangkah mundur dengan perlahan. Wajahnya datar dan tenang, seakan kejadian tadi tidak berarti apa-apa untuknya. Sangat berkebalikan dengan Acha yang jantungnya berdegup kencang dan wajahnya yang tiba-
Hari itu, untungnya berakhir tanpa banyak drama. Namun, rasa lelah tetap mengendap di dada Acha, seperti beban yang tiada habisnya. Sejak tiba di kantor pukul 07.30 pagi hingga pulang menjelang 17.30, ia nyaris tak benar-benar berhenti bergerak. Selain jeda makan siang yang singkat, waktunya habi
Melihat Elvano akhirnya meletakkan ponselnya di atas meja, Acha menarik napas kecil sebelum mengetuk pintu. “Masuk.”Suara Elvano terdengar datar seperti biasa.Acha melangkah masuk dan menghampiri meja kerja pria itu. Berkas yang sedari tadi ia pegang segera diletakkan di hadapan Elvano. “Pak, i
Cukup lama Acha menatap layar ponselnya setelah membaca email itu. Kalimat yang tertulis di sana terasa tak masuk di akalnya.Ia menjatuhkan tubuh ke sofa, bersandar lemas. Alih-alih bahagia, yang muncul pertama kali justru perasaan aneh. Harga dirinya seperti diinjak-injak saat interview tadi. Nam







